Bagi para pegiat sastra Indonesia, nama H.B. Jassin tentu tidak asing lagi. Namun, banyak yang mungkin bertanya, “Lembaga apa yang didirikan oleh H.B. Jassin di Jakarta untuk melestarikan karya sastra?”
Jawabannya adalah Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin. Lembaga ini adalah harta karun tak ternilai yang menjadi pusat arsip dan dokumentasi sastra terlengkap di Indonesia. Artikel ini akan membahas tuntas tentang PDS H.B. Jassin dan siapa saja pahlawan di balik layar yang membantunya tetap hidup.
Apa Itu Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin?
PDS H.B. Jassin adalah sebuah lembaga nirlaba yang berlokasi di Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Lembaga ini didirikan secara resmi pada 30 Mei 1977, namun cikal bakalnya adalah koleksi pribadi Hans Bague Jassin, sang kritikus yang dijuluki “Paus Sastra Indonesia”.
Sejak tahun 1933, H.B. Jassin dengan tekun mengumpulkan berbagai dokumen sastra, mulai dari tulisan tangan asli para sastrawan, surat-menyurat, kliping koran, majalah langka, hingga rekaman suara. Atas prakarsa Ajip Rosidi dan dukungan kuat dari Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, koleksi pribadi ini dilembagakan agar bisa diakses dan dimanfaatkan oleh publik.
Siapa Saja yang Membantu Lembaga Dokumentasi H.B. Jassin?
Sebuah lembaga sebesar PDS H.B. Jassin tidak akan mampu bertahan selama puluhan tahun tanpa dukungan dari berbagai pihak. Berikut adalah pilar-pilar utama yang menopang keberadaannya:
1. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
Pemprov DKI Jakarta adalah penopang utama. Sejak awal, mereka menyediakan fasilitas gedung di TIM. Puncaknya, pada tahun 2018 di era Gubernur Anies Baswedan, pengelolaan PDS H.B. Jassin secara resmi diambil alih oleh Pemprov melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) untuk menjamin keberlangsungan dan pendanaannya.
2. Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Yayasan inilah yang menjadi motor penggerak awal. Didirikan pada 1976 oleh Ajip Rosidi dan tokoh lainnya, yayasan ini bertugas mengelola koleksi pribadi Jassin sebelum akhirnya diserahkan kepada pemerintah. Peran mereka dalam peletakan fondasi sangat krusial.
3. Para Donatur
Dukungan dari donatur, baik perorangan maupun lembaga, sangat signifikan. Bantuan ini tidak hanya berupa uang, tetapi juga sumbangan buku langka, dokumen sastra, majalah lawas, dan berbagai arsip berharga lainnya yang memperkaya koleksi.
4. Komunitas Sastra dan Akademisi
Para peneliti, mahasiswa, sastrawan, dan komunitas literasi adalah “nyawa” dari PDS H.B. Jassin. Mereka aktif memanfaatkan koleksi untuk penelitian, skripsi, tesis, dan berbagai kegiatan sastra. Aktivitas mereka sekaligus mempromosikan pentingnya lembaga ini.
5. Masyarakat Umum
Dukungan moral dari masyarakat umum yang peduli pada pelestarian sejarah dan budaya juga tak kalah penting. Setiap kunjungan, setiap pembicaraan, dan setiap unggahan di media sosial tentang PDS H.B. Jassin membantu menjaga eksistensi dan relevansinya.
Tantangan dan Masa Depan
Kini, tantangan utama PDS H.B. Jassin adalah digitalisasi. Upaya untuk mengubah puluhan ribu koleksi fisik menjadi format digital terus dilakukan agar bisa diakses oleh lebih banyak orang di seluruh dunia. Dengan dukungan penuh dari Pemprov DKI, masa depan pusat dokumentasi ini diharapkan semakin cerah sebagai benteng pertahanan sastra Indonesia.
Terima kasih telah membaca. Semoga informasi ini memberikan wawasan baru tentang PDS H.B. Jassin dan orang-orang hebat di baliknya.