Bagi muslim di Indonesia yang sedang mendalami tata bahasa Arab, istilah Nahwu dan Shorof tentu tidak asing lagi. Salah satu dasar yang wajib dipahami di dalamnya adalah pembagian tipe kata kerja atau dalam bahasa Arab disebut sebagai Fi'il. Pada bahasan kali ini, kita akan spesifik membedah pengertian, kaidah, hingga contoh fi'il mudhari yang sangat sering kita temukan di dalam ayat suci Al-Qur'an.
Berbeda dengan fi'il madhi yang menjelaskan pekerjaan pada masa lampau, fi'il mudhari adalah bentuk kata kerja yang menunjukkan sebuah pekerjaan atau peristiwa yang sedang berlangsung saat ini (present) atau akan terjadi di masa depan (future). Memahaminya tidak hanya membantu kelancaran berbahasa, namun juga penting bagi kita saat meresapi makna ayat saat sedang melaksanakan ibadah wajib maupun sunnah.
Ciri-ciri Fi'il Mudhari
Sebelum beranjak ke contoh-contoh kalimatnya, sangat penting untuk mengetahui bagaimana cara mengidentifikasi sebuah fi'il mudhari. Sebuah kata kerja termasuk ke dalam jenis ini apabila selalu diawali oleh salah satu dari empat huruf tambahan yang sering disingkat dengan "Anita" (أ, ن, ي, ت). Huruf-huruf tersebut dikenal dengan sebutan huruf mudhoro’ah.
- Alif (أ): Menunjukkan kata ganti orang pertama tunggal (Saya/Aku).
- Nun (ن): Menunjukkan kata ganti orang pertama jamak (Kami/Kita).
- Ya (ي): Menunjukkan kata ganti orang ketiga (Dia laki-laki/Mereka laki-laki).
- Ta (ت): Menunjukkan kata ganti orang kedua (Kamu) atau orang ketiga perempuan (Dia perempuan).
5 Contoh Fi'il Mudhari di Dalam Al-Qur'an
Dalam penelitian tata bahasa di Universitas-universitas Islam, sering dijumpai bahwa penggunaan fi'il mudhari mendominasi teks Al-Qur'an. Berikut adalah 5 contoh fi'il mudhari yang populer beserta artinya:
1. يَسْأَلُوْنَ (Yas’aluuna)
Berasal dari kata sa’ala (bertanya). Terdapat tambahan Ya' dan Wau-Nun di akhir yang menandakan "Mereka sedang/akan bertanya". Contohnya bisa dilihat pada ayat: "Yas'aluunaka 'anisy-syahril-haraam..." (Mereka bertanya kepadamu tentang bulan haram).
2. يَعْلَمُ (Ya'lamu)
Berasal dari kata 'alima (mengetahui), dengan tambahan huruf Ya mudhoro'ah. Artinya: "Dia (Allah) sedang/akan mengetahui (Maha Mengetahui)". Contoh dalam ayat: "Wallahu ya'lamu ma tusirruna wa ma tu'linun" (Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan).
3. تَعْبُدُوْنَ (Ta'buduuna)
Berasal dari kata dasar 'abada (menyembah). Artinya: "Kalian sedang/akan menyembah". Kata ini sering diucapkan saat membaca surat Al-Kafirun: "Laa a'budu maa ta'buduun" (Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah).
4. نَسْتَعِيْنُ (Nasta'iinu)
Berasal dari kata ista'ana (meminta pertolongan), diawali dengan huruf Nun (Kami). Artinya: "Kami memohon pertolongan". Ini wajib kita baca minimal 17 kali dalam sehari di dalam Al-Fatihah saat beribadah shalat: "Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin."
5. اَقُوْلُ (Aquulu)
Berasal dari kata qaala (berkata), ditambahkan huruf Alif di depan yang bermakna "Saya". Artinya: "Saya sedang/akan berkata". Contoh kalimatnya: "Wa laa aquulu lakum 'indii khaza'inullahi..." (Dan aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku).
Kesimpulan
Membedah grammar atau nahwu bahasa Arab sangatlah menantang sekaligus menyejukkan hati. Dengan memahami hakikat serta contoh fi'il mudhari—yaitu kata kerja untuk masa sekarang dan masa depan, Anda dapat mencerna secara mendalam makna-makna indah yang termaktub dalam teks bacaan Al-Qur'an dan doa harian kita. Semoga panduan praktis ini bisa mendukung perjalanan literasi Anda!