Read More
Musafir yang Kehabisan Bekal Disebut Apa? Ini Arti Ibnu Sabil dalam Zakat
Keuangan

Musafir yang Kehabisan Bekal Disebut Apa? Ini Arti Ibnu Sabil dalam Zakat

Musafir yang kehabisan bekal disebut ibnu sabil. Simak arti ibnu sabil, syarat menerima zakat, contoh kasus, dan hubungannya dengan 8 asnaf zakat.

SN
Silvi Nandia
22 Feb 2026 Diperbarui 19 Jun 2026 6 menit
Musafir yang Kehabisan Bekal Disebut Apa? Ini Arti Ibnu Sabil dalam Zakat

Isi artikel

Musafir yang kehabisan bekal disebut ibnu sabil. Dalam fikih zakat, ibnu sabil adalah orang yang sedang berada dalam perjalanan lalu kehabisan biaya atau terputus akses terhadap bekalnya, sehingga membutuhkan bantuan untuk melanjutkan perjalanan atau pulang.

Istilah ini penting karena ibnu sabil termasuk salah satu dari delapan golongan penerima zakat atau asnaf. Namun, tidak semua orang yang sedang bepergian otomatis disebut ibnu sabil. Ada syarat yang perlu diperhatikan, terutama tujuan perjalanan dan kondisi kebutuhannya.

Ilustrasi perlengkapan perjalanan musafir yang kehabisan bekal

Jawaban Singkat: Musafir yang Kehabisan Bekal Disebut Ibnu Sabil

Jika ada pertanyaan, “musafir yang kehabisan bekal disebut apa?”, jawabannya adalah ibnu sabil. Secara sederhana, ibnu sabil berarti orang yang berada di perjalanan dan membutuhkan pertolongan karena bekalnya habis, hilang, dicuri, atau tidak bisa diakses.

Dalam konteks zakat, bantuan kepada ibnu sabil biasanya diberikan secukupnya untuk kebutuhan perjalanan, seperti makan, transportasi, tempat singgah sementara, atau biaya pulang.

Arti Ibnu Sabil

Secara bahasa, ibnu sabil berasal dari dua kata Arab: ibnu yang berarti anak, dan sabil yang berarti jalan. Secara istilah, maknanya bukan “anak jalanan”, melainkan orang yang sedang berada di jalan atau dalam perjalanan.

Dalam pembahasan zakat, ibnu sabil merujuk pada musafir yang sedang membutuhkan bantuan karena perjalanan terhenti akibat kehabisan bekal. Ia bisa saja sebenarnya mampu di tempat asalnya, tetapi sedang tidak memiliki akses biaya saat berada di perjalanan.

Kenapa Ibnu Sabil Berhak Menerima Zakat?

Ibnu sabil termasuk dalam delapan golongan penerima zakat yang disebut dalam Surah At-Taubah ayat 60. Delapan golongan itu biasanya dikenal sebagai 8 asnaf zakat.

NoGolongan Penerima ZakatPenjelasan Singkat
1FakirOrang yang hampir tidak memiliki harta atau penghasilan
2MiskinOrang yang memiliki penghasilan, tetapi belum cukup memenuhi kebutuhan pokok
3AmilPetugas atau pengelola zakat
4MualafOrang yang dilunakkan hatinya dalam Islam
5RiqabBudak atau hamba sahaya yang ingin merdeka dalam konteks klasik
6GharimOrang yang terlilit utang untuk kebutuhan yang dibenarkan
7FisabilillahOrang atau kegiatan di jalan Allah sesuai ketentuan syariat
8Ibnu sabilMusafir yang kehabisan bekal dalam perjalanan

Karena termasuk asnaf, ibnu sabil boleh menerima zakat ketika benar-benar membutuhkan bantuan perjalanan. Bantuan ini bukan untuk memperkaya, melainkan untuk mengatasi kondisi darurat atau kebutuhan wajar selama perjalanan.

Syarat Musafir Disebut Ibnu Sabil

Agar seorang musafir bisa disebut ibnu sabil dalam konteks penerima zakat, umumnya ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi.

1. Sedang berada dalam perjalanan

Ibnu sabil adalah orang yang sedang melakukan perjalanan atau berada jauh dari tempat tinggalnya. Ia tidak sedang dalam kondisi normal di rumah atau lingkungan asalnya.

2. Kehabisan bekal atau tidak bisa mengakses hartanya

Kondisinya benar-benar membutuhkan bantuan. Misalnya uang hilang, dompet dicuri, tiket pulang tidak terbeli, atau akses ke rekening bermasalah saat berada di perjalanan.

3. Perjalanan bukan untuk maksiat

Dalam fikih, perjalanan yang menjadi dasar bantuan zakat tidak boleh bertujuan maksiat. Perjalanan untuk hal mubah atau baik, seperti bekerja, belajar, berdagang halal, silaturahmi, atau pulang ke keluarga, lebih sesuai dengan makna ibnu sabil.

4. Bantuan diberikan secukupnya

Ibnu sabil dibantu sesuai kebutuhan perjalanan, bukan diberi tanpa batas. Misalnya cukup untuk makan, transportasi, penginapan sementara, atau biaya pulang ke tempat asal.

Contoh Ibnu Sabil dalam Kehidupan Sehari-hari

  • Seorang perantau kehilangan dompet saat perjalanan pulang dan tidak punya biaya membeli tiket.
  • Musafir kehabisan bekal di kota lain, sementara keluarganya belum bisa mengirim bantuan.
  • Orang yang bepergian untuk mencari nafkah secara halal, lalu tertipu dan tidak punya biaya kembali.
  • Pelajar atau pekerja yang berada di perjalanan jauh dan terputus dari akses uangnya karena kondisi darurat.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa ibnu sabil tidak selalu berarti orang miskin permanen. Ia bisa menjadi membutuhkan karena situasi perjalanan.

Apakah Orang Kaya Bisa Menjadi Ibnu Sabil?

Bisa, jika ia sedang tidak dapat mengakses hartanya saat perjalanan dan benar-benar membutuhkan bantuan. Misalnya seseorang punya harta di kota asal, tetapi saat berada di perjalanan uangnya hilang dan tidak ada cara cepat untuk pulang.

Namun, bantuannya tetap sebatas kebutuhan perjalanan. Jika ia masih bisa mengakses rekening, keluarga, atau pihak yang menanggung, maka status kebutuhannya perlu dinilai lebih hati-hati.

Bedanya Ibnu Sabil dengan Fakir dan Miskin

Fakir dan miskin berkaitan dengan kondisi ekonomi sehari-hari. Sementara ibnu sabil berkaitan dengan kondisi seseorang dalam perjalanan.

GolonganFokus KondisiContoh
FakirHampir tidak punya harta atau penghasilanTidak mampu memenuhi kebutuhan pokok harian
MiskinPunya penghasilan, tetapi belum cukupPenghasilan ada, tetapi kurang untuk kebutuhan dasar
Ibnu sabilTerlantar atau kehabisan bekal saat perjalananMusafir kehilangan uang dan butuh ongkos pulang

Apakah Ibnu Sabil Sama dengan Pengemis Jalanan?

Tidak selalu. Ibnu sabil adalah istilah fikih untuk musafir yang membutuhkan bantuan karena kondisi perjalanan. Seseorang yang meminta-minta di jalan belum tentu ibnu sabil jika tidak jelas sedang dalam perjalanan, tidak memenuhi syarat, atau menjadikan meminta-minta sebagai kebiasaan.

Karena itu, lembaga zakat biasanya perlu melakukan verifikasi agar dana zakat tepat sasaran. Jika ingin membantu secara pribadi, tetap baik untuk bertanya dengan sopan dan memberi bantuan yang sesuai kebutuhan, seperti makanan, tiket, atau mengarahkan ke lembaga resmi.

Cara Membantu Ibnu Sabil

  • Memberikan makanan atau minuman bila ia kelaparan.
  • Membantu biaya transportasi pulang secukupnya.
  • Mengarahkan ke masjid, lembaga zakat, atau pos bantuan setempat.
  • Menyalurkan zakat melalui lembaga resmi jika ingin bantuan lebih tertib.
  • Memastikan bantuan tidak dipakai untuk tujuan yang merugikan atau maksiat.

FAQ

Musafir yang kehabisan bekal disebut apa?

Musafir yang kehabisan bekal disebut ibnu sabil. Ia termasuk salah satu golongan yang berhak menerima zakat jika memenuhi syarat.

Ibnu sabil adalah siapa?

Ibnu sabil adalah orang yang sedang dalam perjalanan dan membutuhkan bantuan karena kehabisan bekal, kehilangan uang, atau tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Apakah ibnu sabil termasuk penerima zakat?

Ya. Ibnu sabil termasuk salah satu dari 8 asnaf atau golongan penerima zakat.

Apakah semua musafir boleh menerima zakat?

Tidak. Musafir yang masih cukup bekalnya, masih bisa mengakses hartanya, atau melakukan perjalanan untuk maksiat tidak otomatis berhak menerima zakat sebagai ibnu sabil.

Bantuan untuk ibnu sabil diberikan sebanyak apa?

Bantuan diberikan secukupnya sesuai kebutuhan perjalanan, seperti makan, tempat singgah sementara, transportasi, atau biaya pulang.

Kesimpulan

Musafir yang kehabisan bekal disebut ibnu sabil. Dalam Islam, ibnu sabil termasuk golongan penerima zakat karena ia membutuhkan bantuan saat berada dalam perjalanan. Syarat utamanya, ia benar-benar membutuhkan, perjalanan tidak untuk maksiat, dan bantuan diberikan sesuai kebutuhan wajar.

Untuk memahami topik zakat lain, baca juga gharim sebagai penerima zakat, zakat penghasilan berapa persen, dan kalkulator zakat penghasilan online.

SN

Silvi Nandia

kontributor

Profil

Komentar

Nama
Email
Komentar

Komentar sebagai tamu akan ditinjau sebelum dipublikasikan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!