Jawaban intinya:
- Fenomena di PT. Sari Lestari paling tepat mencerminkan dimensi budaya kolektivisme menurut Hofstede.[1]
- Kelemahannya: risiko konformitas, lambat dalam mengambil keputusan, dan menurunnya tanggung jawab individu, yang pada akhirnya bisa mengurangi efektivitas kerja tim.[2][1]
1. Dimensi budaya yang tercermin (Hofstede)
Berdasarkan teori dimensi budaya Hofstede, fenomena di PT. Sari Lestari menggambarkan budaya kolektivisme (collectivism), kebalikan dari individualisme. Dalam budaya kolektivisme, kepentingan kelompok dianggap lebih penting daripada kepentingan pribadi, dan identitas seseorang banyak dibentuk oleh keanggotaannya dalam kelompok.[1]
Ciri-ciri di kasus ini sesuai dengan kolektivisme: karyawan terbiasa bekerja dalam tim, keberhasilan kelompok lebih dihargai daripada prestasi individu, dan muncul rasa persatuan, solidaritas, serta identitas kolektif yang kuat. Nilai seperti loyalitas pada tim, kerja sama, dan harmoni hubungan juga menjadi karakter khas budaya kolektivis menurut literatur perilaku organisasi.[3][1]
Kalau mau lebih tajam, bisa dikatakan: PT. Sari Lestari berada pada skor individualisme yang rendah (low individualism/high collectivism) sehingga orientasinya lebih ke “kita” daripada “saya”.[4]
2. Kelemahan dalam pengambilan keputusan dan dampaknya
Budaya kolektivisme punya banyak keunggulan untuk kohesi tim, tapi dalam pengambilan keputusan organisasi ada beberapa potensi kelemahan:
- Groupthink dan tekanan konformitas
- Karena sangat menghargai kebersamaan dan harmoni, anggota tim bisa enggan mengemukakan pendapat yang berbeda atau kritis agar tidak dianggap mengganggu kekompakan. Ini memunculkan fenomena groupthink: keputusan diambil tanpa cukup debat dan evaluasi alternatif.[2][3]
- Pengambilan keputusan menjadi lambat
- Jika semua keputusan penting harus dibahas dan disepakati secara kelompok, prosesnya bisa memakan waktu panjang. Dalam situasi yang menuntut respon cepat, organisasi bisa kalah gesit dibanding budaya yang lebih individualis dan berorientasi pada pengambilan keputusan cepat oleh individu yang berwenang.[2]
- Tanggung jawab individu kabur (“difusi tanggung jawab”)
- Karena keberhasilan dan kegagalan dilihat sebagai “hasil tim”, individu bisa merasa tanggung jawabnya lebih ringan. Ketika keputusan salah, menyalahkan “tim” lebih mudah daripada mengidentifikasi siapa yang perlu belajar dan memperbaiki.[3]
- Kurang ruang untuk inovasi individu
- Individu yang punya ide berbeda atau “nyeleneh” bisa menahan diri karena takut dianggap tidak kompak. Ini dapat menurunkan kreativitas dan inovasi dalam jangka panjang, terutama jika norma kelompok sangat kuat.[4][3]
Dampaknya terhadap efektivitas kerja tim:
- Di satu sisi, kolektivisme mendukung kohesi, kepercayaan, dan koordinasi, sehingga eksekusi tugas rutin biasanya lebih rapi.[2]
- Di sisi lain, untuk tugas yang menuntut inovasi dan keputusan strategis, tim bisa menjadi terlalu hati-hati, lambat, dan kurang kritis, sehingga kualitas keputusan dan adaptabilitas organisasi menurun.[4][2]
Tabel ringkas: sisi positif–negatif kolektivisme dalam tim
| Aspek Dampak Positif (Kolektivisme) Potensi Kelemahan dalam Keputusan |
| Orientasi tujuan | Fokus pada tujuan bersama, kohesi tinggi [1][2] | Tujuan alternatif kurang dipertanyakan [2] |
| Hubungan antar anggota | Solidaritas dan loyalitas kuat [1] | Kritik terbuka dianggap mengganggu harmoni [3] |
| Proses pengambilan keputusan | Diskusi bersama, rasa memiliki keputusan [2] | Proses lambat, rawan groupthink [2][3] |
| Tanggung jawab | Sal mutual support dalam tim [1][2] | Tanggung jawab individu kabur [3] |
| Inovasi | Implementasi kolektif kuat jika sudah sepakat [2] | Ide nyeleneh ditekan, kreatifitas turun [4][3] |
Kalau kamu diminta menjawab di tugas UT, jawaban biasanya cukup dengan: sebut “kolektivisme”, jelaskan ciri-cirinya yang relevan dengan kasus, lalu uraikan 2–3 kelemahan utama (groupthink, lambat, tanggung jawab individu kabur) beserta dampaknya ke efektivitas tim.
Citations:
[1] [Diskusi 8: Dimensi Budaya Kolektivisme di PT. Sari Lestari EKMA - Studocu ID](https://www.studocu.id/id/document/universitas-terbuka/perilaku-organisasi/diskusi-8-dimensi-budaya-kolektivisme-di-pt-sari-lestari-ekma/164415115)
[2] [[PDF] Kolaborasi Tim dan Efektivitas Kinerja Organisasi | JOURNAL OF LITERATURE REVIEW - INDO PUBLISHING](https://ojs.indopublishing.or.id/index.php/jlr/article/download/178/142/470)
[3] [[PDF] PERILAKU KEORGANISASIAN - Universitas Widya Mataram](http://repository.widyamataram.ac.id/uploads/pdfs/EBOOK-Perilaku_Keorganisasian.pdf)
[4] [[PDF] Buku Ajar Budaya Organisasi - Umsida Press](https://press.umsida.ac.id/index.php/umsidapress/article/download/978-623-464-044-1/1119)
[5] [BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Budaya Organisasi Menurut ...](http://repo.darmajaya.ac.id/17667/10/10.%20Bab%202.pdf)
[6] [BUDAYA KOLABORATIF PADA KARYAWAN DI PT. PRIMA ...](https://journal.mandiracendikia.com/index.php/mdi/article/download/1083/860)
[7] [BAB I](http://repository.stei.ac.id/9185/2/bab%201.pdf)
[8] [[PDF] PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN, BUDAYA KERJA, DAN ...](https://repository.usni.ac.id/repository/0d5aa6bf85ad3aa12a6f8be81ba79644.pdf)
[9] [Budaya Kerja: Pengertian, Konsep, Strategi serta Tujuannya](https://scaleocean.com/id/blog/belajar-bisnis/budaya-kerja)
[10] [108](https://ojs.uma.ac.id/index.php/analitika/article/download/743/762)