Read More
Diskusi 8 EMBS4206.385

Tanya Jawab

Pertanyaan komunitas

Baca pertanyaan, lihat jawaban yang tersedia, atau bantu menjawab kalau kamu tahu.

Terjawab
Pertanyaan

Diskusi 8 EMBS4206.385

An
Anonim
2 Juni 2026 1.1k dilihat

Pertanyaan

PT. Samudera Niaga Internasional adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pelayaran dan ekspedisi barang antar pulau. Berdiri sejak tahun 1985, perusahaan ini melayani pengiriman kontainer, bahan baku industri, serta barang konsumsi ke berbagai wilayah di Indonesia. Dalam rangka memperluas pasar, manajemen berencana membuka jalur pelayaran baru ke kawasan Asia Timur. Namun, dalam proses pengembangan bisnis, perusahaan menghadapi tantangan berupa efisiensi operasional dan pengendalian kos overhead. Tarif overhead yang tidak tepat dapat menyebabkan harga jasa pengiriman menjadi tidak kompetitif dan menurunkan profitabilitas. Oleh karena itu, perusahaan perlu memahami karakteristik kos overhead, langkah-langkah dalam menghitung tarif overhead, serta tahapan dalam membebankan kos ke layanan pengiriman berdasarkan cost driver yang sesuai.

Berdasarkan hal tersebut, apa saja karakteristik kos overhead dalam konteks perusahaan jasa pelayaran seperti PT. Samudera Niaga Internasional? Bagaimana langkah-langkah sistematis dalam menghitung tarif overhead agar sesuai dengan kondisi operasional perusahaan? Dan jelaskan tahapan dalam membebankan kos overhead ke layanan pengiriman berdasarkan cost driver yang relevan (misalnya jumlah kontainer, jarak tempuh, atau jam operasi kapal)


Jawaban

1 jawaban

Jawaban terpilih
FE
Frans Eka 4 hari yang lalu

Jawabannya dibagi tiga:

1) karakteristik kos overhead di perusahaan pelayaran,

2) langkah sistematis menghitung tarif overhead,

3) tahapan membebankan overhead ke layanan dengan cost driver yang relevan.

1. Karakteristik kos overhead di perusahaan jasa pelayaran

Dalam konteks PT. Samudera Niaga Internasional, kos overhead punya ciri sebagai berikut:

  1. Tidak dapat ditelusuri langsung ke satu layanan pengiriman
  2. Kos overhead adalah biaya yang tidak bisa dikaitkan langsung ke satu rute, satu pelanggan, atau satu kontainer tertentu, tetapi diperlukan untuk menunjang seluruh operasi.[1][2]
  3. Terdiri dari overhead produksi dan non produksi
  4. Overhead produksi misalnya biaya dock dan peralatan, perawatan kapal dan alat bongkar muat, bahan pendukung operasi, nafkah dan tunjangan awak kapal yang bersifat tidak langsung. Overhead non produksi meliputi administrasi, pemasaran, klaim, dan biaya pendukung lain.[3][2]
  5. Campuran tetap dan variabel
  6. Biaya seperti penyusutan kapal, premi asuransi, gaji manajemen armada termasuk overhead tetap. Biaya pelabuhan, biaya tunggu, lembur, bahan bakar pendukung, dan klaim operasional cenderung bersifat variabel atau semi variabel karena tergantung volume layanan dan kondisi operasi.[2][3]
  7. Dipengaruhi faktor eksternal dan operasional
  8. Fluktuasi permintaan jasa pelayaran, kepadatan pelabuhan, kondisi cuaca, peraturan pelabuhan, dan kondisi teknis kapal dapat membuat overhead sulit diprediksi secara tepat.[1]
  9. Memerlukan cost driver untuk pembebanan
  10. Karena tidak bisa ditelusuri langsung, overhead harus dialokasikan menggunakan pemicu biaya seperti jumlah kontainer, tonase muatan, jarak tempuh mil laut, jumlah call pelabuhan, jam operasi kapal, atau jam kerja crane.[4][1]
  11. Berbasis aktivitas (relevan dengan ABC)
  12. Dalam praktik modern, overhead sebaiknya dihubungkan ke aktivitas, seperti aktivitas berlayar, sandar, bongkar muat, penanganan dokumen, dan administrasi. Setiap kelompok aktivitas dikaitkan dengan cost driver tertentu agar pembebanan lebih akurat.[5][6][4]

Contoh pada perusahaan pelayaran lain: biaya overhead tetap bisa berupa penyusutan kapal dan premi asuransi, sedangkan overhead variabel dapat berupa biaya pelabuhan, biaya tunggu, dan biaya makanan awak kapal.[2]

2. Langkah sistematis menghitung tarif overhead

Untuk konteks tesis dan praktik, metode yang paling relevan adalah pendekatan Activity Based Costing (ABC), karena layanan pelayaran kompleks dan multi aktivitas. Langkah umumnya:

a. Identifikasi dan klasifikasi biaya overhead

  1. Kumpulkan seluruh biaya yang bukan bahan baku langsung dan bukan tenaga kerja langsung atas layanan pelayaran.[1][2]
  2. Klasifikasikan menjadi:
  3. Overhead produksi: biaya dock dan peralatan, perawatan kapal, bahan pendukung, nafkah awak tidak langsung, biaya sandar dan bongkar muat yang tidak langsung.[3][2]
  4. Overhead non produksi: administrasi, klaim pelanggan, biaya pengobatan/pakaian dinas, transportasi dinas, telekomunikasi, dan lain‑lain.[3][1]

b. Kelompokkan overhead ke dalam cost pool yang homogen

  1. Bentuk kelompok biaya (cost pool) berdasarkan aktivitas yang serupa, misalnya: berlayar, bongkar muat, sandar dan pelayanan pelabuhan, pemeliharaan, dan administrasi.[6][5][4]
  2. Setiap cost pool harus relatif homogen, artinya variasi biayanya terutama dijelaskan oleh satu cost driver utama.[4][6]

c. Tentukan cost driver untuk setiap cost pool

Contoh penetapan cost driver di perusahaan pelayaran:

  1. Aktivitas berlayar: mil laut yang ditempuh atau jam operasi kapal.
  2. Aktivitas bongkar muat: jumlah kontainer (TEU) atau tonase muatan yang ditangani.
  3. Aktivitas sandar/pelabuhan: jumlah call pelabuhan atau jam sandar.
  4. Aktivitas pemeliharaan: jam kerja bengkel/teknisi atau jam docking.
  5. Aktivitas administrasi dan dokumen: jumlah BL (bill of lading), jumlah shipment order, atau jumlah pelanggan.

Penentuan cost driver ini sejalan dengan prinsip ABC yang mengharuskan setiap kelompok biaya punya ukuran aktivitas yang relevan.[5][6][4]

d. Hitung total overhead per cost pool

  1. Jumlahkan seluruh biaya dalam tiap cost pool untuk periode tertentu, misalnya satu tahun anggaran.[5][4]
  2. Hasilnya adalah total overhead untuk aktivitas berlayar, bongkar muat, sandar, pemeliharaan, dan administrasi.

e. Hitung tarif cost driver (tarif overhead) per cost pool

Rumus umum (cost pool rate):[4][5]

\text{Tarif per unit cost driver} = {\text{Total biaya overhead dalam cost pool} \over \text{Total unit cost driver}}

Contoh:

  1. Tarif overhead aktivitas berlayar per mil laut
  2. \inline \text{Tarif berlayar per mil} = {\text{Total overhead aktivitas berlayar} \over \text{Total mil laut seluruh kapal}}.
  3. Tarif overhead aktivitas bongkar muat per TEU
  4. \inline \text{Tarif bongkar muat per TEU} = {\text{Total overhead aktivitas bongkar muat} \over \text{Total TEU yang ditangani}}.

Prinsip ini konsisten dengan literatur ABC yang menyatakan bahwa tarif cost driver dihitung dengan membagi total overhead dengan total cost driver yang bersangkutan.[6][5][4]

f. Tinjau kesesuaian dengan kondisi operasional

  1. Bandingkan tarif yang dihasilkan dengan data historis dan tarif pesaing untuk memastikan tarif tidak menyebabkan harga jasa terlalu tinggi.
  2. Evaluasi apakah cost driver yang dipilih benar‑benar mencerminkan konsumsi aktivitas oleh masing‑masing layanan, dan revisi bila perlu.[7][5]

3. Tahapan membebankan kos overhead ke layanan pengiriman berbasis cost driver

Berikut tahapan praktis pembebanan overhead ke layanan pengiriman (rute/kapal/pelanggan) dengan pendekatan dua tahap seperti di ABC.[8][6][5][4]

Tahap 1: Penelusuran overhead ke aktivitas dan penetapan tarif

  1. Identifikasi aktivitas utama dalam operasi pelayaran
  2. Misalnya: perencanaan dan penjadwalan kapal, berlayar, sandar di pelabuhan, bongkar muat, penanganan dokumen dan administrasi, pemeliharaan rutin kapal.[5][4]
  3. Kelompokkan biaya overhead ke dalam cost pool aktivitas
  4. Contoh: cost pool berlayar, cost pool bongkar muat, cost pool sandar/pelabuhan, cost pool pemeliharaan, dan cost pool administrasi.[6][4]
  5. Tetapkan cost driver untuk setiap cost pool
  6. Berlayar: jarak tempuh (mil laut) atau jam operasi kapal.
  7. Bongkar muat: jumlah kontainer (TEU) yang ditangani.
  8. Sandar/pelabuhan: jam sandar atau jumlah call pelabuhan.
  9. Pemeliharaan: jam kerja teknisi atau jam docking.
  10. Administrasi: jumlah dokumen pengiriman atau jumlah shipment.[4][6][5]
  11. Hitung tarif cost driver untuk tiap aktivitas
  12. Gunakan rumus: cost pool rate = total biaya cost pool ÷ total unit cost driver.[5][4] Hasilnya adalah tarif overhead per mil laut, per TEU, per jam sandar, per jam kerja teknisi, dan per dokumen.

Tahapan di atas merupakan alokasi tahap pertama, yaitu pengelompokan dan penetapan tarif aktivitas.[8][6][4]

Tahap 2: Pembebanan overhead ke objek biaya (layanan pengiriman)

  1. Tentukan objek biaya
  2. Objek biaya dapat berupa:
  3. Setiap rute pelayaran (misalnya Surabaya – Makassar – Ambon).
  4. Setiap voyage (trip kapal).
  5. Setiap kontrak pelanggan besar (charter atau kontrak kontainer reguler).
  6. Ukur konsumsi cost driver oleh setiap layanan pengiriman
  7. Untuk tiap rute atau voyage, catat:
  8. Total mil laut yang ditempuh.
  9. Total TEU yang diangkut dan dibongkar muat.
  10. Total jam sandar di pelabuhan.
  11. Total jam kerja teknisi terkait voyage tersebut.
  12. Jumlah dokumen pengiriman yang diproses.[7][4][5]
  13. Hitung overhead yang dibebankan ke tiap layanan
  14. Rumus umum tahap kedua:[6][4]

\text{Overhead yang dibebankan} = \text{Tarif cost driver} \times \text{Unit cost driver yang dikonsumsi}

Contoh praktis:

  1. Overhead berlayar untuk rute A:
  2. Overhead berlayar rute A = tarif berlayar per mil × total mil laut rute A.
  3. Overhead bongkar muat untuk rute A:
  4. Overhead bongkar muat rute A = tarif bongkar muat per TEU × total TEU rute A.
  5. Overhead sandar untuk rute A:
  6. Overhead sandar rute A = tarif sandar per jam × total jam sandar rute A.

Metode ini sesuai dengan literatur ABC yang menyatakan bahwa pembebanan biaya ke objek biaya dilakukan dengan mengalikan tarif aktivitas dengan ukuran aktivitas yang dikonsumsi objek tersebut.[8][7][4][6]

  1. Jumlahkan seluruh overhead per layanan pengiriman
  2. Untuk masing‑masing rute/voyage, jumlahkan seluruh overhead: berlayar, bongkar muat, sandar, pemeliharaan, dan administrasi.[4][5] Tambahkan biaya langsung (bahan bakar utama, biaya pelabuhan tertentu yang langsung ke voyage, gaji awak kapal langsung) untuk memperoleh total kos layanan dan dasar penentuan tarif jasa pengiriman.

4. Contoh sederhana pembebanan berbasis tiga cost driver

Misalkan PT. Samudera Niaga Internasional memakai tiga cost driver utama: jumlah kontainer (TEU), jarak tempuh (mil laut), dan jam operasi kapal.

a. Penetapan tarif

  1. Cost pool berlayar: total overhead 12 miliar rupiah, total mil laut setahun 600.000 mil
  2. Tarif berlayar = 12.000.000.000 ÷ 600.000 = 20.000 rupiah per mil laut.[5][4]
  3. Cost pool bongkar muat: total overhead 6 miliar rupiah, total TEU 60.000
  4. Tarif bongkar muat = 6.000.000.000 ÷ 60.000 = 100.000 rupiah per TEU.[4][5]
  5. Cost pool operasi kapal (jam mesin, monitoring, dll.): total overhead 4 miliar rupiah, total jam operasi 40.000 jam
  6. Tarif operasi kapal = 4.000.000.000 ÷ 40.000 = 100.000 rupiah per jam.[5][4]

b. Pembebanan ke satu layanan rute baru

Untuk satu voyage jalur Asia Timur tertentu:

  1. Jarak tempuh: 5.000 mil laut
  2. Overhead berlayar = 5.000 × 20.000 = 100.000.000 rupiah.
  3. Volume kontainer: 400 TEU
  4. Overhead bongkar muat = 400 × 100.000 = 40.000.000 rupiah.
  5. Jam operasi kapal: 300 jam
  6. Overhead operasi kapal = 300 × 100.000 = 30.000.000 rupiah.

Total overhead voyage = 100.000.000 + 40.000.000 + 30.000.000 = 170.000.000 rupiah.

Jika biaya langsung voyage sudah dihitung, perusahaan dapat menjumlahkannya dengan 170 juta ini untuk mendapatkan kos penuh layanan per voyage, kemudian menentukan tarif per TEU atau per kontainer agar tetap kompetitif dan menguntungkan.

5. Ringkasan struktur konsep untuk penulisan tesis

Untuk keperluan skripsi/tesis, Anda bisa susun pembahasan sebagai berikut (singkat):

  1. Subbab karakteristik kos overhead di perusahaan pelayaran
  2. Jelaskan definisi, sifat tidak langsung, klasifikasi tetap/variabel, contoh konkret di perusahaan pelayaran, dan pentingnya cost driver.[2][1]
  3. Subbab langkah perhitungan tarif overhead
  4. Bahas identifikasi dan klasifikasi biaya, pembentukan cost pool, pemilihan cost driver, perhitungan tarif, dan evaluasi tarif terhadap kondisi operasional dan persaingan.[6][4][5]
  5. Subbab tahapan pembebanan overhead ke layanan
  6. Uraikan dua tahap ABC: pengelompokan biaya dan penetapan tarif aktivitas, kemudian pembebanan ke objek biaya (rute, voyage, pelanggan) dengan contoh numerik menggunakan driver jumlah kontainer, jarak tempuh, jam operasi kapal, dan sebagainya.[7][8][6][4][5]

Citations:

[1] [diskusi 8 AKUTANSI BIAYA | PDF](https://id.scribd.com/document/963253745/diskusi-8-AKUTANSI-BIAYA)

[2] [BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Tarif Tambang ...](https://repository.dinamika.ac.id/id/eprint/1943/4/BAB_II.pdf)

[3] [BAB_II](https://id.scribd.com/document/501530597/BAB-II)

[4] [BAB II TINJAUAN PUSTAKA](http://repository.stie-mce.ac.id/992/3/BAB%20II%20TINJAUAN%20PUSTAKA.pdf)

[5] [Activity Based Costing (Metode ABC) - Impact ERP](https://www.impactfirst.co/id/c/metode-abc-activity-based-costing)

[6] [Activity Based Costing - Akuntansi dan Keuangan Terapan](https://akuntansiterapan.com/2014/02/17/activity-based-costing/)

[7] [Penerapan Metode Activity-Based Costing dalam ...](https://ejurnal.poliban.ac.id/index.php/IJAAF/article/download/14380/1617)

[8] [BAB II LANDASAN TEORITIS](https://repositori.uma.ac.id/jspui/bitstream/123456789/736/5/118330195_file5.pdf)

[9] [[PDF] laporan tahunan 2020 - Samudera](https://www.samudera.id/public_assets/1/uploads/20210531102423Laporan_Tahunan_2020_SMDR.pdf)

[10] [2](https://www.samudera.id/public_assets/1/uploads/20230623024724AR_FY_2022_IND.pdf)

Tulis jawaban

Masuk untuk menulis jawaban.

Masuk