Mengenal Postmodernisme dalam Teori Hubungan Internasional

Wah Cha Yup

Postmodernisme dalam Teori Hubungan Internasional

Teori hubungan internasional telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir. Salah satu aliran pemikiran yang cukup mengguncang teori arus utama hubungan internasional adalah postmodernisme.

Apa itu Postmodernisme?

Sebelum masuk ke pembahasan postmodernisme dalam hubungan internasional, kita perlu pahami dulu apa itu postmodernisme. Secara umum, postmodernisme adalah sebuah aliran filsafat dan kritik budaya yang muncul sekitar akhir 1960-an.

Beberapa ciri utama postmodernisme antara lain:

  • Menolak metanarasi atau grand narrative
  • Menolak pandangan objektif dan mutlak tentang realitas, pengetahuan, dan identitas
  • Mempertanyakan asumsi-asumsi dasar dari pemikiran modern
  • Menekankan sifat jamak, relatif, dan terkonstruksi dari realitas

Jadi intinya, postmodernisme sangat skeptis dan menantang berbagai kepastian yang dianggap mapan selama ini dalam ilmu pengetahuan. Ia melihat bahwa realitas dan pengetahuan sangat dipengaruhi oleh bahasa, interpretasi, dan konstruksi sosial.

Tokoh-tokoh postmodern antara lain Michel Foucault, Jacques Derrida, Jean-Fran├žois Lyotard, dan lain-lain. Mereka banyak mengkritik asumsi-asumsi dasar ilmu pengetahuan modern.

Postmodernisme dalam Teori Hubungan Internasional

Lalu bagaimana postmodernisme masuk dan berpengaruh dalam teori hubungan internasional?

Pada dasarnya, postmodernisme menantang pandangan-pandangan tradisional dalam studi hubungan internasional yang didasarkan pada asumsi realitas objektif, pengetahuan absolut, dan identitas yang tegas.

James Der Derian adalah salah satu tokoh utama yang mengembangkan postmodernisme dalam hubungan internasional. Ia banyak mengkritik teori arus utama seperti realisme, liberalisme, dll yang dianggapnya membangun metanarasi tertentu dalam studi HI.

Baca Juga!  Hubungan Metode Omnibus Law dalam UU Cipta Kerja dengan Sistem Hukum Civil Law di Indonesia

Der Derian dan para postmodernis lainnya berpendapat bahwa metanarasi yang dibangun teori arus utama terlalu menyederhanakan kompleksitas hubungan internasional. Ia juga meminggirkan suara/pengalaman negara-negara dunia ketiga.

Berikut beberapa kritik utama postmodernisme terhadap teori HI tradisional:

Teori TradisionalKritik Postmodern
Memandang negara sebagai aktor utamaAktor non-negara juga penting dalam HI kontemporer
Menganggap ada pemisahan antara domestik dan internasionalBatas-batas itu semakin kabur di era globalisasi
Memandang identitas aktor sebagai hal yang tetapIdentitas cair, silang, dan terus berubah

Jadi intinya, postmodernisme ingin membongkar dan mempertanyakan kembali semua asumsi yang dianggap mapan dan objektif dalam teori HI arus utama.

Contoh Aplikasi Pemikiran Postmodern dalam HI

Lalu bagaimana penerapan pemikiran postmodernisme dalam kajian hubungan internasional? Berikut ini beberapa contoh topik yang dianalisis dengan kacamata postmodern:

1. Konstruksi Ancaman Terorisme

James Der Derian melihat bahwa ancaman terorisme sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh cara kita mendefinisikan dan memaknainya. Ia dipengaruhi oleh bahasa, wacana, dan praktik keamanan tertentu.

Jadi Der Derian ingin melakukan dekonstruksi dan mempertanyakan kembali bagaimana ancaman terorisme ini dipahami dan dikonstruksi. Apakah benar-benar objektif atau justru hasil konstruksi sosial belaka?

2. Politik Pengetahuan dalam Isu Lingkungan

Michel Foucault menganalisis isu perubahan iklim dan lingkungan dengan fokus pada produksi pengetahuan dan wacana yang ada di baliknya.

Ia melihat bahwa pengetahuan tentang lingkungan dan iklim juga merupakan bentuk kekuasaan yang bisa saja meminggirkan suara-suara tertentu. Misalnya suara masyarakat adat yang berhadapan langsung dengan kerusakan hutan.

Jadi analisis Foucault berfokus pada politik produksi pengetahuan di balik wacana lingkungan global.

3. Dekonstruksi Wacana Pembangunan

Jacques Derrida dan pemikir postmodern lainnya banyak mengkritik wacana pembangunan (development discourse) yang memandang Barat sebagai model ideal modernitas yang harus ditiru negara berkembang.

Baca Juga!  Mengapa Komunikasi dan Transportasi Sulit Disamaratakan di Indonesia?

Mereka ingin melakukan dekonstruksi asumsi-asumsi Barat sentris dalam wacana pembangunan tersebut. Serta menunjukkan bahwa sebenarnya terdapat banyak variasi dan ragam model pembangunan, bukan hanya model Barat.

Nah itu dia tiga contoh bagaimana postmodernisme diaplikasikan dalam studi hubungan internasional kontemporer.

Tantangan dan Kritik terhadap Postmodernisme

Meskipun menarik dan menantang, postmodernisme dalam HI juga tidak luput dari kritik. Beberapa tantangan postmodernisme antara lain:

  • Dianggap terlalu skeptis ekstrim dan dekonstruktif, sehingga tidak memberikan solusi konkret atas persoalan HI
  • Dipandang terlalu intelektual dan jauh dari realitas politik sebenarnya
  • Minimnya metodologi riset yang jelas dalam postmodernisme

Kritikus juga mempertanyakan apa relevansi praktis gagasan-gagasan postmodernis dalam perumusan kebijakan luar negeri dan hubungan internasional. Apakah ia hanya sekadar permainan wacana intelektual belaka?

Memang tantangan tersebut perlu dipertimbangkan. Namun tak dapat dipungkiri postmodernisme telah memberikan sudut pandang baru yang menarik dalam studi HI kontemporer. Ia memperkaya khasanah teori HI di luar arus utama yang mapan selama ini.

Penutup

Itulah ulasan singkat mengenai postmodernisme dalam teori hubungan internasional. Pokoknya postmodernisme menolak pandangan objektif dan menantang berbagai asumsi mapan dalam teori HI arus utama.

Postmodernisme mengajak kita untuk senantiasa skeptis, selalu mempertanyakan kembali berbagai kebenaran yang dianggap sudah final. Kita perlu terus mempertanyakan asumsi-asumsi dasar dari ilmu pengetahuan yang kita yakini saat ini.

Apa pun kekurangannya, tantangan intelektual postmodernisme layak diapresiasi dalam memperkaya wacana teoritis hubungan internasional kontemporer. Ia membuka mata kita akan kompleksitas realitas HI di luar penjelasan-penjelasan sederhana yang selama ini ada.

Also Read

Bagikan:

Wah Cha Yup

Wah Cha Yup adalah lulusan sarjana pendidikan dan pejuang PNS dengan wawasan yang luas. Gemar membaca, Wah Cha Yup memiliki dedikasi tinggi dalam memajukan bangsa melalui perannya sebagai PNS. Profilnya mencerminkan semangat belajar, keberanian, dan pengetahuan yang membuatnya menjadi sosok yang menginspirasi.

Tags

Tinggalkan komentar