Sunan Drajat, atau yang memiliki nama asli Raden Qasim (juga dikenal sebagai Raden Syarifudin), adalah putra dari Sunan Ampel dan saudara kandung dari Sunan Bonang. Beliau dikenal sebagai Wali Songo yang paling berjiwa sosial — seorang ulama yang sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin. Sunan Drajat mendirikan Pesantren Dalem Duwur di Desa Drajat, Paciran, Lamongan, dan memimpin wilayah perdikan tersebut secara otonom selama 36 tahun di bawah Kesultanan Demak.
Biografi Sunan Drajat
Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1470 M. Beliau adalah putra dari Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Dewi Condrowati (Nyai Ageng Manila). Setelah menyelesaikan pendidikan di Pesantren Ampel Denta di bawah bimbingan ayahnya, Sunan Drajat melanjutkan belajar ke Cirebon di bawah bimbingan Sunan Gunung Jati.
Setelah menguasai ilmu agama, Raden Qasim memilih Desa Drajat di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, sebagai pusat dakwahnya. Kerajaan Demak memberikan wilayah ini sebagai tanah perdikan (daerah otonom) yang dikelola langsung oleh Sunan Drajat. Dengan kewenangan ini, beliau mampu menerapkan program-program sosial secara mandiri.
Atas keberhasilannya menyebarkan Islam dan mengentaskan kemiskinan, Raden Patah (Sultan Demak) memberinya gelar Sunan Mayang Madu pada tahun 1520 M.
Ajaran Sosial: Catur Piwulang dan Sap Tangga
Sunan Drajat memiliki keunikan dibandingkan Wali Songo lainnya: beliau mengutamakan kesejahteraan sosial sebelum menyampaikan ajaran agama. Filosofi ini terabadikan dalam ajaran Catur Piwulang (empat ajaran) dan Sap Tangga (tujuh tangga) yang terukir di kompleks makamnya.
Catur Piwulang (Empat Ajaran)
- Memangun Resep Teja Sing Sasomo — Selalu membuat senang hati orang lain
- Jroning Suka Luwih Luwih Esih — Dalam kesenangan harus tetap rendah hati
- Laku Sinau Wajib Kelakon — Ilmu yang dipelajari wajib diamalkan
- Mbulang Dumadi Omong Setiya — Selalu bersikap jujur dalam perkataan
Sap Tangga (Tujuh Tangga Kemakmuran)
Sap tangga Sunan Drajat berisi tujuh prinsip pengentasan kemiskinan:
- Mènèhana teken marang wong kang wuta — Memberikan tongkat kepada orang buta
- Mènèhana mangan marang wong kang luwé — Memberikan makanan kepada orang yang lapar
- Mènèhana busana marang wong kang wuda — Memberikan pakaian kepada orang yang telanjang
- Ngandhani wong kang lali — Mengingatkan orang yang lupa
- Èthèk-èthèki marang wong kang nggirisi — Mendekati orang yang iri
- Tanggap marang sapa kang nyuwun tulung — Merespons orang yang meminta pertolongan
- Nuruti marang wong kang mènèhi pethu — Mengikuti orang yang memberi nasihat baik
Peninggalan Sunan Drajat
Sunan Drajat wafat pada tahun 1522 M dan dimakamkan di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Kompleks makamnya menjadi salah satu destinasi wisata religi terpenting di Jawa Timur.
Museum Sunan Drajat
Di sebelah timur makam terdapat Museum Daerah Sunan Drajat yang diresmikan pada 1 Maret 1992 oleh Gubernur Jawa Timur. Museum ini menyimpan berbagai benda bersejarah peninggalan Sunan Drajat dan keluarganya, termasuk:
- Gamelan Singo Mengkok — Gamelan warisan Sunan Drajat yang digunakan untuk mengiringi tembang dakwah
- Batik Drajat — Kain batik khas peninggalan Sunan Drajat
- Daun Lontar — Naskah-naskah kuno berisi ajaran dan kidung
- Peralatan Perdagangan — Peralatan yang menunjukkan peran Sunan Drajat dalam ekonomi rakyat
Pesantren Dalem Duwur
Pesantren Drajat yang didirikan di atas bukit Dalem Duwur merupakan cikal bakal dari Pondok Pesantren Sunan Drajat yang berdiri kembali pada 7 September 1977 di Desa Banjarwati, Paciran. Pesantren ini dibangun di atas reruntuhan pesantren asli peninggalan Sunan Drajat.
Karya Sastra: Tembang Pangkur
Sunan Drajat dikenal sebagai pencipta tembang Macapat Pangkur — salah satu bentuk sastra Jawa yang digunakan sebagai media dakwah. Melalui tembang ini, ajaran Islam disampaikan dengan bahasa yang indah dan mudah diingat oleh masyarakat Jawa. Tembang-tembang karya Sunan Drajat masih dinyanyikan dan dilestarikan hingga saat ini.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Siapa nama asli Sunan Drajat?
Nama asli Sunan Drajat adalah Raden Qasim (juga dikenal sebagai Raden Syarifudin). Beliau adalah putra dari Sunan Ampel dan saudara kandung Sunan Bonang.
Di mana makam Sunan Drajat?
Makam Sunan Drajat berada di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Kompleks makam ini juga memiliki museum yang menyimpan benda-benda bersejarah.
Apa itu Catur Piwulang?
Catur Piwulang adalah empat ajaran Sunan Drajat tentang membuat orang lain senang, rendah hati dalam kesenangan, mengamalkan ilmu, dan selalu bersikap jujur.
Siapa orang tua Sunan Drajat?
Sunan Drajat adalah putra dari Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Dewi Condrowati. Beliau lahir dari keluarga yang sangat berpengaruh dalam jaringan Wali Songo.
Apa saja koleksi Museum Sunan Drajat?
Museum Sunan Drajat menyimpan Gamelan Singo Mengkok, batik khas Drajat, naskah daun lontar, serta berbagai peralatan bersejarah peninggalan Sunan Drajat dan keluarganya.