Read More
SDKI Hipertermia (D.0130): Pengertian, Penyebab, dan Tanda Gejala Lengkap!
Keperawatan

SDKI Hipertermia (D.0130): Pengertian, Penyebab, dan Tanda Gejala Lengkap!

Bingung membuat askep SDKI Hipertermia? Simak panduan lengkap D.0130 tentang pengertian, penyebab (etiologi), dan tanda gejalanya sesuai standar PPNI.

TF
Tania Fitrawan
3 Mar 2026 3 menit
Jadikan readmore.id sebagai preferensi terpercayamu di Google
SDKI Hipertermia (D.0130): Pengertian, Penyebab, dan Tanda Gejala Lengkap!

Isi artikel

Iklan

Bagi rekan-rekan perawat atau mahasiswa keperawatan di Indonesia, menemukan pasien dengan keluhan demam tinggi adalah hal yang sangat lumrah. Saat membuat laporan asuhan keperawatan, kita dituntut untuk menegakkan diagnosis yang tepat sesuai standar yang berlaku. Pernahkah Anda merasa bingung membedakan antara hipertermia dan demam biasa dalam penyusunan askep?

Dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) yang diterbitkan oleh PPNI, Hipertermia (Kode: D.0130) adalah diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai suhu tubuh meningkat di atas rentang normal tubuh. Diagnosis ini masuk dalam kategori lingkungan, subkategori keamanan dan proteksi.

Artikel ini akan membedah secara lengkap tentang diagnosis SDKI Hipertermia, mulai dari tanda dan gejala mayor, penyebab utama, hingga pendokumentasian yang benar agar Anda tidak lagi kesulitan saat dinas di rumah sakit atau puskesmas.

Pengertian Hipertermia Menurut SDKI

Dikutip dari situs resmi keperawatan Perawat.org, hipertermia adalah sebuah keadaan di mana individu mengalami peningkatan suhu tubuh di atas nilai normal (umumnya di atas 37,5°C - 38°C tergantung rentang acuan). Kondisi ini berbeda dengan ancaman hipertermia lingkungan (heatstroke), karena hipertermia dalam SDKI sering kali diakibatkan oleh respon tubuh terhadap sesuatu, seperti infeksi atau penyakit.

Tanda dan Gejala (Batasan Karakteristik)

Untuk dapat mengangkat diagnosis Hipertermia (D.0130), seorang perawat harus menemukan data objektif dan subjektif yang mendukung. Berdasarkan buku SDKI PPNI, tanda dan gejalanya dibagi menjadi:

Tanda dan Gejala Mayor:

  • Data Subjektif (DS): Tidak tersedia secara khusus (karena pengukuran suhu adalah parameter objektif).
  • Data Objektif (DO): Suhu tubuh terpantau di atas nilai normal.

Tanda dan Gejala Minor:

Meskipun suhu tubuh adalah indikator utama, perawat juga bisa mengamati gejala penyerta berikut untuk memperkuat diagnosis:

  • Kulit terasa hangat kemerahan (flushed).
  • Kejang atau takikardia (denyut jantung meningkat).
  • Napas terasa cepat (takipnea).
  • Kulit terasa kering atau sebaliknya, berkeringat berlebih.
Termometer digital menunjukkan suhu tinggi di samping rekam medis pasien hipertermia

Penyebab (Etiologi) Hipertermia D.0130

Mengapa suhu tubuh bisa naik tajam? Saat menuliskan diagnosis, bagian etiologi akan mengisi kolom "berhubungan dengan...". Berikut adalah penyebab hipertermia yang paling relevan menurut standar PPNI:

  1. Proses penyakit: Meliputi infeksi (seperti demam tifoid, demam berdarah), kanker, atau proses inflamasi lainnya.
  2. Dehidrasi: Kurangnya volume cairan tubuh membuat kemampuan regulasi suhu menurun.
  3. Terpapar lingkungan panas: Berada di bawah terik matahari terlalu lama atau ruangan bersuhu tinggi.
  4. Peningkatan laju metabolisme: Biasanya terjadi pada kondisi hipertiroidisme.
  5. Ketidaksesuaian pakaian: Memakai baju tebal di cuaca panas, terutama sering terjadi pada bayi dan balita yang demam.
  6. Aktivitas berlebihan: Olahraga intens atau kerja berat tanpa hidrasi cukup.
Catatan Penting: Banyak orang tua yang memakaikan selimut tebal saat anaknya demam karena merasa kedinginan (fase menggigil). Padahal, hal ini justru memperburuk hipertermia karena tubuh tidak bisa melepaskan panas (radiasi). Mitos seputar demam anak inilah yang perlu diedukasi oleh perawat.

Cara Penulisan Diagnosis Keperawatan

Berikut adalah contoh perumusan diagnosis keperawatan berdasarkan SDKI:

Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (mis. Infeksi saluran kemih) dibuktikan dengan suhu tubuh 39°C, kulit kemerahan, dan teraba hangat.

Manajemen Keperawatan Singkat (SIKI & SLKI)

Setelah diagnosis ditegakkan, langkah selanjutnya adalah intervensi (SIKI) dan luaran (SLKI). Luaran utama yang diharapkan tentu saja Termoregulasi Membaik, ditandai dengan suhu tubuh kembali ke rentang normal 36,5°C - 37,5°C.

Untuk intervensi utamanya, perawat di seluruh fasilitas kesehatan Indonesia disarankan menggunakan Manajemen Hipertermia (I.15506) yang meliputi:

  • Observasi: Identifikasi penyebab hipertermia, monitor suhu tubuh, dan pantau komplikasi.
  • Terapeutik: Longgarkan pakaian, berikan cairan oral yang cukup, lakukan kompres hangat (bukan air dingin/es) pada lipatan tubuh.
  • Edukasi: Anjurkan tirah baring.
  • Kolaborasi: Pemberian cairan IV dan obat antipiretik jika diperlukan sesuai indikasi medis.

Kesimpulan

Diagnosis SDKI Hipertermia (D.0130) adalah salah satu asuhan keperawatan dasar yang esensial. Dengan memahami definisi, etiologi yang tepat (mulai dari proses infeksi hingga dehidrasi), serta tanda gejala utama berupa suhu di atas nilai normal, perawat dapat menyusun laporan asuhan keperawatan yang akurat serta memberikan tindakan yang efektif dan aman bagi pasien.

Iklan
TF

Tania Fitrawan

kontributor

Profil

Komentar

Nama
Email
Komentar

Komentar sebagai tamu akan ditinjau sebelum dipublikasikan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!