Read More
Silsilah Sultan Maulana Hasanudin: Ayah, Ibu, Keturunan & Sejarah Banten
Sejarah

Silsilah Sultan Maulana Hasanudin: Ayah, Ibu, Keturunan & Sejarah Banten

Silsilah Sultan Maulana Hasanudin lengkap: ayah Sunan Gunung Jati, ibu Nyi Kawunganten, keturunan, penerus, dan perannya sebagai pendiri Kesultanan Banten.

FE
Frans Eka
16 Feb 2025 Diperbarui 17 Jun 2026 6 menit
Jadikan readmore.id sebagai preferensi terpercayamu di Google
Silsilah Sultan Maulana Hasanudin: Ayah, Ibu, Keturunan & Sejarah Banten

Isi artikel

Sultan Maulana Hasanudin atau Maulana Hasanuddin dikenal sebagai pendiri sekaligus sultan pertama Kesultanan Banten. Ia adalah putra Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah dengan Nyi Kawunganten, putri Prabu Surosowan dari Banten. Dari garis ayah, ia terhubung dengan jaringan ulama dan penyebar Islam di Jawa; dari garis ibu, ia memiliki hubungan politik dengan penguasa Banten.

Perpaduan dua garis keluarga inilah yang membuat Maulana Hasanudin memiliki kedudukan penting: ia bukan hanya tokoh agama, tetapi juga pemimpin politik yang membangun Banten sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam di wilayah barat Jawa.

Ringkasan Silsilah Sultan Maulana Hasanudin

Bagian SilsilahKeterangan
Nama tokohSultan Maulana Hasanudin / Maulana Hasanuddin
Gelar lainPangeran Sabakingking atau Pangeran Sabakingkin
AyahSunan Gunung Jati / Syarif Hidayatullah
IbuNyi Kawunganten
Kakek dari ibuPrabu Surosowan, penguasa Banten
KedudukanSultan pertama Kesultanan Banten
Masa pemerintahanUmumnya disebut 1552–1570 M
PenerusMaulana Yusuf
MakamKompleks Masjid Agung Banten, Serang

Siapa Sultan Maulana Hasanudin?

Sultan Maulana Hasanudin adalah raja pertama Kesultanan Banten. Dalam banyak sumber sejarah populer, ia disebut sebagai putra kedua Sunan Gunung Jati dari Nyi Kawunganten. Ia juga dikenal dengan gelar Pangeran Sabakingking atau Sabakingkin.

Perannya sangat besar dalam perubahan Banten dari wilayah yang sebelumnya berada dalam pengaruh kerajaan bercorak Hindu-Sunda menjadi kesultanan Islam yang kuat. Banten kemudian berkembang sebagai pusat perdagangan, pelabuhan, dan penyebaran Islam di kawasan Selat Sunda.

Garis Ayah: Sunan Gunung Jati

Dari pihak ayah, Maulana Hasanudin adalah putra Sunan Gunung Jati, salah satu tokoh penting penyebaran Islam di Jawa. Sunan Gunung Jati juga dikenal sebagai Syarif Hidayatullah dan memiliki peran besar dalam sejarah Cirebon serta islamisasi wilayah pesisir utara Jawa.

Hubungan ini membuat Maulana Hasanudin mendapat legitimasi keagamaan yang kuat. Ia tidak hanya dipandang sebagai pewaris kekuasaan politik di Banten, tetapi juga sebagai penerus misi dakwah Islam yang dibawa ayahnya.

Untuk memahami latar ayahnya, baca juga profil Sunan Gunung Jati.

Garis Ibu: Nyi Kawunganten dan Prabu Surosowan

Dari pihak ibu, Maulana Hasanudin adalah putra Nyi Kawunganten. Nyi Kawunganten dikenal sebagai putri Prabu Surosowan, penguasa Banten. Jalur ini penting karena menghubungkan Maulana Hasanudin dengan elite lokal Banten sebelum berdirinya Kesultanan Banten.

Dengan latar tersebut, Maulana Hasanudin memiliki dua sumber legitimasi: garis keagamaan dari Sunan Gunung Jati dan garis politik-lokal dari keluarga penguasa Banten. Inilah yang membantu memperkuat posisinya ketika Banten berkembang menjadi kesultanan.

Silsilah Singkat Sultan Maulana Hasanudin

Secara sederhana, silsilah Sultan Maulana Hasanudin dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Sunan Gunung Jati / Syarif Hidayatullah menikah dengan Nyi Kawunganten.
  2. Dari pernikahan itu lahir Maulana Hasanudin.
  3. Maulana Hasanudin kemudian menjadi sultan pertama Kesultanan Banten.
  4. Kepemimpinannya diteruskan oleh putranya, Maulana Yusuf.

Dalam beberapa tradisi silsilah, jalur Sunan Gunung Jati juga dikaitkan dengan garis keturunan Nabi Muhammad SAW. Namun, rincian nasab panjang semacam ini sering bersumber dari tradisi keluarga, naskah, atau riwayat tertentu sehingga sebaiknya dibaca sebagai bagian dari tradisi sejarah dan genealogi, bukan sekadar daftar yang selalu seragam di semua sumber.

Apakah Sultan Maulana Hasanudin Keturunan Nabi Muhammad?

Sejumlah tradisi nasab menghubungkan garis ayah Maulana Hasanudin, yaitu Sunan Gunung Jati, dengan keturunan Nabi Muhammad SAW melalui jalur keluarga sayyid. Karena itu, sebagian masyarakat menyebut Maulana Hasanudin sebagai tokoh yang memiliki garis nasab ke Rasulullah.

Meski demikian, untuk penulisan sejarah populer, bagian ini perlu disampaikan hati-hati. Rincian nasab panjang dapat berbeda antara satu naskah, keluarga, atau lembaga pencatat silsilah dengan yang lain. Yang lebih kuat untuk konteks sejarah Banten adalah fakta bahwa Maulana Hasanudin merupakan putra Sunan Gunung Jati dan Nyi Kawunganten, serta menjadi pendiri Kesultanan Banten.

Anak dan Keturunan Sultan Maulana Hasanudin

Penerus utama Sultan Maulana Hasanudin adalah Maulana Yusuf. Setelah Maulana Hasanudin wafat, Maulana Yusuf melanjutkan pemerintahan Banten dan memperkuat posisi kesultanan.

Dalam sejarah Banten, garis keturunan para sultan berikutnya menjadi bagian penting dari perkembangan kerajaan. Karena itu, pencarian tentang “silsilah Sultan Hasanudin Banten” biasanya tidak hanya mencari nama ayah dan ibu, tetapi juga ingin mengetahui bagaimana kekuasaan Banten berlanjut setelah masa Maulana Hasanudin.

Peran Maulana Hasanudin dalam Berdirinya Kesultanan Banten

Maulana Hasanudin berperan dalam mengubah Banten menjadi kesultanan Islam. Ia dikaitkan dengan proses pengambilalihan kekuasaan dari Prabu Pucuk Umun, penguasa Banten Girang. Dalam tradisi populer, konflik ini sering diceritakan melalui kisah adu ayam sebagai pengganti perang fisik.

Setelah berkuasa, Maulana Hasanudin mengembangkan Banten sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan. Pemindahan orientasi kekuasaan ke kawasan pesisir membuat Banten semakin strategis karena terhubung dengan jalur perdagangan di Selat Sunda.

Masa Pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin

Maulana Hasanudin umumnya disebut memerintah sekitar 1552 sampai 1570 M. Pada masa pemerintahannya, Banten berkembang sebagai bandar perdagangan yang ramai dan menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di wilayah barat Nusantara.

Banten juga dikenal memiliki hubungan penting dengan wilayah penghasil lada, termasuk Lampung. Perdagangan lada menjadi salah satu sumber kekuatan ekonomi Kesultanan Banten pada masa berikutnya.

Warisan Sultan Maulana Hasanudin

Warisan utama Sultan Maulana Hasanudin adalah berdirinya Kesultanan Banten sebagai kekuatan politik, ekonomi, dan agama. Ia meletakkan dasar bagi Banten untuk berkembang sebagai kerajaan maritim yang penting di Nusantara.

Setelah wafat pada 1570, Maulana Hasanudin dimakamkan di kompleks Masjid Agung Banten. Hingga kini, namanya tetap melekat dalam sejarah Banten, baik sebagai pendiri kesultanan, tokoh penyebaran Islam, maupun bagian dari silsilah keluarga besar penguasa Banten.

FAQ

Siapa ayah Sultan Maulana Hasanudin?

Ayah Sultan Maulana Hasanudin adalah Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, salah satu tokoh penting penyebaran Islam di Jawa.

Siapa ibu Sultan Maulana Hasanudin?

Ibunya adalah Nyi Kawunganten, putri Prabu Surosowan dari Banten.

Apa gelar lain Sultan Maulana Hasanudin?

Ia dikenal juga dengan gelar Pangeran Sabakingking atau Pangeran Sabakingkin.

Siapa penerus Sultan Maulana Hasanudin?

Penerusnya adalah Maulana Yusuf, putra Sultan Maulana Hasanudin.

Di mana makam Sultan Maulana Hasanudin?

Makam Sultan Maulana Hasanudin berada di kompleks Masjid Agung Banten, Serang.

Apakah Hasanudin dan Hasanuddin orang yang sama?

Dalam konteks Banten, penulisan Hasanudin dan Hasanuddin biasanya merujuk pada tokoh yang sama, yaitu Sultan Maulana Hasanudin, pendiri Kesultanan Banten. Perbedaannya terutama pada variasi ejaan.

Kesimpulan

Silsilah Sultan Maulana Hasanudin memperlihatkan hubungan penting antara dakwah Islam dan kekuasaan lokal Banten. Dari ayahnya, Sunan Gunung Jati, ia mewarisi legitimasi keagamaan. Dari ibunya, Nyi Kawunganten, ia terhubung dengan keluarga penguasa Banten.

Dengan latar tersebut, Maulana Hasanudin berhasil menjadi sultan pertama Kesultanan Banten dan meletakkan dasar bagi kejayaan Banten sebagai pusat perdagangan serta penyebaran Islam di Nusantara.

FE

Frans Eka

admin

Profil

Komentar

Nama
Email
Komentar

Komentar sebagai tamu akan ditinjau sebelum dipublikasikan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!