Upacara Seikerei adalah ritual penghormatan yang mewajibkan rakyat Indonesia membungkukkan badan 90 derajat ke arah Tokyo setiap pagi sebagai tanda setia kepada Kaisar Jepang (Tenno Heika). Kebijakan ini memicu perlawanan keras dari ulama karena dianggap syirik dan bertentangan dengan ajaran Islam.
Selama masa pendudukan Jepang (1942–1945), upacara Seikerei menjadi salah satu kebijakan paling kontroversial. Dipaksa dilakukan setiap pukul 07.00 di sekolah, kantor, dan ruang publik, ritual ini justru membangkitkan perlawanan nasionalis dan religius yang turut memperkuat perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Pengertian Upacara Seikerei
Seikerei (最敬礼) adalah ritual membungkuk paling dalam yang berasal dari ajaran Shinto, agama asli Jepang. Inti upacara ini adalah penghormatan kepada Amaterasu Omikami, Dewi Matahari dalam kepercayaan Shinto.
Menurut mitologi Jepang, Kaisar (Tenno Heika) diyakini sebagai keturunan langsung Amaterasu. Karena itu, membungkuk ke arah matahari terbit (Tokyo) dalam Seikerei bukan sekadar penghormatan budaya, melainkan bentuk pengakuan terhadap Kaisar sebagai manifestasi dewa di bumi (arahitogami).
Cara Pelaksanaan Seikerei
Selama pendudukan, Seikerei menjadi rutinitas wajib yang dipaksakan secara sistematis:
- Waktu: Setiap pagi pukul 07.00 serempak di seluruh Indonesia
- Tata cara: Berdiri tegap, lalu membungkukkan badan 90 derajat menghadap Tokyo
- Atribut: Sering diiringi pengibaran bendera Jepang (Hinomaru) dan menyanyikan lagu kebangsaan Kimigayo
- Sumpah: Di beberapa tempat, peserta juga dipaksa mengucapkan sumpah setia kepada Kekaisaran Jepang
Tujuan Jepang Mewajibkan Seikerei
Di balik dalih penghormatan budaya, Jepang memiliki tiga tujuan strategis:
- Menanamkan loyalitas mutlak kepada Kaisar melalui Nippon Seishin (Semangat Jepang). Ritual harian ini dirancang untuk mengikat rakyat Indonesia secara psikologis pada otoritas Jepang.
- Menghapus pengaruh kolonial Barat dengan mengganti simbol-simbol Belanda dengan simbol Jepang.
- Memperkuat narasi Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya, memposisikan Jepang sebagai pemimpin yang harus dihormati bangsa Asia lainnya.
Alasan Penolakan Seikerei
Bertentangan dengan Akidah Islam
Alasan utama penolakan Seikerei adalah karena gerakannya menyerupai rukuk dalam shalat, yang hanya boleh ditujukan kepada Allah SWT. Melakukannya untuk menghormati Kaisar atau matahari dianggap sebagai tindakan syirik (menyekutukan Tuhan), dosa terbesar dalam Islam.
Fatwa Haram dari Ulama
K.H. Hasyim Asy’ari dari Nahdlatul Ulama mengeluarkan fatwa tegas bahwa Seikerei hukumnya haram dan dapat merusak iman. Fatwa ini didasarkan pada dalil Al-Qur’an dan Hadis yang melarang umat Islam membungkuk atau bersujud kepada selain Allah SWT.
Bentuk Perlawanan dan Tokoh-Tokoh Penentang Seikerei
Penolakan terhadap Seikerei tidak terjadi secara sporadis, melainkan dimotori oleh para ulama dan tokoh bangsa dengan tiga strategi berbeda: fatwa, perlawanan fisik, dan diplomasi.
K.H. Hasyim Asy’ari: Fatwa Haram dari Tebuireng
Sebagai pendiri dan pemimpin tertinggi Nahdlatul Ulama (NU), K.H. Hasyim Asy’ari menjadi rujukan utama bagi jutaan umat Islam di Jawa.
- Mengeluarkan fatwa haram: Menyatakan Seikerei sebagai tindakan syirik yang diharamkan Islam.
- Ditangkap Kempeitai: Keteguhannya membuatnya ditangkap dan disiksa, tapi ia tidak pernah goyah.
- Menggerakkan jaringan NU: Fatwa disebarkan melalui jaringan pesantren yang solid, mengubah penolakan individual menjadi gerakan terorganisir.
K.H. Zainal Mustafa: Pemberontakan Bersenjata di Singaparna
Berbeda dengan Hasyim Asy’ari, K.H. Zainal Mustafa dari Pesantren Sukamanah, Tasikmalaya memilih konfrontasi fisik.
- Penolakan terbuka: Secara tegas melarang santrinya melakukan Seikerei dan mengajarkan perlawanan terhadap Jepang.
- Pemberontakan 25 Februari 1944: Pasukan Jepang menyerbu Pesantren Sukamanah. Para santri dengan bambu runcing dan golok melakukan perlawanan heroik.
- Gugur sebagai martir: Ratusan santri gugur, K.H. Zainal Mustafa ditangkap dan dieksekusi pada 25 Oktober 1944. Ia kemudian diangkat sebagai Pahlawan Nasional.
Ki Bagoes Hadikoesoemo: Jalur Diplomasi Muhammadiyah
Pimpinan Muhammadiyah ini menempuh jalur perlawanan diplomatik.
- Maklumat resmi: Muhammadiyah secara resmi menginstruksikan seluruh anggota menolak Seikerei.
- Diplomasi dengan Jepang: Ki Bagoes beradu argumen dengan Kolonel Tsuda, dengan tegas menyatakan, “Tidak mungkin, Islam melarangnya.”
- Menjaga institusi: Strategi ini berhasil melindungi sekolah dan rumah sakit Muhammadiyah dari kehancuran total.
Dampak Kebijakan Seikerei
Ironisnya, kebijakan yang dirancang untuk menundukkan jiwa bangsa Indonesia justru menjadi bumerang bagi Jepang.
Dampak Negatif
- Tekanan psikologis: Rakyat dipaksa memilih antara mempertahankan akidah atau menghadapi siksaan.
- Konflik batin (disonansi kognitif): Terutama bagi umat Islam yang harus memilih antara kepatuhan pada Jepang atau keyakinan agama.
Dampak Positif (Tak Langsung)
- Memperkuat solidaritas nasionalisme: Perjuangan bersama melawan “musuh akidah” menyatukan berbagai kelompok Islam dan elemen bangsa.
- Menyalakan api kemerdekaan: Perlawanan terhadap Seikerei turut memperkuat identitas keindonesiaan yang menolak tunduk pada penjajahan.
FAQ Seputar Seikerei
Apa itu upacara Seikerei?
Seikerei adalah upacara penghormatan kepada Kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan 90 derajat ke arah Tokyo atau matahari terbit, yang diwajibkan oleh pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia setiap pagi pukul 07.00.
Upacara untuk menghormati Kaisar Tenno Heika setiap pagi disebut?
Upacara tersebut disebut Seikerei (atau Seikeirei), sebuah ritual membungkuk yang berasal dari ajaran Shinto.
Apa alasan utama ulama menentang kewajiban Seikerei?
Karena gerakannya menyerupai rukuk dalam shalat dan dianggap sebagai tindakan syirik (menyembah selain Tuhan) yang bertentangan dengan ajaran tauhid dalam Islam. K.H. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa haram untuk Seikerei.
Siapa tokoh yang memimpin pemberontakan melawan Seikerei?
K.H. Zainal Mustafa dari Pesantren Sukamanah, Singaparna, Tasikmalaya, yang memimpin perlawanan fisik terhadap Jepang pada 25 Februari 1944. Perlawanan ini dikenal sebagai Pemberontakan Singaparna atau Perlawanan Sukamanah.
Siapa ulama dari pesantren Sukamanah yang menolak Seikerei?
K.H. Zainal Mustafa (atau K.H. Zainal Musthafa), pimpinan Pesantren Sukamanah, Singaparna, Tasikmalaya yang secara tegas menolak Seikerei dan memimpin perlawanan bersenjata.
Apa alasan utama kebijakan Jepang memicu perlawanan di Tasikmalaya?
Karena kewajiban melaksanakan upacara Seikerei dianggap bertentangan dengan prinsip tauhid (keyakinan agama). Perlawanan ini bermotif ideologis-religius, bukan ekonomi, budaya, atau politik semata.
Kesimpulan
Upacara Seikerei adalah contoh nyata bagaimana penjajahan tidak hanya menargetkan wilayah fisik, tetapi juga jiwa dan keyakinan sebuah bangsa. Dirancang sebagai alat indoktrinasi, ritual ini justru memicu perlawanan dari para ulama dengan tiga strategi: fatwa (K.H. Hasyim Asy’ari), perlawanan fisik (K.H. Zainal Mustafa), dan diplomasi (Ki Bagoes Hadikoesoemo). Perlawanan terhadap Seikerei tidak hanya mempertahankan kemurnian iman, tetapi juga menyalakan api nasionalisme yang mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan.