Read More
Apa Saja Perbedaan NU dan Muhammadiyah? Ini Penjelasan Sejarah Fiqihnya!
Budaya

Apa Saja Perbedaan NU dan Muhammadiyah? Ini Penjelasan Sejarah Fiqihnya!

Bingung dengan perbedaan antara Muhammadiyah dan NU? Simak penjelasan lengkap seputar pendekatan dalil fiqih, sejarah, qunut subuh, hingga metode rukyat vs hisab.

TS
Tari Santika
21 Feb 2026 4 menit
Apa Saja Perbedaan NU dan Muhammadiyah? Ini Penjelasan Sejarah Fiqihnya!

Isi artikel

Sebagai masyarakat Indonesia, siapa yang tidak mengenal Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah? Kedua organisasi masyarakat (ormas) Islam terbesar di Indonesia ini telah memberikan sumbangsih luar biasa bagi perkembangan agama, pendidikan, hingga kehidupan sosial keagamaan bangsa selama lebih dari satu abad. Namun, di tengah masyarakat, tak jarang kita menjumpai perdebatan hangat, terutama soal fiqih, terkait amalan-amalan yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh pengikut kedua kelompok ini.

Sering kali, perbedaan ini membuat kita bingung: Sebenarnya, apa inti dari perbedaan NU dan Muhammadiyah? Mengapa dalam beberapa perkara ibadah mereka menempuh jalan yang tak sama? Artikel ini akan mengupas tuntas karakteristik utama, pendekatan dakwah, hingga alasan di balik perbedaan fiqih di antara keduanya, sehingga kita bisa memahaminya lewat lensa sejarah dan toleransi.

Akar Sejarah: Tradisionalisme vs Pemurnian (Modernisme)

Perbedaan paling mendasar dari kedua ormas ini dapat dilihat dari sejarah kelahirannya dan paradigma berpikir mereka. Melansir dari berbagai literatur risalah dakwah, berikut dua aliran besarnya:

  • Muhammadiyah (Lahir 1912 di Yogyakarta): Didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah membawa panji pemurnian Islam (Tajdid) dan modernisme. Organisasi ini mengusung slogan untuk kembali pada ajaran murni Al-Quran dan As-Sunnah (Hadtis) yang shahih. Oleh sebab itu, tradisi-tradisi lokal atau budaya sinkretisme yang tidak ada landasan hukum kuatnya dari dalil agama biasanya dihindari (sering disebut sebagai TBC: Tahayul, Bid'ah, Churafat). Namun, di saat bersamaan, Muhammadiyah sangat progresif (Islam Berkemajuan) dalam membangun sistem pendidikan modern, seperti yang terlihat pada kampus inovatif Universitas Siber Muhammadiyah, klinik, dan panti asuhan.
  • Nahdlatul Ulama / NU (Lahir 1926 di Surabaya): Diprakarsai oleh Hadratus Syeikh K.H. Hasyim Asy’ari, NU lahir sebagai representasi basis kaum "tradisional". Maksud tradisional di sini bukan berarti tertinggal, melainkan NU berkomitmen melestarikan keilmuan mazhab fiqih klasik, terutama Mazhab Syafi'i. NU lebih mengakomodasi kekayaan budaya Nusantara. Mereka memiliki slogan Al-Muhafazhotu ‘ala Al-Qodim As-Sholeh Wal-Akhdzu bil Jadid Al-Ashlah (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang jauh lebih baik).

Ilustrasi kitab sejarah Islam klasik dan ormas Islam Indonesia

Baca Juga: Hukum Musik Dalam Islam: Menilik Berbagai Pandangan Ulama Modern 2026

Metode Hasib dan Rukyat (Penentuan Awal Bulan)

Setiap menjelang datangnya bulan suci Ramadhan (atau Idul Fitri), masyarakat sering melihat dua ormas ini terkadang berbeda pendapat tentang hari jatuhnya awal bulan. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Seperti dilansir dari publikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, perbedaannya hanya masalah parameter dan pendekatan metode semata:

  1. NU menggunakan metode Rukyatul Hilal: NU lebih menitikberatkan pada observasi kasat mata (atau menggunakan instrumen optik/teleskop) secara empiris dengan melihat hilal (bulan sabit muda) secara langsung di ufuk senja. Jika hilal tidak terlihat (misal karena cuaca buruk), maka bulan sebelumnyalah yang digenapkan menjadi 30 hari.
  2. Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Wujudul Hilal: Muhammadiyah secara kelembagaan mengandalkan pendekatan sains pergerakan bulan melalui hitungan sistematis matematis dan astronomi (hisab) secara murni. Jika hitungan astronomi menyimpulkan hilal sudah terlahir/wujud di atas ufuk (walau nol koma sekian derajat), maka malam harinya sudah dianggap masuk bulan baru.

Khasanah Fiqih: Tarawih, Qunut, dan Yasinan

Berikut adalah beberapa perbedaan dalam amaliyah (fiqih keseharian) yang juga sangat menonjol terlihat di akar rumput:

  • Masalah Qunut Subuh: Jamaah NU mempertahankan amaliyah membacakan doa Qunut saat iktidal di rakaat kedua Sholat Subuh (mendasarkan pada dalil kesunnahan dari Mazhab Syafi'i). Sementara Muhammadiyah merujuk pendiriannya bahwa amalan rutinan itu tidak pernah lagi diamalkan terus-menerus oleh Nabi secara spesifik, sehingga mereka melewatinya.
  • Jumlah Rakaat Tarawih: Muhammadiyah memedomani pakem angka 11 rakaat (8 Tarawih + 3 Witir). Di sisi lain, NU mentradisikan pelaksanaan 23 rakaat (20 Tarawih + 3 Witir) sesuai *ijmak* konsensus di era penerapan Khalifah Umar bin Khattab.
  • Tahlilan/Yasinan: Sebagai corak pelestarian kultural, warga nahdliyin (sebutan warga NU) selalu menyelenggarakan ritual Tahlil dan membaca Surat Yasin untuk berdoa bagi ahli kubur hingga bersedekah di hari kematian. Sedangkan di pihak Muhammadiyah, ritual semacam ini ditekan atau murni diganti menjadi kegiatan pengajian doa ringkas yang dirasa selaras hanya dengan sunnah murni.

Kesimpulan

Sekilas perbedaan antara NU dan Muhammadiyah memang tampak begitu banyak dalam koridor amaliyah ibadah (fiqih) *furu'iyah* (cabang tata cara), hingga penentuan jatuhnya 1 Ramadhan. Namun, pondasi akidah dan ketauhidan kedua organisasi ini sama kuatnya dalam merajut Islam berasas *Rahmatan lil 'Alamin* di Indonesia.

Keduanya justru saling bersinergi mengisi ruang peradaban; yang satu menjaga kearifan kebudayaan tradisi dari laju deras globalisasi (NU), sembari satunya giat memberantas kejumudan lewat institusi modern progresif (Muhammadiyah). Mari kita maknai silang pendapat mereka sebagai kekayaan intelaektual agama, karena perbedaan sejatinya adalah sebuah rahmat.

TS

Tari Santika

kontributor

Profil

Komentar

Nama
Email
Komentar

Komentar sebagai tamu akan ditinjau sebelum dipublikasikan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!