Read More
Tugas 3 Kewirausahaan di Era Digital

Tanya Jawab

Pertanyaan komunitas

Baca pertanyaan, lihat jawaban yang tersedia, atau bantu menjawab kalau kamu tahu.

Ditutup
Pertanyaan

Tugas 3 Kewirausahaan di Era Digital

An
Anonim
25 Mei 2026 3.3k dilihat

Pertanyaan

Pertanyaan 1

Di era transformasi digital, seorang wirasuaha dituntut untuk dapat mengadopsinya dalam mengembangkan usahanya, agar dapat melakukan UP-SKILLING DAN MENCAPAI PERFORMA YANG OPTIMAL.


Jika Anda saat sedang mulai menata dan mengembangkan usaha Anda (tetapkan secara spesifik usahanya) apakah Anda menerapkan “Red Ocean Strategy” atau Blue Ocean Strategy” agar dapat mempertahankan sustainability usaha Anda.

Anda diminta untuk menjelaskan perbedaan kedua konsep tersebut dan memilih mana strategi yang tepat dan kaitkan dengan usaha yang sedang Anda rintis.

Anda dapat memperkuat pembahasan dengan menambahkan sumber referensi lain baik buku, liputan media cetak/digital, jurnal, dan lain-lain. sampaikan jawaban anda dalam ulasan 400 hingga 500 kata

Penugasan 2

Dari jenis usaha yang sudah Anda tetapkan pada soal no 1, susunlah MODEL BISNIS CANVAS seperti penjelasan pada Modul 6. Sampaikan jawaban Anda dalam ulasan 500 hingga 600 kata yang dilengkapi dengan began model Bisnis Canvas. Anda dapat menambahkan ilustrasi berupa foto atau gambar untuk mendukung penjelasan Anda.

Jawaban

1 jawaban

Jawaban terpilih
FE
Frans Eka 2 minggu yang lalu

Saya akan menjawab dengan contoh usaha spesifik: “Kedai kopi lokal berbasis digital di Surabaya yang menjual kopi susu literan dan biji kopi roasted melalui toko offline kecil dan penjualan online (WhatsApp, Instagram, GoFood/GrabFood).”


***


1. Red Ocean vs Blue Ocean + Pilihan Strategi


Red Ocean Strategy adalah strategi ketika bisnis masuk ke pasar yang sudah ramai dengan banyak pesaing dan produk yang mirip, lalu berusaha merebut pangsa pasar melalui persaingan harga, promosi, dan sedikit diferensiasi. Pasar diibaratkan “samudra merah” karena persaingannya sangat ketat dan cenderung “berdarah-darah”. Di sini, permintaan pasar sudah ada, aturan main sudah jelas, dan usaha lebih fokus bagaimana mengalahkan kompetitor, bukan menciptakan pasar baru.[1][2][3]


Sebaliknya, Blue Ocean Strategy fokus menciptakan pasar baru yang sebelumnya belum tergarap, sehingga hampir tidak ada pesaing langsung. Strategi ini menekankan inovasi nilai (value innovation), yaitu menawarkan sesuatu yang berbeda secara signifikan sehingga mampu menciptakan permintaan baru dan mengurangi kebutuhan untuk perang harga. Pasar diibaratkan “samudra biru”: tenang, luas, dan masih banyak ruang untuk tumbuh. Konsep ini dipopulerkan oleh W. Chan Kim dan Renée Mauborgne pada 2005.[2][3][1]


Di era transformasi digital, kedua strategi ini sama‑sama relevan, tetapi pendekatannya terhadap teknologi berbeda. Pada Red Ocean, teknologi digital (media sosial, marketplace, aplikasi kasir, dll.) dipakai untuk menjadi lebih efisien dan lebih kompetitif di pasar yang sama. Pada Blue Ocean, teknologi dipakai untuk menciptakan cara baru melayani pelanggan, model bisnis baru, atau pengalaman baru yang belum ada sebelumnya.[4][5]


Untuk usaha yang saya rintis, yaitu kedai kopi lokal berbasis digital di Surabaya, saya akan menggabungkan keduanya tetapi lebih condong ke Blue Ocean Strategy. Pasar kedai kopi sangat ramai dan ini jelas ciri red ocean: banyak kedai dengan produk yang mirip, perbedaan tipis, dan sering bersaing harga serta promo. Kalau saya hanya menjual kopi susu kekinian seperti yang lain, saya otomatis bermain di red ocean.[6][3]


Karena itu, saya perlu elemen blue ocean dengan cara menciptakan nilai unik yang sulit ditiru. Misalnya:


- Mengangkat konsep “kopi single origin Jawa Timur” (Ijen, Dampit, Bondowoso) yang diolah khusus dengan storytelling kuat tentang petani dan daerahnya.[7][6]

- Menjual paket edukasi “kopi di rumah” (kopi + panduan seduh singkat + konten video di Instagram/YouTube) sehingga bukan hanya menjual minuman, tapi pengalaman belajar.[4][7]

- Mengandalkan pemesanan online dan langganan (subscription) kopi literan mingguan yang diantar ke rumah/kantor pelanggan di Surabaya.[5][4]


Dengan strategi ini, saya tetap berada di industri kopi yang padat (elemen red ocean), tetapi mencoba membuka “samudra biru kecil” melalui diferensiasi konsep, edukasi, dan layanan digital yang unik. Transformasi digital mendukung proses ini, misalnya dengan pemasaran di media sosial, penjualan lewat marketplace dan aplikasi pesan-antar, serta analisis data penjualan untuk memahami preferensi pelanggan dan mengembangkan produk baru.[3][2][5][4]


***


2. Business Model Canvas Usaha Kedai Kopi Digital


Berikut ulasan Business Model Canvas (BMC) untuk “Kedai Kopi Nusantara Digital Surabaya” berdasarkan sembilan blok BMC yang umum digunakan dalam literatur kewirausahaan.[6][7]


a. Customer Segments (Segmen Pelanggan)


Segmen utama:


- Karyawan dan mahasiswa di Surabaya yang butuh kopi praktis, enak, dan terjangkau untuk bekerja atau belajar.

- Pecinta kopi yang tertarik dengan kopi single origin dan ingin belajar menyeduh kopi sendiri di rumah.

- Kantor kecil, coworking space, dan event organizer yang membutuhkan kopi literan atau coffee break praktis.


Penentuan segmen ini penting karena menentukan cara promosi, format produk (gelas, literan, biji kopi), dan platform digital yang digunakan.[7][6]


b. Value Propositions (Proposisi Nilai)


Nilai utama yang ditawarkan:


- Kopi single origin Jawa Timur dengan rasa khas dan kualitas terjaga (misalnya kadar air rendah, berasal dari dataran tinggi, dsb.).[6]

- Paket kopi literan dan paket seduh di rumah yang praktis, sehingga pelanggan tidak perlu antre di kedai kopi besar.[7]

- Edukasi sederhana tentang kopi melalui konten digital dan panduan yang disertakan di setiap pembelian paket seduh di rumah.[4][7]


Nilai ini membuat usaha berbeda dari kedai kopi biasa yang hanya menjual minuman tanpa edukasi atau konsep lokal yang kuat.[3][7]


c. Channels (Saluran Distribusi)


Produk disalurkan melalui:


- Toko offline kecil di area kampus/kantor sebagai titik pengalaman langsung.

- Platform pesan-antar makanan (GoFood, GrabFood) untuk jangkauan cepat dan luas.[6][7]

- Media sosial (Instagram, TikTok) dan WhatsApp Business sebagai kanal promosi, pemesanan, dan komunikasi dengan pelanggan.[4][7]


Saluran ini memanfaatkan transformasi digital untuk memperluas pasar dan menekan biaya pemasaran.[5][4]


d. Customer Relationships (Hubungan Pelanggan)


Hubungan dengan pelanggan dibangun melalui:


- Respons cepat via WhatsApp dan DM Instagram.

- Program loyalitas berupa poin atau diskon untuk pembelian berulang.

- Konten edukatif dan interaksi di media sosial (Q&A tentang kopi, live brewing, dsb.).[7][4]


Pendekatan ini membantu menciptakan komunitas kecil di sekitar brand kopi dan meningkatkan retensi.[4]


e. Revenue Streams (Aliran Pendapatan)


Sumber pendapatan utama:


- Penjualan kopi siap minum (cup) di kedai dan via aplikasi pesan-antar.

- Penjualan kopi literan dan paket langganan mingguan/bulanan.

- Penjualan biji kopi roasted dan paket seduh di rumah.

- Pendapatan tambahan dari event (stand kopi di bazar, pelatihan seduh sederhana, atau sewa tempat untuk acara di kedai).[6][7]


Diversifikasi ini membuat usaha lebih tahan terhadap fluktuasi penjualan harian.[6]


f. Key Resources (Sumber Daya Kunci)


Sumber daya penting:


- Akses ke petani kopi lokal atau supplier biji kopi berkualitas.[7][6]

- Peralatan seduh dan mesin kopi.

- SDM terampil: barista, admin digital, dan kurir (bila punya kurir sendiri).

- Akun media sosial yang aktif dan dikelola dengan baik, serta sistem pencatatan penjualan (bisa aplikasi kasir digital).[5][4]


Sumber daya ini mendukung kualitas produk sekaligus pemanfaatan teknologi digital.[5][4]


g. Key Activities (Aktivitas Kunci)


Aktivitas utama:


- Mengolah dan menyajikan kopi serta minuman lain.

- Mengelola konten dan promosi digital di media sosial, marketplace, dan aplikasi pesan-antar.[4][7]

- Menjaga hubungan dengan pemasok kopi dan mitra logistik.

- Mengumpulkan dan menganalisis data penjualan untuk inovasi produk dan promosi.[5][4]


Aktivitas ini mencerminkan integrasi operasional kedai kopi dengan aktivitas digital.[5][4]


h. Key Partners (Mitra Kunci)


Mitra yang penting:


- Petani kopi lokal atau kelompok tani sebagai pemasok utama bahan baku.[7][6]

- Platform pesan-antar makanan (GoFood/GrabFood) dan marketplace (Tokopedia/Shopee) untuk distribusi dan penjualan.[6][7]

- Desainer grafis atau agensi kecil untuk branding dan konten visual (bila tidak dikerjakan sendiri).


Kerja sama ini memperkuat rantai nilai dan mengurangi beban investasi awal.[6]


i. Cost Structure (Struktur Biaya)


Biaya utama:


- Pembelian biji kopi dan bahan pendukung (susu, gula, cup, kemasan literan).

- Sewa tempat dan utilitas (listrik, air, internet).

- Gaji karyawan (barista, admin, kurir).

- Biaya pemasaran digital (iklan di Instagram/TikTok, jasa desain, biaya komisi aplikasi pesan-antar).[4][5][6]


Dengan memahami struktur biaya, saya dapat menentukan harga jual dan strategi promosi yang tetap kompetitif namun menguntungkan.[5][6]


Sebagai gambaran visual, Business Model Canvas untuk kedai kopi ini dapat digambar dalam satu kanvas berisi sembilan blok: di bagian kanan segmen pelanggan, proposisi nilai, saluran, dan hubungan pelanggan; di tengah aktivitas dan sumber daya kunci; di kiri mitra; lalu di bagian bawah biaya dan pendapatan. Anda bisa menambahkan foto kedai, kemasan kopi literan, atau infografis kanvas untuk memperjelas tampilan saat dikumpulkan dalam bentuk laporan.[7][6]


Citations:

[1] [Perbedaan Red dan Blue Ocean Strategy](https://prasmul-eli.co/id/articles/Perbedaan-Red-dan-Blue-Ocean-Strategy)

[2] [Understanding the Red Ocean vs. Blue Ocean Strategies | TSI](https://www.thestrategyinstitute.org/insights/understanding-the-red-ocean-vs-blue-ocean-strategies)

[3] [Blue Ocean Strategy & Red Ocean Strategy, Pilih Mana ...](https://bbs.binus.ac.id/business-creation/2024/09/1329/)

[4] [Menjadi Wirausahawan di Era Digital: Peluang, Tantangan, dan Strategi ...](https://web.unikom.ac.id/menjadi-wirausahawan-di-era-digital-peluang-tantangan-dan-strategi-sukses-2/)

[5] [Transpormasi Bisnis Di Era Digital: Peluang, Tantangan, Dan ...](https://jurnal.polgan.ac.id/index.php/jmp/article/view/14431)

[6] [PENINGKATAN SKALA USAHA BUM DESA SUKA SARI DALAM MENGEMBANGKAN INOVASI BISNIS KOPI MENGGUNAKAN BUSINESS MODEL CANVAS (BMC)](https://journal.pdmbengkulu.org/index.php/bima/article/view/410)

[7] [Presentasi Business Model Canvas - Nusantara Coffee](https://www.youtube.com/watch?v=nT5Gld4bB94)

[8] [Tugas Business Model Canva Kedai Kopi Kulo](https://id.scribd.com/document/701042559/Tugas-Business-Model-Canva-Kedai-Kopi-Kulo-Riska-Amalia-Umardi-1202020169-C)

[9] [Diskusi 1 Kewirausaha Di Era Digital | PDF](https://id.scribd.com/document/941528919/Diskusi-1-Kewirausaha-di-Era-Digital)

[10] [Ciri-ciri atau Karakteristik...](https://dealls.com/pengembangan-karir/red-and-blue-ocean)