Scroll untuk baca artikel
Bisnis

Workaholic Bukan Pekerja Keras: Bedanya dan Bahayanya

×

Workaholic Bukan Pekerja Keras: Bedanya dan Bahayanya

Sebarkan artikel ini
Workaholic

Workaholic adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang dengan kecanduan kerja atau keinginan yang tidak terkendali untuk terus menerus bekerja. Workaholic seringkali disamakan dengan pekerja keras, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar.

Pekerja keras bekerja dengan sungguh-sungguh dan produktif, namun masih memperhatikan keseimbangan hidup dengan baik. Sementara workaholic hanya memikirkan pekerjaan dan mengesampingkan hal lain seperti kesehatan, keluarga, teman, dan hobi.

Pengertian Workaholic

Menurut American Psychology Association, workaholic merupakan kondisi dimana seseorang merasa terpaksa atau memiliki kebutuhan dari dalam dirinya sendiri untuk terus menerus bekerja. Dorongan ini bukan berasal dari faktor eksternal, melainkan diciptakan oleh diri sendiri.

Workaholic juga kerap disebut sebagai kecanduan kerja. Meski demikian, workaholic belum diakui sebagai gangguan mental atau penyakit.

Ciri-Ciri Workaholic

Berikut adalah ciri-ciri umum dari seorang workaholic:

  1. Pikiran didominasi pekerjaan hampir setiap waktu. Bahkan di luar jam kerja sekalipun, seorang workaholic masih memikirkan dan membicarakan pekerjaan.
  2. Tidak memiliki banyak waktu untuk menjalin hubungan dekat dengan orang lain. Karena terlalu disibukkan dengan pekerjaan, workaholic sulit membentuk hubungan dekat di luar lingkup pekerjaan.
  3. Tidak mengenal kata libur atau cuti. Workaholic akan merasa gelisah, stres, dan tidak nyaman jika tidak bekerja meskipun sedang berlibur atau sakit. Mereka yakin pekerjaan akan kacau tanpa kehadiran mereka.
  4. Menganggap pekerjaan sebagai prioritas utama di atas kepentingan pribadi ataupun orang lain. Bagi workaholic, urusan pekerjaan harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum mengurusi hal lain.
  5. Tidak menyadari dampak buruk dari pola kerja berlebihan. Workaholic cenderung abai terhadap efek negatif kesehatan fisik dan mental akibat kebiasaan bekerja tanpa hentinya.
Baca Juga!  Analisis Peran Teknologi Digital dalam Bisnis Beserta Contohnya

Penyebab Workaholic

Beberapa hal yang menyebabkan seseorang menjadi workaholic antara lain:

  • Tekanan dan tuntutan pekerjaan yang tinggi
  • Rasa tidak aman akan posisi atau karir
  • Mencari pengakuan dan pujian melalui kesuksesan karir
  • Menghindari masalah dengan cara bekerja terus-menerus
  • Merasa bersalah dan tidak berharga ketika tidak bekerja
  • Memiliki obsesi yang berlebihan terhadap pekerjaan

Dampak Negatif Workaholic

Menjadi workaholic memiliki sejumlah efek buruk, di antaranya:

  • Burnout atau kelelahan ekstrem akibat beban kerja berlebihan
  • Gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, hingga insomnia
  • Risiko penyakit fisik seperti diabetes, stroke, jantung, dan lainnya
  • Produktivitas dan kinerja justru menurun
  • Hubungan dengan keluarga dan teman menjadi renggang

Perbedaan Workaholic dan Pekerja Keras

Meski terlihat mirip, workaholic dan pekerja keras sebenarnya memiliki perbedaan mendasar, yaitu:

WorkaholicPekerja Keras
Bekerja karena adanya dorongan dari dalam diriBekerja karena menikmati pekerjaannya
Tidak bahagia saat bekerjaBahagia dan bangga dengan pekerjaannya
Produktivitas cenderung menurunProduktivitas tetap terjaga dengan baik
Bekerja tanpa batasan waktuMemiliki batasan waktu kerja yang jelas
Mengabaikan kebutuhan pribadiTetap memperhatikan kebutuhan pribadi

Cara Mengatasi Workaholic

Beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mengatasi workaholic:

  • Membatasi jam kerja dan waktu lembur
  • Menetapkan jadwal kerja yang jelas setiap harinya
  • Memprioritaskan kesehatan fisik dan mental
  • Berlibur atau cuti untuk melepaskan diri sejenak dari pekerjaan
  • Tidak membawa pekerjaan pulang atau membuka email kantor saat sedang libur
  • Meluangkan waktu untuk bersosialisasi dengan keluarga dan teman
  • Melakukan hobi atau kegiatan yang disukai di luar pekerjaan
  • Mengikuti terapi atau konseling jika diperlukan

Penutup

Workaholic bukanlah hal yang patut dibanggakan meskipun terlihat seperti etos kerja yang tinggi. Kebiasaan ini justru berisiko mengganggu kesehatan dan kebahagiaan seseorang dalam jangka panjang.

Baca Juga!  Proses Pengujian Substantif: Prosedur Analitis pada Utang Dagang

Oleh karena itu, sangat penting bagi penderita workaholic maupun lingkungannya untuk mengenali tanda-tanda dini dan segera mengambil langkah preventif atau kuratif. Dengan demikian, produktivitas tetap terjaga seiring tercapainya keseimbangan hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *