Teori Belajar Behavioristik

Akbar Fauziah

Teori belajar behavioristik adalah salah satu teori pembelajaran tertua yang masih relevan hingga saat ini. Teori ini berfokus pada aspek perilaku yang teramati dan terukur dari proses belajar. Menurut pandangan behaviorisme, belajar pada dasarnya adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon.

Sejarah Teori Behavioristik

Teori belajar behavioristik mulai berkembang pada awal abad ke-20. Beberapa tokoh penting yang berperan dalam perkembangan teori ini antara lain:

Ivan Pavlov

Pavlov adalah seorang psikolog Rusia yang menemukan konsep classical conditioning. Ia melakukan eksperimen dengan anjing, di mana anjing tersebut diajarkan untuk mengeluarkan air liur setiap kali mendengar bunyi bel. Eksperimen Pavlov inilah yang menjadi cikal bakal munculnya teori behavioristik.

Edward Thorndike

Thorndike adalah seorang psikolog Amerika yang mengembangkan hukum “trial and error learning”. Ia melakukan eksperimen dengan menempatkan kucing di dalam kotak pemecah masalah. Kucing tersebut akan mencoba berbagai cara untuk keluar dari kotak hingga menemukan cara yang tepat. Eksperimen ini menunjukkan bahwa belajar itu melibatkan proses coba-coba.

John B. Watson

Watson dianggap sebagai pendiri aliran behaviorisme. Ia mendefinisikan belajar sebagai proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan. Menurut Watson, psikologi seharusnya hanya berfokus pada perilaku yang teramati, bukan interpretasi mental. Pandangan inilah yang melandasi munculnya behaviorisme.

B.F. Skinner

Skinner adalah tokoh behaviorisme yang paling berpengaruh. Ia mengembangkan konsep operant conditioning yang menjelaskan proses belajar melalui penguatan dan hukuman. Teori Skinner banyak diaplikasikan dalam program pengajaran berbantuan komputer.

Baca Juga!
Implikasi Eksperimen Pavlov pada Pembelajaran

Prinsip-Prinsip Teori Behavioristik

Berikut ini adalah beberapa prinsip utama dari teori belajar behavioristik:

Perubahan Perilaku yang Teramati

Menurut pandangan behaviorisme, belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku yang teramati dan terukur. Misalnya, siswa yang semula tidak bisa menulis, setelah belajar ia mampu menulis dengan baik.

Stimulus dan Respon

Dalam proses belajar, stimulus dan respon menjadi fokus utama. Stimulus adalah rangsangan dari luar yang diberikan kepada siswa, sedangkan respon adalah reaksi atau jawaban siswa terhadap stimulus tersebut.

Penguatan (Reinforcement)

Prinsip penguatan sangat penting dalam teori behavioristik. Penguatan positif dan negatif diberikan untuk membentuk perilaku baru pada siswa. Misalnya, pujian dan hadiah dapat menguatkan perilaku yang diinginkan.

Hukuman

Hukuman berfungsi untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. Misalnya, teguran dapat mengurangi perilaku siswa yang suka mengganggu teman-temannya.

Latihan dan Pembiasaan

Latihan dan pembiasaan perilaku baru sangat diperlukan agar perilaku tersebut menetap. Oleh karena itu, drill dan latihan sangat ditekankan dalam penerapan teori behavioristik.

Penerapan Teori Behavioristik dalam Pembelajaran

Berikut ini adalah beberapa contoh penerapan prinsip-prinsip behavioristik dalam kegiatan pembelajaran:

Penggunaan Reward dan Punishment

Guru dapat memberikan reward (hadiah) untuk mendorong perilaku positif siswa, seperti memberikan pujian atau nilai tambahan bagi siswa yang aktif bertanya atau menjawab pertanyaan. Sementara itu, punishment (hukuman) dapat digunakan untuk mengurangi perilaku negatif, seperti menegur siswa yang ribut di kelas.

Latihan dan Pembiasaan

Siswa perlu melakukan latihan dan drill secara berulang-ulang agar perilaku baru dapat menetap. Misalnya, latihan menulis, latihan soal matematika, dan sebagainya. Latihan ini diperlukan untuk membiasakan keterampilan tertentu.

Program Pengajaran Berbantuan Komputer

Program pengajaran berbantuan komputer (Computer-Assisted Instruction) banyak menerapkan prinsip-prinsip operant conditioning milik Skinner. Siswa akan belajar melalui stimulus dan respon yang diberikan komputer, serta mendapat umpan balik langsung atas respon yang diberikan.

Baca Juga!
Serangan Pertama Sultan Agung ke Batavia: Sebuah Epos dalam Sejarah Mataram

Itulah pembahasan singkat mengenai teori belajar behavioristik beserta contoh penerapannya. Teori ini masih relevan digunakan sampai saat ini terutama dalam hal pembentukan skill dan kebiasaan baru pada siswa. Namun, teori ini dianggap terlalu sempit karena hanya berfokus pada aspek perilaku yang tampak dan mengabaikan proses mental yang terjadi dalam diri siswa.

Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai teori pembelajaran, Anda dapat membaca artikel tentang teori belajar kognitif atau teori belajar konstruktivisme.

Also Read

Bagikan:

Akbar Fauziah

Akbar Fauziah adalah seorang penulis lulusan sarjana komunikasi yang suka ngeblog dan menulis novel. Dia dikenal sebagai admin yang baik hati dan penulis kreatif. Akbar mampu menghasilkan tulisan-tulisan menarik dan berkualitas, serta memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan pembaca secara positif. Profilnya sebagai penulis yang berhati baik dan kreatif menjadikannya sosok yang dihormati dalam dunia tulis-menulis.

Tags

Tinggalkan komentar