Read More
Apa Itu Kota Thaif? Asal-Usul & Sejarah Pilu Dakwah Rasulullah
Sejarah

Apa Itu Kota Thaif? Asal-Usul & Sejarah Pilu Dakwah Rasulullah

FE
Frans Eka
9 Mar 2026 Diperbarui 1 Jun 2026 3 menit
Jadikan readmore.id sebagai preferensi terpercayamu di Google
Apa Itu Kota Thaif? Asal-Usul & Sejarah Pilu Dakwah Rasulullah

Isi artikel

Iklan

Jika kita berbicara tentang jazirah Arab, mungkin yang langsung terlintas di pikiran adalah hamparan gurun pasir yang tandus dan bersuhu sangat panas. Namun, tahukah Anda bahwa ada satu kota di Arab Saudi yang justru memiliki udara sejuk dingin seperti Puncak Bogor? Ya, nama kota itu adalah Thaif. Sebenarnya, Thaif adalah mahkota agrikultur yang juga memegang peranan emosional sangat penting dalam kronologi sejarah masuknya Islam.

Bagi umat Muslim maupun pecinta sejarah kebudayaan, menelusuri Kota Thaif bukan hanya sekadar wisata alam. Daerah ini menjadi saksi bisu dari fase terberat dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Mari kita pelajari bersama apa itu Thaif, asal-usul namanya, hingga peristiwa monumental yang terjadi di kota tersebut.

Apa Itu Kota Thaif?

Secara geografis, Thaif adalah sebuah kota yang bertengger di lereng Pegunungan Al-Sarawat pada ketinggian sekitar 1.700 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut. Kota ini berada di sebelah tenggara dari Makkah dengan jarak tempuh kurang lebih 80 kilometer (sekitar 1,5 jam perjalanan mobil).

Karena lokasinya yang berada di dataran tinggi, Thaif mematahkan stigma cuaca semenanjung Arab. Udaranya sangat sejuk, tanahnya subur, hijau, dan dihiasi oleh banyak area perkebunan (mulai dari delima, madu, anggur, hingga kebun mawar yang masyhur). Oleh karenanya, para pembesar dan orang-orang kaya di tanah Makkah sejak abad ke-6 sudah menjadikan kota ini sebagai resor peristirahatan serta tujuan bertamasya.

Detail reruntuhan tembok batu bersejarah di Timur Tengah dengan sentuhan arsitektur tradisional yang disinari cahaya matahari

Asal-Usul Nama "Thaif"

Dikutip dari catatan literatur Islam Kembara Sahabat Haramain, secara etimologi bahasa Arab, nama "Thaif" diturunkan dari kata kerja Thawafa (طوف) yang bermakna "berkeliling" atau "melingkari sesuatu".

Penamaan ini bukanlah tanpa alasan melaikan diambil karena kondisi fisik kotanya. Pada zaman jahiliah, penduduk asli wilayah tersebut, yakni Suku Bani Tsaqif, membangun tembol tebal yang mengelilingi (melingkari) seluruh pemukiman mereka sebagai benteng perlindungan dari serangan musuh atau perampok badui.

Saksi Bisu Penolakan Paling Pedih kepada Rasulullah

Bagi Nabi Muhammad SAW, nama kota Thaif menduduki tempat paling bersejarah, sekaligus menggoreskan kepedihan. Pada tahun ke-10 kenabian (yang dikenal sebagai Tahun Kesedihan atau 'Amul Huzni), beliau baru saja kehilangan dua pendukung terkuatnya: sang istri, Siti Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib.

Akibat perlindungan marganya di Makkah hilang, persekusi kafir Quraisy kian menjadi-jadi. Rasulullah SAW akhirnya memilih berjalan kaki bersama Zaid bin Haritsah menuju Kota Thaif guna mencari perlindungan dan mendakwahkan Islam kepada pemuka Bani Tsaqif.

Alih-alih disambut dengan pelukan hangat ala masyarakat terpandang, beliau justru mendapat salah satu perlakuan paling kasar sepanjang sejarah dakwah:

  • Ditolak Mentah-mentah: Tiga pemimpin besar suku Thaif (Abdu Yalil, Mas'ud, dan Habib) tegas mengusir beliau dengan cacian.
  • Dilempari Batu: Bukannya dibiarkan pergi dengan aman, para pemimpin itu menghasut budak, pemuda, hingga anak-anak untuk melempari Rasulullah dan Zaid dengan batu sepanjang perjalanan mereka ke luar perbatasan kota Thaif.
  • Darah di Jalan Dakwah: Riwayat menyebutkan lemparan batu begitu brutal hingga mengucurkan darah dari kaki Rasulullah sampai alas kakinya lengket oleh darah segar.

Kejadian tragis ini begitu pilu, hingga Malaikat Penjaga Gunung dikisahkan turun dan menawarkan diri untuk mengangkat dua gunung agar ditimpakan kepada penduduk Thaif. Namun, lewat kasih sayang luar biasa, Nabi Muhammad SAW justru mengangkat kedua tangannya seraya mendoakan dengan lembut, "Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka belum mengetahui. Aku berharap kelak dari keturunan mereka ada yang menyembah-Mu semata."

Kesimpulan

Hingga detik ini, Kota Thaif menjadi satu-satunya destinasi alam termewah di provinsi Makkah. Namun di balik keindahan dan udara sejuk pegunungannya, udara Thaif pernah merekam titik terendah sekaligus puncak kasih sayang sang manusia paling mulia yang membalas siksaan dengan doa kebaikan. Sebuah pelajaran kelembutan yang terus diingat oleh dunia Islam di mana pun berada.

Iklan
FE

Frans Eka

admin

Profil

Komentar

Nama
Email
Komentar

Komentar sebagai tamu akan ditinjau sebelum dipublikasikan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!