Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Teori Belajar Kognitif: Memahami Proses Berpikir dalam Belajar

×

Teori Belajar Kognitif: Memahami Proses Berpikir dalam Belajar

Sebarkan artikel ini
Teori Belajar Kognitif

Teori belajar kognitif adalah salah satu pendekatan dalam psikologi pendidikan yang berfokus pada studi tentang proses mental yang terjadi dalam diri siswa saat belajar. Teori ini menjelaskan bahwa belajar bukan sekadar perubahan tingkah laku yang dapat diamati, tetapi juga melibatkan aktivitas mental siswa dalam memproses informasi.

Sejarah Perkembangan Teori Belajar Kognitif

Temanku, teori belajar kognitif berkembang seiring dengan perkembangan psikologi kognitif itu sendiri. Awalnya para ahli psikologi beranggapan bahwa tingkah laku manusia sepenuhnya dikendalikan oleh stimulus dan respon, atau yang disebut dengan teori behaviorisme.

Namun pada 1950-an, para psikolog mulai mempertanyakan pandangan ini. Mereka yakin bahwa ada proses mental internal yang ikut berperan dalam belajar. Dua tokoh utama dalam perkembangan teori kognitif adalah Jean Piaget dan Lev Vygotsky.

Jean Piaget

Jean Piaget adalah seorang psikolog Perancis yang melakukan studi mendalam tentang perkembangan kognitif anak. Ia membagi tahap perkembangan kognitif menjadi 4 tahap:

  1. Sensorimotor (0-2 tahun): bayi mulai memahami dunia melalui indera dan gerakan motorik.
  2. Praoperasional (2-7 tahun): anak mulai menggunakan simbol dan bahasa, tetapi masih berpikir egosentris.
  3. Operasional Konkret (7-11 tahun): anak mulai berpikir logis menggunakan objek konkret.
  4. Operasional Formal (11 tahun ke atas): remaja dan orang dewasa mulai berpikir abstrak menggunakan logika.
Baca Juga!  7 Keunggulan Pengintegrasian SKP ke dalam Platform Merdeka Mengajar

Menurut Piaget, perkembangan kognitif anak didorong oleh 2 proses, yaitu:

  • Asimilasi: mengintegrasikan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada di benak anak.
  • Akomodasi: menyesuaikan skema kognitif yang sudah ada untuk mengakomodasi informasi baru.

Kedua proses ini akan menciptakan keseimbangan (equilibrium) dalam perkembangan mental anak.

Lev Vygotsky

Lev Vygotsky adalah psikolog Rusia yang menekankan peran budaya dan interaksi sosial dalam perkembangan kognitif. Ia memperkenalkan konsep Zone of Proximal Development (ZPD), yaitu jarak antara apa yang bisa dilakukan anak secara mandiri dan apa yang bisa dilakukannya dengan bantuan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu.

Menurut Vygotsky, dengan scaffolding dan dukungan dari lingkungan sosialnya, anak akan mampu mencapai ZPD-nya untuk berkembang secara kognitif.

Kedua tokoh ini memberi kontribusi besar bagi lahir dan berkembangnya teori belajar kognitif. Berikut prinsip-prinsip utama dalam teori ini.

Prinsip-Prinsip Teori Belajar Kognitif

Ada beberapa prinsip utama dalam teori belajar kognitif, di antaranya:

Pembelajar Aktif Mengkonstruksi Pengetahuan

Berbeda dengan pandangan behavioristik yang menganggap siswa seperti blank slate, teori kognitif memandang siswa sebagai pembelajar aktif yang secara konstan mencoba membangun pemahaman tentang dunia di sekitarnya.

Dengan kata lain, pengetahuan bukanlah sesuatu yang dapat ditransfer begitu saja dari guru ke siswa. Siswa harus aktif mengkonstruksi pengetahuan di benak mereka sendiri dengan menghubungkan informasi baru pada skema yang sudah ada.

Pembelajaran Bermakna Penting untuk Transfer Pengetahuan

Agar pengetahuan yang dipelajari siswa dapat bertahan lama dan ditransfer untuk memecahkan masalah dalam konteks yang berbeda, maka pembelajaran harus bermakna. Artinya, konsep yang diajarkan harus dikaitkan dengan pengalaman dan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa.

Baca Juga!  Quizizz dan Implementasi Kurikulum Merdeka

Guru tidak bisa begitu saja menjejalkan fakta-fakta kepada siswa tanpa membantu mereka mengaitkannya dengan skema yang sudah ada di benak mereka. Siswa juga harus diberi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan yang sudah didapatkan untuk memecahkan masalah dalam konteks dunia nyata.

Motivasi dan Emosi Mempengaruhi Belajar

Psikolog kognitif percaya bahwa faktor afektif seperti motivasi, minat, dan emosi ikut berpengaruh terhadap proses encoding informasi di memori siswa. Misalnya, siswa yang termotivasi dan tertarik pada suatu topik akan lebih mudah mengingat informasinya.

Begitu pula dengan emosi, informasi yang dikaitkan dengan emosi tertentu, baik positif ataupun negatif, akan lebih cepat diingat. Oleh karena itu, guru perlu memperhatikan aspek motivasi dan emosi siswa dalam pembelajaran, bukan hanya kognisinya saja.

Nah, itu dia 3 prinsip utama dalam teori belajar kognitif temanku. Mari kita bahas lebih detail bagaimana penerapannya dalam pembelajaran.

Penerapan Teori Belajar Kognitif dalam Pembelajaran

Berdasarkan prinsip-prinsip di atas, berikut ini adalah beberapa strategi pembelajaran yang sejalan dengan teori belajar kognitif:

Penyampaian Materi Secara Bertahap (Scaffolding)

Menurut teori perkembangan kognitif Piaget, siswa belum bisa memahami konsep-konsep yang terlalu abstrak di luar tahap perkembangannya. Oleh karena itu, materi pelajaran harus disampaikan secara bertahap, dimulai dari yang konkret ke abstrak.

Guru dapat memberikan scaffolding atau dukungan saat siswa belum mampu memahami konsep pada tahap tertentu. Scaffolding bisa berupa petunjuk, contoh, ataupun penyederhanaan masalah. Tujuannya adalah membantu siswa sampai ia mampu mandiri.

Stimulasi Pertanyaan untuk Merangsang Berpikir

Daripada hanya memberi ceramah, guru dianjurkan untuk merangsang siswa berpikir dengan memberikan pertanyaan terbuka yang memiliki banyak kemungkinan jawaban. Misalnya, alih-alih bertanya “apakah air memiliki massa?”, guru bisa bertanya “mengapa kapal bisa tenggelam?”

Baca Juga!  Cara Efektif Membantu Anak TK Beradaptasi dengan Lingkungan Sekolah

Pertanyaan seperti ini mendorong siswa untuk menggali pengetahuan awal mereka, dan mengasosiasikan dengan informasi baru yang disampaikan guru. Diskusi interaktif dengan pertanyaan terbuka akan memaksimalkan proses berpikir siswa.

Pemanfaatan Pengalaman Siswa dalam Pembelajaran

Prinsip pembelajaran bermakna menyatakan bahwa siswa belajar lebih baik ketika apa yang dipelajari dikaitkan dengan pengalaman mereka sehari-hari. Oleh karena itu, jadikan pengalaman pribadi siswa sebagai jembatan untuk menyampaikan konsep baru.

Biarkan siswa berbagi pengalaman terlebih dahulu sebelum mengaitkannya dengan materi pelajaran. Siswa juga bisa diberi kesempatan untuk menerapkan konsep yang baru saja dipelajari untuk menyelesaikan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Penggunaan Model dan Visualisasi

Dalam teori perkembangan kognitif Piaget, anak-anak berada pada tahap operasional konkret dimana mereka belajar melalui benda-benda kongkret. Oleh karena itu, gunakan model, charta, diagram dan media kongkret lainnya untuk memfasilitasi pembelajaran mereka sebelum sampai ke tahap operasional formal.

Bahkan sampai remaja dan dewasa pun, visualisasi seperti video, simulasi komputer, atau model 3D tetap efektif untuk mendukung pembelajaran karena otak kita lebih mudah memproses informasi visual daripada verbal.

Nah, itu dia beberapa contoh strategi pembelajaran berbasis teori kognitif. Pada intinya, teori ini ingin mengubah cara pandang bahwa belajar hanyalah transfer pengetahuan. Justru siswalah yang harus aktif mengonstruksi pengetahuannya sendiri dengan dukungan guru.

Semoga artikel singkat ini bisa menambah pemahamanmu tentang teori belajar kognitif ya teman! Jika tertarik untuk mempelajari lebih lanjut, kamu bisa baca artikel perkembangan kognitif Piaget atau artikel tentang penerapan teori Vygotsky dalam pembelajaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *