Read More
Kenapa Orang Bisa Membenarkan Perilaku Salah? Kenali Moral Disengagement
Psikologi

Kenapa Orang Bisa Membenarkan Perilaku Salah? Kenali Moral Disengagement

Moral disengagement adalah proses psikologis ketika seseorang membenarkan perilaku salah agar tidak merasa bersalah. Kenali arti, mekanisme, contoh, dampak, dan FAQ.

MI
Mahmud Ilham
11 Jul 2026 4 menit
Jadikan readmore.id sebagai preferensi terpercayamu di Google
Kenapa Orang Bisa Membenarkan Perilaku Salah? Kenali Moral Disengagement

Isi artikel

Moral disengagement adalah proses psikologis ketika seseorang membenarkan perilaku yang sebenarnya salah agar tidak merasa bersalah. Dengan cara ini, seseorang bisa tetap merasa dirinya baik, meski tindakannya merugikan orang lain.

Konsep ini banyak dikaitkan dengan teori Albert Bandura tentang bagaimana manusia dapat “mematikan” kontrol moralnya dalam situasi tertentu. Moral disengagement bisa muncul dalam bullying, cyberbullying, kekerasan verbal, kecurangan, diskriminasi, hingga perilaku tidak etis di tempat kerja.

Moral Disengagement Adalah Apa?

Moral disengagement adalah mekanisme ketika seseorang melepaskan diri dari standar moralnya sendiri. Ia tidak selalu mengubah keyakinannya tentang benar dan salah, tetapi mencari alasan agar tindakan yang salah terlihat wajar, perlu, atau tidak terlalu buruk.

Misalnya, seseorang tahu menghina orang lain itu salah. Namun, ia berkata, “Dia pantas diperlakukan begitu,” sehingga rasa bersalahnya berkurang. Di sinilah moral disengagement bekerja.

Contoh Moral Disengagement

  • “Aku cuma bercanda,” setelah menghina teman secara terus-menerus;
  • “Semua orang juga nyontek,” untuk membenarkan kecurangan;
  • “Dia memang pantas dipermalukan,” saat ikut merundung seseorang;
  • “Aku hanya mengikuti perintah,” untuk menghindari tanggung jawab;
  • “Komentarku tidak seberapa dibanding orang lain,” saat melakukan cyberbullying;
  • “Kalau dia kuat, harusnya tidak sakit hati,” untuk menyalahkan korban;
  • “Ini demi kebaikan kelompok,” saat membenarkan tindakan yang merugikan pihak lain.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan cara seseorang mengurangi rasa bersalah tanpa benar-benar memperbaiki tindakannya.

Mekanisme Moral Disengagement

Dalam pembahasan Bandura, moral disengagement dapat terjadi melalui beberapa mekanisme. Berikut versi yang mudah dipahami:

1. Moral justification

Seseorang membingkai tindakan salah sebagai sesuatu yang benar atau perlu. Contohnya, “Aku mempermalukan dia supaya dia belajar.”

2. Euphemistic labeling

Tindakan buruk diberi istilah yang terdengar lebih ringan. Contohnya, perundungan disebut “cuma bercanda” atau “tradisi senioritas”.

3. Advantageous comparison

Seseorang membandingkan tindakannya dengan hal yang lebih buruk agar terlihat tidak parah. Contohnya, “Aku cuma komentar, bukan mukul.”

4. Displacement of responsibility

Tanggung jawab dialihkan kepada pihak yang memberi perintah. Contohnya, “Aku hanya menjalankan instruksi.”

5. Diffusion of responsibility

Tanggung jawab disebar ke banyak orang. Contohnya, “Bukan aku saja, semua juga ikut.”

6. Distortion of consequences

Dampak buruk dikecilkan atau diabaikan. Contohnya, “Dia pasti biasa saja, tidak mungkin sesakit itu.”

7. Dehumanization

Korban dipandang kurang manusiawi atau tidak layak diperlakukan dengan hormat. Ini berbahaya karena bisa membuka jalan bagi tindakan yang lebih keras.

8. Blaming the victim

Korban disalahkan atas perlakuan buruk yang diterimanya. Contohnya, “Dia sendiri yang cari masalah.”

Moral Disengagement dalam Cyberbullying

Di dunia digital, moral disengagement sering muncul karena pelaku tidak melihat langsung ekspresi korban. Jarak layar membuat dampak perilaku terasa lebih jauh.

Contohnya, seseorang ikut menyerang korban di kolom komentar karena merasa “semua orang juga melakukan”. Ada juga yang menganggap hinaan online tidak serius karena hanya berupa teks. Padahal, dampaknya bisa nyata bagi kondisi psikologis korban.

Untuk memahami konteksnya, baca juga apa itu cyberbullying, penyebab seseorang melakukan cyberbullying, dan dampak negatif cyberbullying.

Dampak Moral Disengagement

  • membuat perilaku salah terasa normal;
  • mengurangi rasa bersalah setelah menyakiti orang lain;
  • memperkuat bullying atau cyberbullying;
  • membuat korban semakin disalahkan;
  • menghambat empati;
  • membuat kelompok ikut membenarkan tindakan tidak etis;
  • menurunkan tanggung jawab pribadi.

Di lingkungan kerja, pola seperti ini juga dapat berkaitan dengan dampak perilaku negatif di tempat kerja.

Cara Mengurangi Moral Disengagement

  1. Sebut tindakan dengan jelas. Jangan menyamarkan perundungan sebagai candaan jika dampaknya menyakiti.
  2. Lihat dampak pada korban. Tanyakan, “Bagaimana perasaan orang yang menerima perlakuan ini?”
  3. Ambil tanggung jawab pribadi. Hindari alasan “semua juga ikut” atau “aku cuma mengikuti perintah”.
  4. Berhenti menyalahkan korban. Perilaku salah tetap perlu dievaluasi tanpa memindahkan beban ke korban.
  5. Bangun budaya koreksi yang aman. Teman, sekolah, kantor, atau komunitas perlu bisa menegur perilaku tidak etis.
  6. Latih empati secara konkret. Bayangkan dampak tindakan pada hidup orang lain, bukan hanya niat pelaku.

FAQ Seputar Moral Disengagement

Apa arti moral disengagement?

Moral disengagement adalah proses ketika seseorang membenarkan perilaku salah agar tidak merasa bersalah atau bertanggung jawab secara moral.

Apa contoh moral disengagement?

Contohnya mengatakan “cuma bercanda” setelah menghina orang, “semua juga ikut” untuk membenarkan perundungan, atau “dia pantas mendapatkannya” untuk menyalahkan korban.

Siapa yang mengenalkan konsep moral disengagement?

Konsep ini banyak dikaitkan dengan psikolog Albert Bandura dalam pembahasan tentang agensi moral dan bagaimana orang membenarkan perilaku merugikan.

Apa hubungan moral disengagement dengan cyberbullying?

Moral disengagement dapat membuat pelaku cyberbullying merasa tindakannya tidak serius, tidak berdampak, atau wajar karena banyak orang lain juga melakukannya.

Apakah moral disengagement sama dengan tidak punya moral?

Tidak. Seseorang bisa tetap punya standar moral, tetapi sementara waktu membenarkan tindakan tertentu agar tidak merasa bersalah.

Bagaimana cara mencegah moral disengagement?

Caranya dengan menyebut tindakan secara jujur, melihat dampak pada korban, mengambil tanggung jawab pribadi, tidak menyalahkan korban, dan membangun budaya koreksi yang sehat.

Kesimpulan

Moral disengagement adalah proses psikologis yang membuat seseorang membenarkan perilaku salah agar tidak merasa bersalah. Mekanismenya bisa berupa pembenaran moral, pengalihan tanggung jawab, mengecilkan dampak, hingga menyalahkan korban.

Memahami konsep ini penting agar kita lebih peka terhadap alasan yang sering dipakai untuk menormalisasi perilaku merugikan, baik di dunia nyata maupun digital.

MI

Mahmud Ilham

kontributor

Profil

Komentar

Nama
Email
Komentar

Komentar sebagai tamu akan ditinjau sebelum dipublikasikan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!