a. Pengertian nilai tukar mengambang
Nilai tukar mengambang (floating exchange rate) adalah sistem kurs di mana nilai mata uang ditentukan oleh mekanisme pasar, yaitu kekuatan permintaan dan penawaran di pasar valuta asing, bukan dipatok secara tetap oleh pemerintah atau bank sentral. Dalam sistem ini pemerintah pada prinsipnya tidak menetapkan satu nilai kurs resmi yang harus dipertahankan, melainkan membiarkan kurs bergerak naik turun mengikuti kondisi pasar, dengan kemungkinan intervensi hanya jika terjadi gejolak yang berlebihan untuk menjaga stabilitas.[1][2][3][4][5]
Contoh sederhananya: kalau permintaan terhadap rupiah naik (misalnya karena ekspor meningkat atau arus modal asing masuk), maka nilai rupiah akan menguat terhadap mata uang lain; sebaliknya jika permintaan turun atau penawaran rupiah di pasar valas meningkat, rupiah akan melemah.[2][6][3][7]
***
a. Kelebihan nilai tukar mengambang
Mengapa banyak negara memilih sistem nilai tukar mengambang? Karena sistem ini punya beberapa kelebihan penting dalam mendukung kegiatan bisnis dan perdagangan internasional. Beberapa kelebihan utamanya:[3][4][5][1][2]
1. Penyesuaian otomatis terhadap kondisi ekonomi
- Kurs akan menyesuaikan sendiri ketika terjadi ketidakseimbangan neraca pembayaran (misalnya defisit atau surplus), sehingga tidak selalu perlu kebijakan khusus untuk “memaksa” kurs di level tertentu.[5][1][2][3]
- Jika suatu negara defisit perdagangan, nilai mata uang cenderung melemah, yang pada gilirannya membuat ekspor lebih murah dan impor lebih mahal, sehingga ketidakseimbangan bisa berangsur terkoreksi melalui mekanisme pasar.[6][2][5]
2. Fleksibilitas dan respons cepat terhadap perubahan global
- Sistem mengambang membuat kurs bisa beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan inflasi, suku bunga, arus modal, dan situasi ekonomi dunia tanpa harus melalui proses penetapan ulang kurs resmi oleh pemerintah.[7][1][2][6][5]
- Hal ini penting di era globalisasi karena guncangan ekonomi (misalnya krisis keuangan, perubahan harga komoditas, atau kebijakan moneter negara besar) bisa ditangkap langsung oleh pergerakan kurs.[4][2][6]
3. Mengurangi beban pemerintah/Bank Sentral dalam mempertahankan kurs
- Pada sistem kurs tetap, Bank Sentral harus terus-menerus menjaga kurs di level tertentu dengan intervensi besar di pasar valas dan cadangan devisa yang kuat.[2][4][7]
- Dalam sistem mengambang, kebutuhan untuk “membakar” cadangan devisa demi mempertahankan kurs jauh berkurang, karena kurs dibiarkan menyesuaikan dengan kondisi pasar, sehingga kebijakan moneter dapat lebih fokus pada tujuan lain seperti mengendalikan inflasi dan pertumbuhan ekonomi.[1][4][7][2]
4. Mencerminkan kondisi ekonomi yang lebih “riil”
- Karena kurs dibentuk oleh permintaan dan penawaran, nilai tukar mengambang dianggap lebih mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi suatu negara (daya saing ekspor, inflasi relatif, suku bunga, dan persepsi pasar).[6][5][1][2]
- Informasi kurs ini berguna bagi pelaku bisnis internasional untuk menilai risiko dan peluang investasi serta perdagangan lintas negara.[4][1][6]
5. Memberi ruang bagi kebijakan moneter yang lebih mandiri
- Dengan kurs mengambang, Bank Sentral tidak terlalu terikat untuk mempertahankan paritas nilai tukar tertentu, sehingga punya keleluasaan lebih luas untuk mengatur suku bunga dan jumlah uang beredar sesuai kebutuhan ekonomi domestik.[7][2][6][4]
- Keleluasaan ini penting agar kebijakan moneter dapat lebih fokus pada stabilitas harga dan pertumbuhan, bukan sekadar menjaga kurs di satu angka tertentu.[2][4][7]
Kelebihan-kelebihan inilah yang membuat sistem nilai tukar mengambang (baik mengambang bebas maupun mengambang terkendali/managed float) banyak dipilih negara-negara di dunia dalam mendukung aktivitas bisnis dan keuangan internasional mereka.[8][3][5][4][2]
***
b. Penyebab kurs valuta asing berfluktuasi
Kurs valuta asing selalu bergerak naik turun (berfluktuasi) karena adanya perubahan-perubahan di sisi permintaan dan penawaran terhadap mata uang tersebut di pasar valas. Berbagai faktor ekonomi maupun non-ekonomi dapat menggeser permintaan atau penawaran ini sehingga menimbulkan perubahan kurs dari waktu ke waktu.[9][10][8][3][5][1][6][7]
Secara garis besar, beberapa faktor utama penyebab fluktuasi kurs adalah:
1. Permintaan dan penawaran mata uang (mekanisme pasar)
- Jika permintaan terhadap suatu mata uang meningkat (misalnya karena ekspor naik, investor asing membeli aset di negara tersebut, atau wisatawan asing datang), sementara penawaran relatif tetap atau turun, nilai mata uang itu cenderung menguat.[8][3][1][6][7][2]
- Sebaliknya, jika permintaan turun atau penawaran meningkat (misalnya karena impor tinggi, penduduk lokal banyak menukar mata uang sendiri ke mata uang asing), mata uang akan melemah.[3][8][6][7]
2. Perdagangan internasional (ekspor–impor)
- Negara dengan ekspor kuat akan mengalami permintaan lebih besar atas mata uangnya, karena pembeli luar negeri harus menukar valas menjadi mata uang negara tersebut untuk membayar barang/jasa, sehingga kurs cenderung menguat.[10][9][5][6]
- Sebaliknya, jika impor lebih dominan dan masyarakat banyak membutuhkan valuta asing untuk membayar barang dari luar negeri, permintaan valas naik dan nilai mata uang domestik dapat melemah.[9][10][6][7]
3. Tingkat inflasi
- Inflasi yang lebih tinggi dibanding negara lain biasanya membuat daya beli mata uang domestik menurun, sehingga mata uang tersebut cenderung terdepresiasi terhadap mata uang yang inflasinya lebih rendah.[10][9][6][7]
- Investor dan pelaku pasar akan mengurangi kepemilikan pada mata uang yang inflasinya tinggi karena nilainya cepat tergerus, sehingga permintaan turun dan kurs melemah.[9][6][7]
4. Tingkat suku bunga
- Kenaikan suku bunga domestik relatif terhadap negara lain dapat menarik arus modal asing masuk (capital inflow) karena investor ingin memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga permintaan atas mata uang domestik naik dan kurs menguat.[6][7][10][9]
- Sebaliknya, suku bunga yang turun atau lebih rendah dari negara lain dapat mendorong modal keluar (capital outflow), menurunkan permintaan atas mata uang domestik, dan menyebabkan depresiasi.[7][9][6]
5. Pendapatan nasional dan daya beli masyarakat
- Peningkatan pendapatan masyarakat dapat menaikkan permintaan impor, karena konsumsi barang luar negeri meningkat; hal ini berarti permintaan valuta asing naik dan mata uang domestik bisa melemah bila tidak diimbangi oleh ekspor.[10][9][6][7]
- Sebaliknya, jika pendapatan meningkat tetapi ekspor juga naik pesat sehingga permintaan terhadap mata uang domestik tetap kuat, efeknya pada kurs bisa berbeda tergantung komposisi ekspor-impor.[9][6][10]
6. Kebijakan pemerintah dan intervensi bank sentral
- Pemerintah dan Bank Sentral dapat memengaruhi kurs melalui kebijakan fiskal, moneter, pengaturan devisa, atau intervensi langsung di pasar valas (membeli/menjual mata uang) untuk menstabilkan nilai tukar.[4][2][6][7][10]
- Kebijakan pembatasan impor, insentif ekspor, kontrol devisa, maupun pengelolaan suku bunga dan cadangan devisa semuanya dapat mengubah permintaan–penawaran mata uang dan memicu pergerakan kurs.[6][7][10][9]
7. Arus modal internasional (investasi portofolio dan FDI)
- Masuknya investasi asing langsung (FDI) atau investasi portofolio ke suatu negara meningkatkan kebutuhan investor asing atas mata uang negara tersebut, sehingga kurs cenderung menguat.[7][10][9][6]
- Jika terjadi capital flight (pelarian modal) karena ketidakpastian politik atau ekonomi, investor akan menjual aset lokal dan menukar kembali ke mata uang asing, sehingga mata uang domestik melemah.[9][6][7]
8. Situasi politik, keamanan, dan ekspektasi pasar
- Ketidakstabilan politik, konflik, atau ketidakpastian kebijakan dapat menurunkan kepercayaan investor dan pelaku pasar, sehingga permintaan terhadap mata uang negara tersebut turun dan kurs melemah.[10][6][7]
- Sebaliknya, stabilitas politik dan kejelasan kebijakan ekonomi akan meningkatkan kepercayaan dan mendorong arus modal masuk, memperkuat nilai tukar. Ekspektasi pasar terhadap kondisi masa depan (berdasarkan berita, data ekonomi, dan analisis) juga ikut menggerakkan kurs karena pasar valas sangat sensitif terhadap informasi baru.[6][7][10]
Jadi, fluktuasi kurs valuta asing adalah hasil interaksi kompleks berbagai faktor ekonomi (inflasi, suku bunga, neraca perdagangan, pendapatan, arus modal) dan non-ekonomi (politik, keamanan, ekspektasi), yang semuanya bermuara pada perubahan permintaan dan penawaran mata uang di pasar valuta asing.[8][7][10][9][6]
Citations:
[1] [Pengertian Floating Exchange Rate - HSB Investasi](https://www.hsb.co.id/glosarium/f/floating-exchange-rate)
[2] [Mata uang mengambang - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas](https://id.wikipedia.org/wiki/Mata_uang_mengambang)
[3] [TUGAS 3: BISNIS INTERNASIONAL (FSAB4307) - JAWABAN DAN ...](https://www.studocu.id/id/document/universitas-terbuka/bisnis-internasional/tugas-3-bisnis-internasional-fsab4307-jawaban-dan-analisis/161756623)
[4] [Kurs Mengambang: Pengertian, Jenis, Keuntungan & Kelemahan](https://www.ocbc.id/id/article/2023/04/06/kurs-mengambang-adalah)
[5] [Tugas 3 Bisnis Internasional - TUGAS TUTORIAL KE- PROGRAM STUDI AKUNTANSI Nama Mata Kuliah : ADBI - Studocu](https://www.studocu.com/es-ar/document/universitas-terbuka/bisnis-internasional/tugas-3-bisnis-internasional/60706077?origin=recommended-suggestion-6)
[6] [Faktor yang Memengaruhi Kurs Valuta Asing & Penjelasannya](https://www.ocbc.id/id/article/2022/12/28/faktor-yang-memengaruhi-kurs-valuta-asing)
[7] [Faktor yang Berpengaruh Pada Kurs Valuta Asing](https://dosen.upi-yai.ac.id/v5/dokumen/materi/060055/159_20241105153751_7_Faktor%20Kurs%20Valas.pdf)
[8] [TUGAS 3 TUTORIAL ONLINE BISNIS INTERNASIONAL (ADBI4432)](http://www.ememha.com/2023/04/tugas-3-tutorial-online-bisnis.html)
[9] [Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi kurs valuta asing](https://repository.ubharajaya.ac.id/17313/)
[10] [[PDF] BAB II LANDASAN TEORI](http://repo.uinsatu.ac.id/23371/5/BAB%20II.pdf)