Scroll untuk baca artikel
Tanaman

Perbedaan Tanaman Hipogeal dan Epigeal

×

Perbedaan Tanaman Hipogeal dan Epigeal

Sebarkan artikel ini
Perbedaan Tanaman Hipogeal dan Epigeal

Perbedaan Tanaman Hipogeal dan Epigeal – Tanaman merupakan organisme yang mengalami berbagai proses dalam hidupnya, termasuk dalam tahap perkecambahan. Dalam proses perkecambahan biji, terdapat dua tipe utama, yaitu perkecambahan hipogeal dan epigeal.

Kedua tipe perkecambahan ini memiliki perbedaan penting dalam letak kotiledon dan pertumbuhan bibit. Artikel ini akan menjelaskan perbedaan tanaman hipogeal dan epigeal serta menyoroti beberapa contoh dan implikasinya.

Perbedaan Letak Kotiledon

Perbedaan mendasar antara perkecambahan hipogeal dan epigeal terletak pada letak kotiledon saat bibit berkecambah. Dalam perkecambahan epigeal, kotiledon muncul ke permukaan tanah. Ini berarti kotiledon akan terlihat di atas tanah setelah bibit berkecambah. Sebagai contoh, biji kacang hijau akan menghasilkan bibit dengan kotiledon yang terangkat di atas tanah.

Sebaliknya, perkecambahan hipogeal ditandai dengan kotiledon yang tetap berada di bawah permukaan tanah. Pada jenis perkecambahan ini, hipokotil yang bertanggung jawab atas pertumbuhan awal bibit. Biji jagung adalah salah satu contoh perkecambahan hipogeal, di mana hipokotil membentuk semacam tabung ke bawah untuk menjaga kotiledon tetap di dalam tanah.

Proses Pertumbuhan

Proses pertumbuhan dalam perkecambahan hipogeal dan epigeal juga memiliki perbedaan. Pada perkecambahan hipogeal, pertumbuhan hipokotil lebih dominan. Hipokotil akan membawa bibit ke atas tanah, sementara kotiledon tetap berada di bawah tanah. Dalam hal ini, hipokotil berfungsi sebagai struktur penopang bibit.

Di sisi lain, perkecambahan epigeal melibatkan pertumbuhan yang lebih aktif pada kotiledon. Hipokotil membentuk lengkungan yang membawa kotiledon ke atas tanah. Kotiledon pada perkecambahan epigeal memiliki peran yang lebih besar dalam fotosintesis awal setelah berkecambah.

Baca Juga!  Reformasi Agraria di Indonesia: Solusi Mengatasi Ketimpangan Lahan

Peran Kotiledon

Kotiledon memiliki peran penting dalam perkecambahan tanaman. Pada perkecambahan hipogeal, kotiledon berfungsi sebagai cadangan makanan. Di bawah tanah, kotiledon akan mengandung nutrisi yang diperlukan bibit untuk memulai pertumbuhan. Pada saat yang tepat, bibit akan menggunakan cadangan ini untuk tumbuh lebih besar dan kuat.

Sementara itu, pada perkecambahan epigeal, kotiledon tidak hanya berfungsi sebagai cadangan makanan. Setelah muncul ke permukaan tanah, kotiledon juga akan terlibat dalam fotosintesis awal. Proses ini membantu bibit memproduksi energi sendiri dari sinar matahari, yang penting untuk pertumbuhan yang lebih lanjut.

Contoh Tanaman

Terdapat contoh-contoh tanaman yang menerangkan perbedaan antara perkecambahan hipogeal dan epigeal. Kacang merah dan kacang hijau adalah contoh tanaman yang mengalami perkecambahan hipogeal. Pada saat berkecambah, kotiledon tetap berada di bawah tanah, dan hipokotil menjadi struktur utama yang mendorong bibit ke atas.

Sebaliknya, buncis dan jagung adalah contoh tanaman dengan perkecambahan epigeal. Dalam perkecambahan ini, kotiledon muncul di atas permukaan tanah setelah hipokotil membentuk lengkungan. Kotiledon pada tanaman ini tidak hanya berperan sebagai cadangan makanan, tetapi juga sebagai daun pertama yang akan melakukan fotosintesis.

Kesimpulan: Perbedaan Tanaman Hipogeal dan Epigeal

Perbedaan tanaman hipogeal dan epigeal terutama berkaitan dengan letak kotiledon saat berkecambah. Pada perkecambahan hipogeal, kotiledon tetap berada di bawah tanah, sementara pada perkecambahan epigeal, kotiledon muncul di atas tanah.

Selain itu, peran kotiledon dalam penyimpanan makanan dan fotosintesis juga menjadi pembeda antara kedua tipe perkecambahan ini. Mengetahui perbedaan ini penting dalam memahami proses perkecambahan tanaman dan dampaknya terhadap pertumbuhan awal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *