Setiap kali terjadi gempa bumi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan merilis informasi yang mencakup dua parameter penting: Magnitudo (M) dan Skala MMI. Keduanya sama-sama mendeskripsikan salah satu bencana akibat ancaman alam ini, namun dari sudut pandang yang berbeda. Memahami perbedaan Skala MMI dan Magnitudo sangat penting agar tidak salah mengartikan tingkat bahaya suatu gempa.
Singkatnya, Magnitudo mengukur kekuatan energi di sumber gempa, sedangkan Skala MMI mengukur dampak guncangan yang dirasakan di permukaan.
Magnitudo (M): Ukuran Kekuatan di Sumber Gempa
Magnitudo adalah parameter yang mengukur seberapa besar energi yang dilepaskan oleh gempa bumi langsung dari pusatnya (hiposentrum).
- Satu Nilai Tetap: Untuk satu peristiwa gempa, hanya akan ada satu nilai Magnitudo. Misalnya, "Gempa Magnitudo 7.4".
- Alat Ukur: Nilai Magnitudo didapatkan dari analisis data yang terekam oleh alat pencatat gempa (seismograf).
- Fungsi Utama: Bagi BMKG, Magnitudo menjadi parameter kunci untuk analisis awal potensi tsunami dalam sistem peringatan dini bencana Indonesia. Gempa dengan magnitudo besar di dasar laut memiliki potensi lebih tinggi untuk memicu tsunami.
- Istilah: BMKG secara resmi menggunakan istilah Magnitudo (M), menggantikan penyebutan "Skala Richter" yang lebih dikenal awam namun secara teknis sudah tidak digunakan dalam operasional modern.
Skala MMI: Ukuran Dampak Guncangan yang Dirasakan
Skala MMI (Modified Mercalli Intensity) adalah skala yang mendeskripsikan tingkat guncangan atau dampak kerusakan yang dirasakan oleh manusia dan lingkungan di suatu lokasi tertentu di permukaan.
- Nilai Bervariasi: Dalam satu peristiwa gempa, nilai MMI bisa berbeda-beda di setiap lokasi. Daerah yang lebih dekat dengan pusat gempa umumnya akan memiliki nilai MMI yang lebih tinggi dibandingkan daerah yang jauh.
- Deskripsi Kualitatif: Skala MMI menggunakan angka Romawi (dari I hingga XII) untuk menggambarkan dampak, mulai dari getaran yang tidak dirasakan (I) hingga kehancuran total (XII).
- Fungsi Utama: Informasi MMI sangat berguna bagi tim penanggap darurat dan pemerintah daerah untuk memperkirakan tingkat kerusakan dan memprioritaskan wilayah mana yang paling membutuhkan bantuan.
- Contoh Laporan BMKG: "Guncangan dirasakan di Kota A dengan skala IV-V MMI (dirasakan oleh hampir semua penduduk, gerabah pecah), di Kota B dengan skala III MMI (getaran terasa nyata di dalam rumah)."
Tabel Perbandingan Sederhana
Untuk mempermudah, berikut adalah rangkuman perbedaan utama keduanya:
| Aspek | Magnitudo (M) | Skala Intensitas MMI |
|---|---|---|
| Yang Diukur | Energi di pusat gempa. | Dampak guncangan di permukaan. |
| Nilai | Satu nilai untuk setiap gempa. | Berbeda-beda di setiap lokasi. |
| Cara Penentuan | Berdasarkan rekaman seismograf. | Berdasarkan laporan dan observasi dampak. |
| Fungsi Utama | Menilai potensi tsunami. | Menilai tingkat kerusakan untuk respons darurat. |
Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat membaca informasi gempa dari BMKG secara lebih akurat. Ini melengkapi pengetahuan kita tentang penyebab gempa bumi dan mitigasinya. Ketika melihat nilai Magnitudo, kita tahu seberapa besar kekuatan asli gempa tersebut. Ketika melihat laporan Skala MMI, kita paham seberapa parah dampak guncangan yang terjadi di lokasi spesifik kita.