Keraton Kasepuhan adalah keraton di Kelurahan Kesepuhan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat. Dulu kompleks ini dikenal sebagai Keraton Pakungwati dan sempat menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon. Hari ini ia jadi penanda sejarah, budaya, dan wisata yang paling sering dicari saat orang mengetik “keraton kasepuhan”.
Artikel ini memetakan asal-usul, sejarah singkat, ciri bangunan, museum/koleksi, dan bedanya dengan Keraton Kanoman—bukan brosur tiket harian yang cepat basi.
Keraton Kasepuhan Ada di Mana?
Keraton Kasepuhan berada di Jalan Kasepuhan, Kesepuhan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Kompleks menghadap utara. Di depannya ada alun-alun (dulu disebut Sangkala Buana), di barat berdiri Masjid Agung Sang Cipta Rasa, dan di timur kawasan pasar. Pola keraton–alun-alun–masjid–pasar ini mirip model tata ruang banyak kota pesisir Jawa.
Sejarah Singkat: Dari Pakungwati ke Kasepuhan
Keraton Kasepuhan menyimpan dua lapisan bangunan bersejarah:
- Dalem Agung Pakungwati — didirikan sekitar 1430 oleh Pangeran Cakrabuana.
- Kompleks Keraton Pakungwati — dibangun 1529 oleh Pangeran Mas Zainul Arifin (Panembahan Pakungwati I), cicit Sunan Gunung Jati, di sisi barat daya keraton lama.
Nama Pakungwati merujuk pada Ratu Dewi Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Nama itu lalu dipakai untuk keraton, sebelum kemudian lebih dikenal sebagai Keraton Kasepuhan.
Mengapa jadi “Kasepuhan”?
Pada abad ke-17, Kesultanan Cirebon mengalami gejolak politik yang berujung pembagian kekuasaan. Ringkasnya (mengikuti ringkasan sejarah yang umum dikutip, termasuk Kompas):
- Masa Panembahan Ratu II (sekitar 1666) diwarnai ketegangan dengan Mataram.
- Putra-putra yang sebelumnya terasing lalu kembali lewat dinamika Banten–Mataram.
- Untuk meredam konflik internal, kesultanan dibagi: garis Kasepuhan (Sultan Sepuh), Kanoman (Sultan Anom), dan panembahan/cabang lain.
- Sultan Sepuh I menempati Keraton Pakungwati yang kemudian disebut Keraton Kasepuhan.
Jadi “Kasepuhan” menandai garis sepuh/utama dalam struktur pasca-pembagian, bukan sekadar nama indah di papan wisata.
Ciri Khas yang Membuatnya Mudah Dikenali
| Penanda | Apa yang biasanya terlihat |
|---|---|
| Tembok & gapura | Bata merah, gapura gaya pesisir/Jawa; di Siti Inggil ada jejak motif Majapahit |
| Siti Inggil | Area “tanah tinggi” dengan mande terbuka untuk melihat alun-alun/latihan |
| Tata ruang | Keraton utara, masjid barat, pasar timur, alun-alun di depan |
| Ornamen Cirebon | Mega mendung, wadasan, simbol harimau putih di area taman |
| Koleksi ikonik | Kereta Singa Barong, museum benda kuno/pusaka |
Siti Inggil
Siti Inggil (lemah duwur) adalah area tinggi di kompleks, sering digambarkan mirip pelataran candi. Di dalamnya ada sejumlah mande (bangunan terbuka) dengan jumlah tiang yang dihubungkan ke simbol keislaman—misalnya penanda rukun iman, rukun Islam, dan syahadat pada mande tertentu. Di sini pula gamelan/gong Sekati secara tradisional dibunyikan pada momen besar seperti Idulfitri dan Iduladha.
Area utama & bangunan induk
Masuk lebih dalam, pengunjung biasanya melewati zona penungguan dan pelayanan (misalnya Lunjuk, Sri Manganti) sebelum area inti kesultanan. Bangunan induk punya ruang-ruang dengan nama dan fungsi historis—dari tempat menerima tamu hingga bangsal sidang/pertunjukan. Detail nama ruang bisa berbeda penekanan di tiap panduan, tetapi polanya sama: hierarki ruang dari luar ke dalam.
Museum dan Kereta Singa Barong
Keraton Kasepuhan punya museum/koleksi yang sering jadi alasan orang datang:
- Museum benda kuno / pusaka — menyimpan artefak, lukisan, dan benda berkaitan kesultanan.
- Museum kereta — termasuk Kereta Singa Barong, kereta kencana yang dikaitkan Sunan Gunung Jati. Kereta ini tidak dipakai sehari-hari; tradisi yang sering disebut: dikeluarkan/ dimandikan pada momentum 1 Syawal.
Kalau tujuanmu “lihat benda”, museum dan kereta biasanya lebih memuaskan daripada cuma foto gerbang luar.
Perbedaan Keraton Kasepuhan dan Kanoman
| Aspek | Kasepuhan | Kanoman |
|---|---|---|
| Posisi sejarah | Garis sepuh/utama pasca-pembagian | Garis anom (Sultan Anom) |
| Akar bangunan | Melanjutkan kompleks Pakungwati yang lebih tua | Keraton terpisah di kawasan Kanoman |
| Ikon populer | Sering diidentikkan Singa Barong & museum padat | Identitas sendiri; lokasi dekat pasar Kanoman |
| Cara baca wisata | Paling sering jadi “pintu masuk” sejarah Cirebon | Pelengkap untuk memahami Cirebon punya lebih dari satu keraton |
Cirebon juga punya keraton lain di luar dua nama ini. Intinya: satu kota, beberapa keraton—jangan disamakan seolah hanya ada Kasepuhan.
Cara Membaca Kunjungan (Tanpa Jadi Brosur Harga)
- Mulai dari alun-alun + gerbang utara biar orientasi tata ruang kebaca.
- Naik ke Siti Inggil—ini penanda visual terkuat.
- Masuk area utama: perhatikan hierarki bangsal, jangan buru-buru ke museum saja.
- Sisihkan waktu untuk museum + kereta Singa Barong.
- Sambungkan cerita dengan Sunan Gunung Jati dan Kesultanan Cirebon biar tokohnya tidak “mengambang”.
Jadwal buka, tarif, dan aturan foto bisa berubah. Cek info terbaru dari pengelola/dinas setempat sebelum berangkat.
FAQ Keraton Kasepuhan
Keraton Kasepuhan berada di mana?
Di Kelurahan Kesepuhan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat.
Kapan Keraton Kasepuhan didirikan?
Lapisan tertuanya dikaitkan Dalem Agung Pakungwati sekitar 1430; kompleks keraton Pakungwati yang menjadi inti Kasepuhan dibangun 1529. Nama “Kasepuhan” menguat setelah pembagian kesultanan abad ke-17.
Apa bedanya Keraton Kasepuhan dan Kanoman?
Keduanya lahir dari pembagian Kesultanan Cirebon. Kasepuhan mewakili garis sepuh dan menempati kompleks Pakungwati; Kanoman adalah garis anom dengan keraton terpisah.
Apa yang wajib dilihat di Keraton Kasepuhan?
Siti Inggil, tata ruang keraton–alun-alun–masjid, museum pusaka, dan kereta Singa Barong.
Apakah Keraton Kasepuhan masih “hidup” sebagai pusat budaya?
Ya, sebagai situs kesultanan yang terawat dan masih terkait tradisi (misalnya momen besar keagamaan/gamelan Sekati), sekaligus objek wisata sejarah.
Kesimpulan
Keraton Kasepuhan Cirebon adalah wajah paling dikenal dari warisan Kesultanan Cirebon: berakar di Pakungwati abad ke-15–16, berganti identitas Kasepuhan setelah pembagian politik abad ke-17, dan tetap terbaca lewat Siti Inggil, museum, serta kereta Singa Barong. Kalau kamu pegang tiga penanda—Pakungwati, Siti Inggil, beda Kasepuhan–Kanoman—sejarahnya sudah jauh lebih jelas daripada sekadar “istana tua di Cirebon”.