Scroll untuk baca artikel
Rupa

Faktor Pendorong Peningkatan Desa Perkotaan di Pekalongan dan Sekitarnya

Avatar
×

Faktor Pendorong Peningkatan Desa Perkotaan di Pekalongan dan Sekitarnya

Sebarkan artikel ini
Faktor Pendorong Peningkatan Desa Perkotaan di Pekalongan dan Sekitarnya

Hai teman, hari ini kita akan membahas sebuah fenomena menarik yang terjadi di wilayah Pekalongan dan sekitarnya. Kamu tahu nggak kalau daerah ini mengalami peningkatan jumlah desa perkotaan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir? Nah, kita akan mengupas tuntas apa saja faktor-faktor yang mendorong peningkatan tersebut.

Urbanisasi dan Perkembangan Kota Pekalongan Sebagai Magnet

Pertama-tama, kita harus memahami bahwa Kota Pekalongan sendiri mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat sebagai pusat kegiatan ekonomi dan perdagangan di Jawa Tengah. Kota ini menjadi magnet bagi penduduk desa untuk melakukan urbanisasi atau migrasi ke kota dalam mencari peluang ekonomi yang lebih baik.

Nah, kehadiran para urban baru ini tentunya membutuhkan tempat tinggal dan fasilitas penunjang lainnya. Alhasil, desa-desa di pinggiran kota pun ikut berkembang menjadi kawasan perkotaan untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut.

“Pekalongan memang tumbuh pesat sebagai pusat ekonomi dan perdagangan di Jawa Tengah. Hal ini menarik migrasi penduduk dari desa ke kota yang pada akhirnya mendorong perkembangan desa-desa pinggiran menjadi kawasan perkotaan,” jelas Bapak Sunaryo, kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Pekalongan.

Kebijakan Pengembangan Wilayah yang Visioner

Selain faktor urbanisasi, ternyata pemerintah Kota Pekalongan juga memiliki peran dalam mendorong perkembangan desa-desa pinggiran menjadi kawasan perkotaan. Dalam Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) Pekalongan, wilayah kota dibagi menjadi beberapa Bagian Wilayah Kota (BWK) yang memiliki pusat kegiatan sesuai dengan skala lingkungannya.

Kebijakan ini secara tidak langsung mendorong perkembangan desa-desa di pinggiran kota menjadi kawasan perkotaan yang terintegrasi dengan pusat kota. Dengan demikian, desa-desa tersebut tidak hanya menjadi daerah pemukiman saja, tetapi juga memiliki fasilitas dan aktivitas ekonomi layaknya kawasan perkotaan.

Tabel berikut menunjukkan pembagian BWK di Kota Pekalongan beserta fungsi dan peruntukannya:

BWKFungsi UtamaPeruntukan
IPusat Pelayanan KotaPerkantoran, Perdagangan, Jasa
IIPermukiman dan IndustriPermukiman, Industri, Perdagangan
IIIKonservasiPertanian, Pariwisata
IVPengembangan WilayahPermukiman, Perdagangan, Jasa

Aksesibilitas dan Jaringan Transportasi yang Memadai

Faktor lain yang mendukung perkembangan desa-desa pinggiran Kota Pekalongan menjadi kawasan perkotaan adalah aksesibilitas dan jaringan transportasi yang memadai. Pemerintah terus mengembangkan sistem jaringan transportasi yang meningkatkan aksesibilitas antara Kota Pekalongan dengan wilayah sekitarnya.

Dengan adanya akses yang baik, pergerakan penduduk dan barang menjadi lebih lancar. Hal ini tentunya memfasilitasi perkembangan desa-desa pinggiran sebagai kawasan perkotaan yang terintegrasi dengan pusat kota.

Jalan Tol Pekalongan

Nah, setelah membahas faktor-faktor yang mendorong peningkatan desa perkotaan di pinggiran Kota Pekalongan, sekarang kita akan membahas lebih spesifik mengenai Kabupaten Batang yang mengalami kenaikan jumlah desa perkotaan paling banyak dibanding wilayah lain di sekitar Pekalongan.

Lokasi Strategis Kabupaten Batang

Kabupaten Batang memiliki lokasi yang sangat strategis karena berbatasan langsung dengan Kota Pekalongan dan terletak di jalur transportasi utama Pantura. Kedekatan dengan pusat pertumbuhan ekonomi Kota Pekalongan menjadikan Kabupaten Batang sebagai daerah penyangga yang menarik migrasi penduduk dan perkembangan kawasan perkotaan.

“Lokasinya yang strategis dekat dengan Kota Pekalongan dan jalur Pantura membuat Kabupaten Batang menjadi daerah penyangga yang potensial untuk berkembang menjadi kawasan perkotaan,” ungkap Ibu Sari, peneliti dari Universitas Diponegoro yang mengkaji perkembangan wilayah di Jawa Tengah.

Perkembangan Infrastruktur dan Aksesibilitas

Selain lokasi strategis, perkembangan infrastruktur dan aksesibilitas juga menjadi faktor pendorong utama kenaikan jumlah desa perkotaan di Kabupaten Batang. Pembangunan jalan dan transportasi yang menghubungkan Kabupaten Batang dengan kota-kota besar seperti Semarang dan Pekalongan meningkatkan aksesibilitas wilayah ini.

Aksesibilitas yang baik tentunya menarik investasi dan perkembangan kawasan perkotaan di Kabupaten Batang. Beberapa proyek infrastruktur besar seperti pembangunan jalan tol dan jalur kereta api juga turut mendukung perkembangan wilayah ini.

Pertumbuhan Ekonomi dan Lapangan Kerja

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja di Kabupaten Batang. Kabupaten ini mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, terutama di sektor industri dan perdagangan.

Pertumbuhan ekonomi tersebut tentunya menarik migrasi penduduk dari desa ke kota untuk mencari lapangan pekerjaan. Alhasil, desa-desa di Kabupaten Batang pun berkembang menjadi kawasan perkotaan untuk mengakomodasi kebutuhan permukiman dan fasilitas penunjang bagi para pekerja.

Kesimpulan

Nah, teman-teman, itulah faktor-faktor utama yang mendorong peningkatan signifikan jumlah desa perkotaan di kawasan pinggiran Kota Pekalongan dan kenaikan jumlah desa perkotaan yang tinggi di Kabupaten Batang. Secara garis besar, faktor-faktor tersebut meliputi urbanisasi, kebijakan pengembangan wilayah, aksesibilitas dan jaringan transportasi, serta pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.

Fenomena ini tentunya menarik untuk terus dipantau dan dikaji lebih lanjut, mengingat dampaknya yang cukup besar terhadap perkembangan wilayah dan kehidupan masyarakat di sekitar Pekalongan. Semoga pembahasan kali ini bisa menambah wawasan kita semua ya!

Baca Juga!  Proses Pemutusan Hubungan Kerja (PHK): Hak dan Proses yang Harus Diketahui oleh Pekerja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *