Read More
Kerajaan Malaka: Sejarah, Pendiri, Letak, Kejayaan, dan Runtuhnya
Sejarah

Kerajaan Malaka: Sejarah, Pendiri, Letak, Kejayaan, dan Runtuhnya

Kerajaan Malaka adalah kesultanan Melayu Islam di Semenanjung Malaya. Simak sejarah berdiri, pendiri Parameswara, letak, raja-raja, masa kejayaan, peninggalan, dan penyebab runtuhnya.

FE
Frans Eka
15 Apr 2026 Diperbarui 14 Jun 2026 5 menit
Jadikan readmore.id sebagai preferensi terpercayamu di Google
Kerajaan Malaka: Sejarah, Pendiri, Letak, Kejayaan, dan Runtuhnya

Isi artikel

Kerajaan Malaka atau Kesultanan Malaka adalah kerajaan Melayu Islam yang berpusat di Malaka, Semenanjung Malaya. Kerajaan ini berdiri sekitar abad ke-15 dan didirikan oleh Parameswara, yang kemudian dikenal dengan nama Islam Sultan Iskandar Syah dalam sejumlah sumber.

Kerajaan Malaka terkenal karena letaknya sangat strategis di tepi Selat Malaka. Posisi ini membuat Malaka berkembang menjadi pelabuhan dagang penting yang menghubungkan pedagang dari India, Arab, Persia, Tiongkok, dan Nusantara. Selain menjadi pusat perdagangan, Malaka juga berperan besar dalam penyebaran Islam dan perkembangan budaya Melayu.

Ringkasan Kerajaan Malaka

AspekKeterangan
Nama lainKesultanan Malaka atau Kesultanan Melaka
PendiriParameswara/Iskandar Syah
Perkiraan berdiriSekitar tahun 1400 M
LetakMalaka, Semenanjung Malaya, dekat Selat Malaka
CorakKerajaan Melayu Islam
Puncak kejayaanMasa Sultan Mansyur Syah
RuntuhDitaklukkan Portugis pada 1511
Raja terakhir sebelum PortugisSultan Mahmud Syah

Letak Kerajaan Malaka

Kerajaan Malaka terletak di Semenanjung Malaya, tepatnya di wilayah Melaka, Malaysia sekarang. Letaknya berada di dekat Selat Malaka, jalur pelayaran penting yang menghubungkan Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan.

Lokasi ini membuat Malaka mudah disinggahi kapal dagang dari berbagai wilayah. Kapal-kapal dari India, Arab, Tiongkok, Jawa, Sumatra, dan kawasan lain dapat berlabuh untuk berdagang, mengisi perbekalan, atau menunggu angin musim yang tepat.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Malaka

Berdirinya Kerajaan Malaka dikaitkan dengan perjalanan Parameswara. Dalam beberapa sumber Melayu, Parameswara digambarkan sebagai bangsawan dari Palembang yang kemudian berpindah ke Temasek dan akhirnya mendirikan pemukiman di Malaka.

Malaka berkembang cepat karena memiliki pelabuhan yang aman, posisi strategis, serta sistem pemerintahan yang mendukung perdagangan. Setelah Islam berkembang di lingkungan istana, Malaka semakin kuat sebagai kerajaan Islam dan pusat dakwah di Asia Tenggara.

Pendiri Kerajaan Malaka

Pendiri Kerajaan Malaka adalah Parameswara. Dalam tradisi sejarah Melayu, ia kemudian sering dikaitkan dengan nama Iskandar Syah setelah masuk Islam. Ada perbedaan detail dalam beberapa sumber tentang waktu dan proses Islamisasi penguasa Malaka, tetapi Parameswara tetap dikenal sebagai tokoh pendiri kerajaan ini.

Raja-Raja Kerajaan Malaka

Berikut daftar sultan yang sering disebut dalam sejarah Kesultanan Malaka:

NoNama SultanKeterangan
1Parameswara/Iskandar SyahPendiri Kerajaan Malaka
2Megat Iskandar SyahPenerus awal Kesultanan Malaka
3Muhammad SyahMasa penguatan pengaruh Islam
4Abu SyahidMemerintah dalam waktu relatif singkat
5Muzaffar SyahMemperkuat pemerintahan dan pertahanan
6Mansyur SyahMasa puncak kejayaan Malaka
7Alauddin Riayat SyahDikenal memperhatikan ketertiban pemerintahan
8Mahmud SyahRaja terakhir sebelum Malaka jatuh ke Portugis

Masa Kejayaan Kerajaan Malaka

Kerajaan Malaka mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah. Pada masa ini, Malaka menjadi pusat perdagangan internasional dan pusat penyebaran Islam yang sangat penting di Asia Tenggara.

Faktor yang mendorong kejayaan Malaka antara lain:

  • letaknya strategis di Selat Malaka;
  • pelabuhan aman dan ramai;
  • hubungan dagang luas dengan berbagai bangsa;
  • pemerintahan yang mampu menjaga keamanan perdagangan;
  • penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan dagang;
  • peran ulama dan pedagang Muslim dalam penyebaran Islam.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Malaka

Ekonomi Kerajaan Malaka bertumpu pada perdagangan maritim. Malaka menjadi pelabuhan transit atau entrepot, tempat barang dari berbagai wilayah dikumpulkan, dipertukarkan, lalu dikirim ke pasar lain.

Komoditas yang diperdagangkan meliputi rempah-rempah, kain, sutra, keramik, logam, hasil hutan, dan barang mewah. Para pedagang dari berbagai bangsa tinggal atau singgah di Malaka, sehingga kota ini berkembang menjadi pusat perdagangan yang kosmopolitan.

Peran Kerajaan Malaka dalam Penyebaran Islam

Malaka berperan penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Sebagai pelabuhan besar, Malaka mempertemukan pedagang, ulama, dan masyarakat dari berbagai wilayah. Islam menyebar melalui perdagangan, perkawinan, pendidikan, dan hubungan politik.

Pengaruh Malaka kemudian terasa di Semenanjung Malaya, Sumatra, pesisir Jawa, dan berbagai kawasan Nusantara. Bahasa Melayu yang berkembang di Malaka juga ikut menjadi media penting dalam penyebaran ajaran Islam dan budaya tulis Melayu.

Sumber Sejarah Kerajaan Malaka

Beberapa sumber penting untuk mempelajari Kerajaan Malaka antara lain:

  • Sulalatus Salatin atau Sejarah Melayu, yang memuat kisah raja-raja Melayu dan Malaka;
  • Suma Oriental karya Tome Pires, yang mencatat kondisi perdagangan dan politik Malaka pada awal abad ke-16;
  • catatan Portugis, Tiongkok, dan sumber-sumber lokal Melayu;
  • peninggalan arkeologis dan bangunan bersejarah di Melaka.

Peninggalan Kerajaan Malaka

Peninggalan Kerajaan Malaka tidak semuanya berupa bangunan asli kesultanan karena sebagian besar pusat kekuasaan berubah setelah Portugis menaklukkan Malaka. Namun, beberapa jejak sejarah yang berkaitan dengan Malaka antara lain:

  • tradisi sastra Melayu, seperti Sejarah Melayu dan kisah Hang Tuah;
  • kompleks sejarah Melaka yang menunjukkan lapisan sejarah Melayu, Portugis, Belanda, dan Inggris;
  • Benteng A Famosa, peninggalan Portugis yang dibangun setelah penaklukan Malaka di wilayah bekas pusat kekuasaan;
  • makam dan situs sejarah yang dikaitkan dengan tokoh-tokoh Malaka;
  • warisan bahasa dan budaya Melayu yang berkembang luas di Asia Tenggara.

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Malaka

Kerajaan Malaka runtuh pada tahun 1511 setelah ditaklukkan Portugis yang dipimpin Alfonso de Albuquerque. Penaklukan ini menjadi salah satu peristiwa penting karena membuka jalan masuknya kekuatan Eropa ke jalur perdagangan Asia Tenggara.

Beberapa faktor yang menyebabkan runtuhnya Malaka adalah:

  • serangan Portugis dengan persenjataan dan armada yang kuat;
  • persaingan dalam perdagangan di Selat Malaka;
  • konflik politik dan kelemahan internal istana;
  • ketergantungan Malaka pada stabilitas pelabuhan dan jaringan dagang;
  • perubahan kekuatan politik di kawasan Asia Tenggara.

Setelah Malaka jatuh, Sultan Mahmud Syah melarikan diri dan melanjutkan perlawanan dari wilayah lain. Warisan politik Malaka kemudian berlanjut dalam kerajaan-kerajaan Melayu berikutnya, termasuk Johor.

Kesimpulan

Kerajaan Malaka adalah kerajaan Melayu Islam yang didirikan oleh Parameswara di Semenanjung Malaya sekitar abad ke-15. Letaknya yang strategis di Selat Malaka membuat kerajaan ini berkembang menjadi pusat perdagangan, penyebaran Islam, dan kebudayaan Melayu. Puncak kejayaan Malaka terjadi pada masa Sultan Mansyur Syah, sedangkan keruntuhannya terjadi pada 1511 akibat serangan Portugis.

FAQ

Siapa pendiri Kerajaan Malaka?

Pendiri Kerajaan Malaka adalah Parameswara, yang dalam beberapa sumber juga dikenal sebagai Iskandar Syah setelah masuk Islam.

Kerajaan Malaka terletak di mana?

Kerajaan Malaka terletak di Semenanjung Malaya, tepatnya di wilayah Melaka, Malaysia, dekat Selat Malaka.

Kapan Kerajaan Malaka mencapai puncak kejayaan?

Kerajaan Malaka mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah.

Apa penyebab runtuhnya Kerajaan Malaka?

Kerajaan Malaka runtuh karena serangan Portugis pada 1511, ditambah faktor internal dan persaingan perdagangan di Selat Malaka.

Apa peninggalan Kerajaan Malaka?

Peninggalannya meliputi tradisi sastra Melayu, kisah Hang Tuah, situs sejarah Melaka, Benteng A Famosa sebagai peninggalan Portugis di bekas pusat Malaka, serta warisan bahasa dan budaya Melayu.

FE

Frans Eka

admin

Profil

Komentar

Nama
Email
Komentar

Komentar sebagai tamu akan ditinjau sebelum dipublikasikan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!