Read More
Diskusi 7 Perilaku Konsumen

Tanya Jawab

Pertanyaan komunitas

Baca pertanyaan, lihat jawaban yang tersedia, atau bantu menjawab kalau kamu tahu.

Ditutup
Pertanyaan

Diskusi 7 Perilaku Konsumen

An
anonymous
1 Juni 2025 1.7k dilihat

Pertanyaan

Orang Indonesia Rela Bayar Lebih untuk Produk Ramah Lingkungan Sebuah studi yang dirilis Bain & Company mengungkapkan, konsumen Indonesia rela membayar lebih mahal sekitar 15% sampai 20% untuk produk-produk ramah lingkungan. Bersama konsumen India, Brasil, dan China, kesediaan membayar "duit" esktra ini mengalahkan perilaku konsumen di Inggris, Italia, Jerman dan Perancis. Di ketiga negara Eropa Barat ini, konsumen hanya bersedia membayar ekstra antara 8% hingga 10%. Menurut studi tersebut, perilaku royal konsumen Indonesia, Brasil, India dan China ini didorong oleh permasalahan lingkungan hidup yang menjadi faktor utama. Namun demikian, perilaku konsumen dapat berubah lebih cepat dari perkiraan banyak perusahaan, karena faktor eksternal seperti peraturan pemerintah yang sangat memengaruhi pasar. Sebut saja China yang menawarkan insentif finansial untuk kendaraan listrik sejak 2009. Kini, 19% konsumen Negeri Tirai Bambu ini dilaporkan mengendarai mobil listrik, dibandingkan dengan 8% konsumen secara global. Sementara di Inggris, penggunaan kantong plastik supermarket sekali pakai telah turun 98% sejak pemerintah mulai mewajibkan peritel untuk mengenakan biaya pada tahun 2015. Secara umum, Bain & Company melihat ada kesenjangan antara apa yang diinginkan konsumen dan apa yang dijual sebagian besar perusahaan. Di seluruh dunia, 48% konsumen mempertimbangkan cara produk digunakan ketika memikirkan keberlanjutan. Konsumen lebih mementingkan bagaimana suatu produk dapat digunakan kembali, ketahanannya, dan bagaimana produk tersebut dapat meminimalisasi limbah. Sebaliknya, sebagian besar perusahaan menjual barang-barang ramah lingkungan berdasarkan faktor-faktor seperti cara pembuatannya, bahan-bahan alaminya dan praktik pertanian yang diterapkan. Faktor-faktor ini menyebabkan banyak konsumen menyamakan “keberlanjutan" dengan “premium.” Salah satu akibat dari keterputusan ini adalah hampir separuh konsumen negara maju percaya bahwa hidup berkelanjutan itu terlalu mahal. Sebagai perbandingan, sekitar 35% konsumen di pasar yang berkembang pesat mempercayai hal ini. Konsumen kesulitan mengidentifikasi produk berkelanjutan dan tidak mempercayai perusahaan yang memproduksinya. Dalam survei Bain & Company, 50% konsumen menganggap keberlanjutan adalah salah satu dari 4 kriteria pembelian utama mereka saat berbelanja. Namun, mereka mungkin mengambil keputusan berdasarkan kesalahpahaman. Ketika ditanya untuk menentukan produk mana yang menghasilkan emisi karbon lebih tinggi, konsumen salah atau tidak tahu sekitar 75%. Konsumen mengatakan bahwa mereka sangat bergantung pada label dan sertifikasi untuk mengidentifikasi produk-produk berkelanjutan, namun sebagian besar tidak mampu menjelaskan secara akurat makna di balik logo-logo keberlanjutan yang umum, seperti produksi organik atau fairtrade. Kurangnya kepercayaan terhadap perusahaan memperparah masalah ini. Bain & Company menemukan hanya 28% konsumen yang memercayai perusahaan besar untuk menciptakan produk yang benar-benar berkelanjutan, dibandingkan dengan 45% yang memercayai usaha kecil dan mandiri. Tujuan keberlanjutan Selain itu, Bain & Company menemukan bahwa lebih dari 60% bisnis berada di luar jalur untuk mencapai tujuan keberlanjutan mereka, sehingga konsumen dan karyawan semakin sadar untuk dapat membantu meneruskan keberlanjutan. Kemajuan keberlanjutan ini memerlukan kombinasi teknologi, kebijakan, dan perubahan perilaku. Basis konsumen dan karyawan yang semakin sadar mungkin terbukti membantu. Dalam studi yang diterbitkan Selasa (14/11/2023), Bain & Company mengeksplorasi permasalahan keberlanjutan utama bagi para pemimpin bisnis, pelanggan dan karyawan mereka. “Kami telah berbicara dengan ribuan eksekutif tentang ambisi keberlanjutan mereka dan dampaknya,” kata Partner dan Head of Global Sustainability Bain & Company François Faelli. Konsumen menyadari peran penting dalam transisi energi dan sumber daya. Banyak yang memandang hal ini sebagai warisan mereka, namun sekaligus khawatir dengan semakin besarnya kesenjangan antara kemajuan mereka dan komitmen publik. Meskipun hal ini tidak mudah, ada tiga hal yang harus diprioritaskan oleh CEO-CEO industri yakni kebijakan, teknologi dan perilaku. Bain & Company melakukan survei terhadap 23.000 konsumen guna mendapatkan gambaran luas mengenai permasalahan lingkungan di seluruh dunia. Hasil penelitian ini menggarisbawahi semakin pentingnya topik keberlanjutan. Sekitar 64% masyarakat melaporkan tingkat kekhawatiran yang tinggi terhadap keberlanjutan. Sebagian besar mengatakan kekhawatiran mereka semakin meningkat selama dua tahun terakhir dan kekhawatiran mereka pertama kali dipicu oleh cuaca ekstrem. Sumber: https://lestari.kompas.com/read/2023/11/15/060000386/orang-indonesia-rela-bayar-lebih-untuk-produk-ramah-lingkungan?page=all. Berdasarkan kasus di atas, diskusikan pertanyaan berikut. 1. Menurut Anda bagaimana pengaruh budaya dapat mendorong konsumen Indonesia untuk melakukan keputusan pembelian produk yang ramah lingkungan! Analisis dengan menggunakan kasus di atas! 2. Apakah karakteristik sosial, demografi dan ekonomi berpengaruh terhadap perilaku pembelian produk-produk ramah lingkungan? Jelaskan analisis Anda! 3. Dengan mempertimbangkan aspek budaya, karakteristik sosial, demografi dan ekonomi, strategi pemasaran seperti apa yang sesuai untuk produsen produk-produk ramah lingkungan? Jelaskan jawaban Anda!

Jawaban

1 jawaban

Jawaban terpilih
FE
Frans Eka 5 bulan yang lalu
1. Pengaruh Budaya terhadap Keputusan Pembelian Produk Ramah Lingkungan di Indonesia Budaya di Indonesia memiliki peran penting dalam mendorong konsumen untuk membeli produk ramah lingkungan. Dalam konteks kasus di atas, budaya gotong royong, kepedulian sosial, dan nilai-nilai kekeluargaan yang kuat membuat masyarakat Indonesia lebih mudah tergerak untuk melakukan hal-hal yang dianggap bermanfaat bagi lingkungan dan komunitas. Selain itu, adanya norma sosial yang berkembang, seperti tren gaya hidup berkelanjutan dan semakin banyaknya edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan melalui media sosial, memperkuat niat konsumen untuk memilih produk ramah lingkungan[2]. Studi juga menunjukkan bahwa budaya memengaruhi perilaku, norma subjektif, dan perceived behavioral control (PBC), yang semuanya berpengaruh positif terhadap niat pembelian produk hijau[1][16]. Dengan kata lain, ketika lingkungan sosial mendukung perilaku ramah lingkungan, konsumen Indonesia cenderung mengikuti arus tersebut, bahkan rela membayar lebih mahal demi mendukung keberlanjutan[11]. 2. Pengaruh Karakteristik Sosial, Demografi, dan Ekonomi terhadap Perilaku Pembelian Produk Ramah Lingkungan Karakteristik sosial, demografi, dan ekonomi sangat berpengaruh terhadap perilaku pembelian produk ramah lingkungan. Faktor sosial seperti pengaruh keluarga, teman, kelompok referensi, serta status sosial dapat membentuk preferensi dan keputusan pembelian konsumen[4][12]. Sementara itu, karakteristik demografi seperti usia, tingkat pendidikan, pendapatan, dan pekerjaan juga terbukti signifikan. Misalnya, generasi muda dan mereka yang berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih peduli terhadap isu lingkungan dan lebih terbuka terhadap produk ramah lingkungan[8][13]. Penghasilan juga berpengaruh karena produk ramah lingkungan umumnya memiliki harga lebih tinggi, sehingga konsumen dengan ekonomi lebih baik lebih mampu dan rela membayar lebih[6][13]. Namun, ada juga penelitian yang menemukan bahwa demografi tidak selalu menjadi faktor penentu utama, karena faktor kesadaran lingkungan dan nilai yang dirasakan dari produk juga sangat berperan[5]. Secara umum, semakin tinggi kesadaran lingkungan, pendidikan, dan pendapatan, semakin besar kemungkinan seseorang membeli produk ramah lingkungan. 3. Strategi Pemasaran yang Sesuai untuk Produk Ramah Lingkungan di Indonesia Dengan mempertimbangkan aspek budaya, sosial, demografi, dan ekonomi, strategi pemasaran yang efektif untuk produk ramah lingkungan di Indonesia antara lain:
  • Edukasi dan Kampanye Sosial: Edukasi konsumen tentang manfaat produk ramah lingkungan melalui media sosial, seminar, atau kampanye komunitas sangat penting karena banyak konsumen masih kurang paham makna label keberlanjutan[9][14]. Informasi yang jelas dan mudah dipahami akan meningkatkan kepercayaan konsumen.
  • Green Marketing: Tekankan nilai keberlanjutan, penggunaan bahan ramah lingkungan, dan proses produksi yang bertanggung jawab dalam promosi produk. Gunakan label dan sertifikasi lingkungan yang kredibel untuk memperkuat citra produk[14][19].
  • Segmentasi Pasar: Fokus pada segmen pasar yang lebih sadar lingkungan, seperti generasi muda (milenial dan Gen Z) dan konsumen kelas menengah ke atas yang memiliki daya beli lebih tinggi[8][9].
  • Kolaborasi dengan Influencer dan Komunitas: Gandeng influencer atau tokoh masyarakat yang peduli lingkungan untuk memperluas jangkauan pesan dan membangun kepercayaan[9].
  • Program Loyalitas dan Insentif: Berikan insentif seperti diskon, poin reward, atau kontribusi pada program lingkungan setiap pembelian produk ramah lingkungan[9].
  • Penggunaan Label dan Sertifikasi yang Jelas: Pastikan label ramah lingkungan mudah dikenali dan edukasi konsumen tentang maknanya, agar mereka tidak bingung atau ragu terhadap klaim keberlanjutan produk[14][19].
  • Distribusi yang Mudah Diakses: Pastikan produk mudah ditemukan di berbagai saluran distribusi, baik online maupun offline, agar konsumen tidak kesulitan saat ingin membeli produk ramah lingkungan[19][20].
Dengan strategi-strategi tersebut, produsen dapat menjawab kebutuhan konsumen Indonesia yang semakin peduli pada lingkungan, membangun kepercayaan, dan memperkuat posisi produk ramah lingkungan di pasar. Citations: [1] https://jurnal.unived.ac.id/index.php/er/article/view/2060 [2] https://wisata.viva.co.id/wisata/15562-konsumerisme-berkelanjutan-konsumen-indonesia-memilih-produk-ramah-lingkungan [3] https://ejournal.up45.ac.id/index.php/maksipreneur/article/download/499/526 [4] https://scholar.ummetro.ac.id/index.php/diversifikasi/article/download/1756/1599/ [5] https://journal.stiemb.ac.id/index.php/mea/article/view/4045 [6] https://ejournal.stiesia.ac.id/ekuitas/article/download/5139/767/6800 [7] https://umsida.ac.id/kenali-green-marketing-strategi-yang-diminati-gen-z/ [8] https://media.neliti.com/media/publications/10498-ID-implementasi-green-marketing-melalui-pendekatan-marketing-mix-demografi-dan-peng.pdf [9] https://digima.co.id/strategi-efektif-dalam-pemasaran-produk-ramah-lingkungan/ [10] http://repository.ibs.ac.id/5702/ [11] https://www.infopublik.id/read/222854/kesadaran-konsumen-konsumsi-produk-ramah-lingkungan-meningkat.html [12] http://digilib.unila.ac.id/55374/3/3. TESIS FULL TANPA BAB PEMBAHASAN.pdf [13] http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1370265&val=989&title=PENGARUH+VARIABEL+DEMOGRAFI+DAN+PERSEPSI+KUALITAS+PRODUK+TERHADAP+KEPUTUSAN+PEMBELIAN+PRODUK+HIJAU+PHILIPS+LED+DI+KOTA+DENPASAR [14] https://jurnalbima.id/index.php/masarin/article/download/202/151/ [15] https://journal.univpancasila.ac.id/index.php/jrb/article/download/134/31/108 [16] https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/39175 [17] https://jurnalbima.id/index.php/masarin/article/view/202 [18] https://journal.ipm2kpe.or.id/index.php/COSTING/article/view/14271 [19] https://manajemen.feb.ummetro.ac.id/green-marketing-di-indonesia [20] https://pasla.jambiprov.go.id/green-marketing-tujuan-tantangan-strategi-dan-contoh/ [21] https://jepa.ub.ac.id/index.php/jepa/article/view/1670/784 [22] http://repository.lppm.unila.ac.id/38240/1/BUKU REFERENSI PERILAKU KONSUMSI PRODUK HIJAU - GABUNG.pdf [23] https://ejurnal.swadharma.ac.id/index.php/kompleksitas/article/download/15/15 [24] http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1317362&val=617&title=PENGARUH+KARAKTERISTIK+KONSUMEN+BERWAWASAN+LINGKUNGAN+TERHADAP+KEPUTUSAN+MEMBELI+PRODUK+RAMAH+LINGKUNGAN [25] https://scholar.ummetro.ac.id/index.php/diversifikasi/article/view/1756/1599 [26] https://e-jurnal.nobel.ac.id/index.php/jbk/article/download/3804/1994/8797 [27] https://openjournal.unpam.ac.id/index.php/DRB/article/view/35412?articlesBySimilarityPage=5 [28] https://autolaris.com/berita/strategi-marketing-untuk-bisnis-berbasis-eco-friendly/ [29] http://repository.ibs.ac.id/5702/3/BAB 1-20181111029-ERVANI TRI WIJAYANTI.pdf [30] https://jurnal.umitra.ac.id/index.php/bej/article/download/882/747