Pernahkah Anda bertanya dari mana asal kata “sejarah”? Ternyata, kata ini diserap dari bahasa Arab, yaitu “syajaratun” (شجرة), yang secara harfiah berarti pohon.
Namun, mengapa pohon? Apa hubungan antara makhluk hidup yang tumbuh ini dengan rekaman masa lalu manusia? Analogi ini lebih dari sekadar perumpamaan; ia adalah konsep dasar yang diajarkan dalam Kurikulum Merdeka dan memiliki perdebatan menarik di dunia akademik.
Inti Sari Artikel (Key Takeaways)
- Asal Kata: Kata “sejarah” berasal dari kata Arab “syajaratun” yang artinya pohon.
- Metafora Pertumbuhan: Sejarah, seperti pohon, memiliki akar (masa lalu), batang (kronologi), cabang (peristiwa), dan daun (hasil/akibat) yang saling berhubungan dan terus tumbuh.
- Konteks Kurikulum Merdeka: Konsep ini menjadi dasar pemahaman sejarah di Fase E (Kelas X), di mana siswa diajak memahami sejarah sebagai proses dinamis melalui “pohon pengetahuan” atau “pohon peristiwa”.
- Kritik & Alternatif: Beberapa sejarawan modern mengkritik analogi ini karena bisa disalahpahami sebagai sesuatu yang statis. Mereka mengusulkan metafora alternatif seperti “aliran sungai” (flow of history).
Alasan Utama Sejarah Diibaratkan Seperti Pohon
Analogi pohon dipilih karena setiap bagiannya secara filosofis mewakili komponen penting dalam ilmu sejarah. Dalam modul ajar Kurikulum Merdeka, ini sering disebut sebagai “pohon pengetahuan”.
- Akar (Masa Lalu & Sebab): Melambangkan peristiwa-peristiwa di masa lampau yang menjadi fondasi masa kini.
- Batang (Kronologi & Waktu): Menggambarkan perjalanan waktu yang terus bergerak maju dan berkesinambungan.
- Cabang & Ranting (Peristiwa & Tokoh): Metafora untuk beragam peristiwa dan tokoh yang saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain.
- Daun, Bunga, & Buah (Akibat & Generasi Baru): Melambangkan dampak, hasil, dan generasi baru yang lahir dari rentetan peristiwa sejarah.
Kritik dan Perspektif Alternatif
Meskipun populer, analogi pohon tidak lepas dari kritik. Beberapa sejarawan modern berpendapat:
- Risiko Kesalahpahaman: Menurut Markus Kaiser (2024), analogi pohon kadang disalahpahami sebagai “catatan statis” atau silsilah yang kaku, padahal pohon itu sendiri adalah organisme yang dinamis.
- Metafora Alternatif: Sejarawan E.H. Carr (dalam edisi terjemahan 2024) lebih menyukai konsep “arus sejarah” (flow of history). Metafora “aliran sungai” dianggap lebih mampu menangkap faktor kontekstual, perubahan arah, dan pengaruh lintas batas (transnasional) yang sering kali sulit digambarkan oleh struktur pohon.
Perbandingan dengan Budaya Lain
Cara pandang “sejarah sebagai pohon” adalah khas. Budaya lain memiliki metafora yang berbeda:
- Yunani Kuno: Kata history berasal dari “historia” (ἱστορία), yang berarti “penyelidikan” atau “inkuiri”. Fokusnya adalah pada proses bertanya dan mencari tahu, bukan pada silsilah.
- Cina & Jepang: Menggunakan karakter 歷史 (lìshǐ/rekishi), yang lebih bermakna “jejak yang telah dilalui”. Metaforanya adalah jejak langkah, bukan pohon yang tumbuh.
- Mesoamerika (Aztek/Maya): Silsilah raja sering dipahat di monolit atau pilar batu, menggunakan metafora “pilar” yang melambangkan kekuatan, keabadian, dan legitimasi.
Aplikasi Modern: Pohon Sejarah di Era Digital
Di era digital humanities, metafora pohon justru hidup kembali dalam bentuk visualisasi data yang canggih:
- Pohon Genealogi: Proyek seperti “Tree of Lives” dari New York Times menggunakan struktur pohon interaktif untuk melacak silsilah imigran.
- Pohon Revisi: Proyek “History Flow” memvisualisasikan evolusi artikel Wikipedia sebagai “pohon revisi” yang menunjukkan bagaimana sebuah teks tumbuh dan berubah.
- Pohon Waktu (Time-Tree): Digunakan dalam proyek pemetaan digital untuk melacak penyebaran ide atau peristiwa dari satu titik waktu ke titik lainnya.
Kesimpulan
Jadi, hubungan antara syajaratun (pohon) dan sejarah adalah sebuah analogi kuat tentang pertumbuhan, kesinambungan, dan sebab-akibat. Meskipun ada kritik dan metafora alternatif, konsep ini tetap sangat relevan dan menjadi alat bantu pengajaran yang efektif dalam Kurikulum Merdeka untuk memahami bahwa sejarah bukanlah sekadar catatan mati, melainkan sebuah organisme hidup yang akarnya terus menopang kehidupan kita saat ini.