Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Perbedaan Teori Permintaan Uang Klasik vs Friedman

×

Perbedaan Teori Permintaan Uang Klasik vs Friedman

Sebarkan artikel ini
Perbedaan Teori Permintaan Uang Klasik vs Friedman

Deskripsi Meta: Pelajari perbedaan utama antara teori permintaan uang klasik dan teori Friedman dalam penjelasan santai ini. Pahami konsep kunci dengan contoh relevan.

Pendahuluan:
Hei teman, hari ini kita akan membahas teori permintaan uang – topik yang cukup rumit dalam ekonomi moneter. Tapi jangan khawatir, saya akan menjelaskannya dengan bahasa yang sederhana dan contoh-contoh yang mudah dipahami. Jadi, siap untuk mempelajari sesuatu yang baru?

Apa itu Teori Permintaan Uang?

Sebelum kita masuk ke perbedaannya, mari kita pahami dulu apa itu teori permintaan uang. Secara sederhana, teori ini menjelaskan alasan orang memegang uang tunai dan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah uang yang mereka inginkan.

Ingat saat kamu menyimpan uang di dompet atau tabungan? Nah, itu adalah permintaan uang. Orang memegang uang untuk berbagai alasan, seperti membayar tagihan, berbelanja, atau sekedar berjaga-jaga jika ada keadaan darurat.

Teori Permintaan Uang Klasik

Oke, sekarang kita masuk ke teori permintaan uang klasik. Teori ini berasal dari pemikiran ekonom klasik seperti Adam Smith dan David Ricardo.

Menurut teori klasik, orang hanya memegang uang untuk dua alasan utama:

  1. Motif Transaksi: Ini adalah uang yang dipegang untuk membeli barang dan jasa sehari-hari, seperti makanan, pakaian, atau membayar tagihan.
  2. Motif Berjaga-jaga: Uang yang disimpan untuk keperluan tak terduga, seperti keadaan darurat atau pengeluaran mendadak.

Teori klasik juga beranggapan bahwa kecepatan peredaran uang (velocity of money) adalah tetap dalam jangka pendek. Artinya, uang beredar di masyarakat dengan kecepatan yang relatif konstan.

Baca Juga!  Konsep Opportunity Cost dalam Pengambilan Keputusan Ekonomi

Sebagai contoh, bayangkan kamu menerima gaji bulanan. Sebagian uang itu kamu gunakan untuk membayar sewa rumah, membeli makanan, dan kebutuhan lainnya (motif transaksi). Sisanya kamu simpan di tabungan untuk keperluan tak terduga, seperti biaya perbaikan mobil atau tagihan dokter (motif berjaga-jaga).

Asumsi Lain dalam Teori Klasik

Selain itu, teori klasik juga berasumsi bahwa:

  • Jumlah barang dan jasa dalam perekonomian adalah tetap karena perekonomian sudah mencapai full employment (semua orang yang ingin bekerja sudah mendapat pekerjaan).
  • Pasar uang terutama menentukan tingkat harga dalam perekonomian.

Jadi, menurut teori klasik, permintaan uang hanya dipengaruhi oleh kebutuhan transaksi dan berjaga-jaga, serta kecepatan peredaran uang yang tetap.

Teori Permintaan Uang Friedman

Nah, sekarang kita beralih ke teori permintaan uang yang dikemukakan oleh ekonom terkenal Milton Friedman. Teori ini sedikit berbeda dari teori klasik.

Menurut Friedman, orang tidak hanya memegang uang untuk motif transaksi dan berjaga-jaga, tetapi juga sebagai aset yang memberikan manfaat sebagai sumber daya beli yang likuid.

Dalam teorinya, Friedman menganggap bahwa uang dan barang merupakan substitusi. Artinya, orang harus memilih antara memegang uang atau menggunakan uangnya untuk membeli barang-barang lain, seperti obligasi, saham, atau aset lainnya.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan Uang Menurut Friedman

Friedman menyatakan bahwa permintaan uang ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain:

  1. Tingkat Harga: Semakin tinggi tingkat harga, semakin banyak uang yang dibutuhkan untuk transaksi.
  2. Suku Bunga Obligasi dan Ekuitas: Semakin tinggi suku bunga obligasi atau ekuitas, semakin rendah permintaan uang karena orang akan lebih tertarik untuk berinvestasi.
  3. Modal Fisik: Semakin banyak modal fisik yang dimiliki seseorang (seperti tanah, bangunan, atau mesin), semakin rendah permintaan uangnya karena kekayaannya sudah terikat dalam bentuk aset fisik.
  4. Kekayaan: Semakin kaya seseorang, semakin besar permintaan uangnya untuk tujuan transaksi dan berjaga-jaga.
Baca Juga!  4 Prinsip Pemikiran Dasar Falsafah Pada Sistem Ekonomi Kapitalis

Jadi, menurut Friedman, permintaan uang tidak hanya dipengaruhi oleh motif transaksi dan berjaga-jaga, tetapi juga oleh tingkat pengembalian dari aset lain seperti obligasi dan saham, serta kekayaan seseorang.

Contoh Sederhana

Misalnya, kamu memiliki tabungan sebesar Rp 10 juta. Kamu bisa memilih untuk menyimpan uang itu dalam bentuk tunai (permintaan uang) atau berinvestasi dalam obligasi yang memberikan bunga 5% per tahun.

Jika kamu memilih menyimpan uang tunai, kamu tidak akan mendapatkan bunga. Namun, uang itu tetap likuid dan bisa digunakan kapan saja untuk keperluan transaksi atau berjaga-jaga.

Sebaliknya, jika kamu berinvestasi dalam obligasi, kamu akan mendapatkan bunga sebesar Rp 500 ribu per tahun. Namun, uang itu tidak lagi likuid dan harus dijual terlebih dahulu jika kamu ingin menggunakannya.

Dalam contoh ini, keputusanmu untuk memegang uang tunai atau berinvestasi dalam obligasi akan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti tingkat bunga obligasi, kebutuhan likuiditas, dan preferensi risiko.

Perbedaan Utama Teori Klasik dan Friedman

Nah, setelah membahas kedua teori tersebut, mari kita rangkum perbedaan utamanya:

  1. Motif Memegang Uang: Teori klasik hanya memandang permintaan uang untuk tujuan transaksi dan berjaga-jaga, sedangkan Friedman memandang permintaan uang sebagai permintaan aset secara umum dengan berbagai faktor penentu.
  2. Faktor Penentu: Teori klasik hanya menekankan pada kecepatan peredaran uang, sedangkan Friedman memasukkan faktor-faktor seperti tingkat pengembalian aset lain, kekayaan, dan modal fisik.
  3. Peran Pasar Uang: Teori klasik menekankan bahwa pasar uang terutama menentukan tingkat harga, sedangkan Friedman menekankan bahwa pasar uang menentukan tingkat bunga dan tingkat harga.
  4. Pertumbuhan Ekonomi: Friedman menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi harus sejalan dengan tingkat pertumbuhan jumlah uang beredar, sedangkan teori klasik tidak membahas hal ini secara eksplisit.
Baca Juga!  Istilah Non-Price Competition: Alasan Perlu Dilakukan dan Contohnya

Jadi, secara umum, teori Friedman lebih komprehensif dan mempertimbangkan lebih banyak faktor dalam menjelaskan permintaan uang dibandingkan teori klasik.

Kesimpulan

Nah, itulah penjelasan sederhana tentang perbedaan antara teori permintaan uang klasik dan teori Friedman. Meskipun keduanya membahas topik yang sama, namun terdapat perbedaan signifikan dalam asumsi dan faktor-faktor yang dipertimbangkan.

Teori klasik lebih sederhana dan hanya memandang permintaan uang dari sisi motif transaksi dan berjaga-jaga, serta kecepatan peredaran uang yang tetap. Sementara teori Friedman lebih kompleks dan mempertimbangkan berbagai faktor seperti tingkat pengembalian aset lain, kekayaan, dan modal fisik.

Jadi, teman-teman, itulah penjelasan singkat tentang perbedaan teori permintaan uang klasik dan Friedman. Semoga penjelasan ini membantu kalian memahami konsep-konsep ini dengan lebih mudah. Jika ada pertanyaan atau ingin membahas lebih lanjut, jangan ragu untuk menghubungi saya. Sampai jumpa lagi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *