Semboyan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan yang tertulis di pita kaki Garuda Pancasila. Jauh sebelum Indonesia merdeka, frasa sakti ini telah lahir di masa kejayaan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14.
Pernahkah Anda bertanya-tanya, untuk apa sebenarnya semboyan ini dibuat pada masa itu? Apakah Majapahit juga menghadapi masalah perbedaan suku dan agama seperti kita sekarang?
Artikel ini akan mengupas tuntas makna historis dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam konteks Majapahit, sebuah warisan leluhur yang mengajarkan toleransi tingkat tinggi.
Asal-Usul: Kitab Kakawin Sutasoma
Frasa "Bhinneka Tunggal Ika" pertama kali ditemukan dalam kitab Kakawin Sutasoma (pupuh 139, bait 5), sebuah karya sastra mashyur yang ditulis oleh Empu Tantular. Kitab ini digubah pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389 M), periode yang dianggap sebagai zaman keemasan Majapahit.
Bagi Anda yang ingin mendalami lebih jauh tentang masa ini, bisa membaca tentang Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Majapahit yang penuh toleransi.
Konteks Majapahit: Konflik Hindu dan Buddha
Berbeda dengan konteks modern yang mencakup ribuan suku dan bahasa, konteks Bhinneka Tunggal Ika pada masa Majapahit lebih spesifik berfokus pada toleransi antarumat beragama.
Pada masa itu, masyarakat Majapahit terbelah menjadi dua penganut agama besar:
- Agama Hindu (Siwa)
- Agama Buddha
Meskipun rajanya menganut Hindu, Majapahit melindungi pemeluk Buddha. Empu Tantular sendiri konon adalah seorang penganut Buddha. Ia merumuskan kalimat ini untuk menegaskan bahwa meskipun ajaran Siwa (Hindu) dan Buddha berbeda, pada hakikatnya kebenaran yang dituju adalah tunggal (satu).
Makna Harfiah dan Filosofis
Dalam bahasa Jawa Kuno, kalimat lengkapnya berbunyi:
"Rwangeka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa."
Artinya:
"Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belah, tetapi satu jua, sebab tidak ada kerancuan dalam kebenaran."
Poin Penting Makna Historisnya:
- Persatuan Teologis: Menjembatani perbedaan doktrin antara Hindu dan Buddha agar tidak terjadi konflik horizontal.
- Stabilitas Politik: Mendukung cita-cita Gajah Mada dalam Sumpah Palapa untuk menyatukan Nusantara. Tanpa toleransi agama, persatuan wilayah mustahil tercapai.
- Harmoni Sosial: Mengajarkan rakyat Majapahit untuk hidup berdampingan meski menyembah dewa yang berbeda.
Relevansi Masa Kini
Jika dulu maknanya terbatas pada toleransi agama (Hindu-Buddha), kini pendiri bangsa (The Founding Fathers) memperluas maknanya.
Mohammad Yamin, yang pertama kali mengusulkan frasa ini kepada Bung Karno, melihat bahwa semangat Majapahit sangat relevan untuk menyatukan Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau. Jika Anda penasaran dengan sisi lain Majapahit, simak juga 8 Pertanyaan Sejarah Majapahit yang sering muncul.
Kesimpulan
Jadi, makna historis dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam konteks Majapahit adalah upaya jenius para leluhur untuk mendamaikan perbedaan keyakinan (Hindu dan Buddha) demi keutuhan kerajaan. Semangat inilah yang diwariskan kepada kita: bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk berpecah, melainkan kekayaan yang harus dipersatukan.
Mari kita jaga warisan luhur ini dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hal kecil di lingkungan kita.