Read More
Memahami Kemiskinan Subjektif: Pengertian dan Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
Sosiologi

Memahami Kemiskinan Subjektif: Pengertian dan Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Apa itu kemiskinan subjektif? Cari tahu pengertian jenis kemiskinan yang berdasarkan persepsi ini, lengkap dengan penyebab dan contohnya di sekitar kita.

FE
Frans Eka
5 Okt 2025 Diperbarui 16 Des 2025 4 menit
Jadikan readmore.id sebagai preferensi terpercayamu di Google
Memahami Kemiskinan Subjektif: Pengertian dan Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Isi artikel

Bagaimana jika seseorang memiliki pendapatan yang cukup, rumah yang layak, dan mampu memenuhi semua kebutuhan dasarnya, tetapi ia tetap merasa dirinya "miskin"? Fenomena inilah yang disebut sebagai kemiskinan subjektif.

Berbeda dari jenis-jenis kemiskinan lain yang diukur dengan angka dan standar objektif, kemiskinan subjektif sepenuhnya bergantung pada persepsi dan perasaan individu terhadap kondisi ekonominya sendiri. Ini adalah kemiskinan dalam pikiran, yang tidak selalu sejalan dengan kenyataan.

Artikel ini akan mengupas lebih dalam tentang apa itu kemiskinan subjektif, faktor-faktor yang menyebabkannya, serta contoh-contoh yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian Kemiskinan Subjektif

Kemiskinan subjektif adalah sebuah kondisi di mana seseorang atau sebuah keluarga merasa bahwa kebutuhan hidup mereka belum tercukupi, meskipun secara objektif (berdasarkan data statistik seperti Garis Kemiskinan) mereka tidak tergolong miskin.

Dengan kata lain, kemiskinan ini bersifat personal dan didasarkan pada penilaian diri sendiri. Seseorang bisa saja memiliki pendapatan kelas menengah, tetapi jika ia merasa pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi standar hidup yang ia inginkan, maka ia mengalami kemiskinan subjektif.

Faktor Penyebab Kemiskinan Subjektif

Perasaan "kurang" ini tidak muncul tanpa alasan. Ada beberapa faktor psikologis dan sosial yang menjadi penyebab utamanya:

  1. Perbandingan Sosial (Social Comparison): Ini adalah penyebab paling umum, yang juga menjadi dasar dari kemiskinan relatif. Seseorang cenderung membandingkan kondisi hidupnya—pendapatan, harta, gaya hidup—dengan orang lain di sekitarnya (kelompok rujukan). Jika ia merasa tertinggal jauh dari standar lingkungannya, perasaan miskin bisa muncul.
  2. Kesenjangan Aspirasi (Aspiration Gap): Terjadi ketika keinginan atau aspirasi seseorang untuk memiliki standar hidup tertentu tumbuh lebih cepat daripada kemampuannya untuk mencapainya. Paparan media sosial yang sering menampilkan gaya hidup mewah dapat memperlebar kesenjangan ini.
  3. Standar Hidup yang Diinginkan: Setiap orang memiliki standar hidup idealnya masing-masing. Jika standar yang ditetapkan sangat tinggi dan tidak realistis dengan kondisi finansialnya, maka perasaan tidak puas dan merasa miskin akan selalu ada.
  4. Faktor Internal dan Psikologis: Karakteristik personal seperti rasa tidak aman (insecurity), kurangnya rasa syukur, atau motif untuk selalu menjadi yang terbaik juga dapat memicu persepsi kemiskinan subjektif.
Kemiskinan Subjektif - Perbandingan Sosial

Contoh Kemiskinan Subjektif dalam Kehidupan Sehari-hari

Kemiskinan subjektif sangat mudah kita temukan di sekitar kita, terutama di era media sosial saat ini.

  • Karyawan dengan Gaji Cukup: Seorang karyawan dengan gaji bulanan Rp10 juta mungkin merasa "miskin" karena teman-teman di lingkar pergaulannya memiliki gaji puluhan juta, liburan ke luar negeri setiap tahun, dan menggunakan barang-barang mewah. Secara objektif, gajinya sudah jauh di atas Garis Kemiskinan, tetapi perbandingan sosial membuatnya merasa kurang.
  • Tren "Healing" dan Gaya Hidup: Seseorang yang melihat teman-temannya sering pergi "healing" ke kafe-kafe mahal atau liburan ke Bali mungkin merasa hidupnya kurang sejahtera karena ia tidak mampu melakukan hal yang sama, meskipun kebutuhan primernya sudah terpenuhi.
  • Orang Tua yang Membandingkan Anaknya: Orang tua yang merasa "tidak mampu" karena tidak bisa mendaftarkan anaknya ke sekolah internasional atau membelikan gadget terbaru seperti yang dimiliki teman-teman anaknya, padahal anaknya sudah bersekolah di tempat yang baik dan memiliki fasilitas yang cukup.
  • Pengemis Musiman: Seperti yang juga bisa menjadi contoh kemiskinan kultural, beberapa pengemis musiman mungkin memiliki rumah dan sawah di kampung halamannya. Namun, mereka merasa pendapatan dari bertani tidak cukup untuk memenuhi keinginan-keinginan lain, sehingga mereka memilih mengemis di kota karena menganggapnya sebagai cara yang lebih mudah untuk mendapatkan uang tambahan.
Kemiskinan Subjektif - Kesimpulan

Mengapa Memahami Kemiskinan Subjektif Itu Penting?

Meskipun tidak diukur secara resmi oleh pemerintah, memahami kemiskinan subjektif itu penting karena dapat memengaruhi kesehatan mental, tingkat kebahagiaan, dan bahkan perilaku ekonomi seseorang. Rasa tidak puas yang terus-menerus dapat memicu stres, kecemasan, dan keputusan finansial yang buruk (misalnya, terjerat pinjaman online untuk memenuhi gaya hidup).

Solusi untuk kemiskinan subjektif lebih bersifat personal, seperti:

  • Meningkatkan literasi finansial untuk dapat mengelola keuangan dengan bijak.
  • Membatasi paparan terhadap konten yang memicu perbandingan sosial negatif.
  • Berlatih rasa syukur dan fokus pada apa yang sudah dimiliki, bukan pada apa yang tidak ada.

Pada akhirnya, kemiskinan subjektif mengajarkan kita bahwa kemiskinan adalah masalah kesejahteraan yang tidak hanya soal angka, tetapi juga soal cara pandang dan penerimaan diri.

FE

Frans Eka

admin

Profil

Komentar

Nama
Email
Komentar

Komentar sebagai tamu akan ditinjau sebelum dipublikasikan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!