Dalam dunia tulis-menulis, pengarang adalah seorang sutradara. Ia tidak hanya menciptakan dunia dan karakter, tetapi juga memilih "kamera" yang akan digunakan untuk merekam seluruh adegan cerita. "Kamera" inilah yang kita kenal sebagai sudut pandang pengarang (author's point of view).
Istilah ini sering muncul dalam pembahasan sastra, namun terkadang maknanya tumpang tindih dengan sudut pandang secara umum. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan sudut pandang pengarang dan mengapa pemilihannya begitu fundamental dalam sebuah narasi?
Artikel ini akan mengupas pengertian sudut pandang pengarang, fungsi utamanya, dan bagaimana ia diaplikasikan melalui contoh-contoh narasi.
Pengertian Sudut Pandang Pengarang
Sudut pandang pengarang adalah posisi atau cara pandang yang diambil oleh penulis untuk menceritakan kisahnya. Ini adalah keputusan strategis tentang "siapa" yang akan menjadi narator dan "seberapa banyak" informasi yang akan diungkapkan kepada pembaca.
Pilihan ini akan menentukan apakah cerita akan terasa personal dan intim, atau luas dan objektif. Dengan kata lain, ini adalah teknik yang digunakan pengarang untuk mengontrol aliran informasi dan memandu persepsi pembaca dari awal hingga akhir.
Fungsi Utama Sudut Pandang Pengarang
Pemilihan sudut pandang bukanlah sekadar pilihan teknis, melainkan memiliki fungsi krusial dalam sebuah cerita:
- Mengontrol Aliran Informasi: Pengarang memutuskan informasi apa yang boleh diketahui pembaca dan mana yang harus dirahasiakan untuk menciptakan ketegangan atau kejutan.
- Membangun Kedekatan Emosional: Dengan memilih sudut pandang orang pertama, misalnya, pengarang bisa menciptakan ikatan emosional yang kuat antara pembaca dan tokoh utama.
- Mengarahkan Fokus Cerita: Sudut pandang menentukan siapa atau apa yang menjadi pusat perhatian. Apakah cerita akan berfokus pada perjalanan batin satu tokoh atau dinamika kompleks antar banyak tokoh?
- Menciptakan Nuansa Tertentu: Sudut pandang orang ketiga serba tahu bisa menciptakan nuansa epik dan agung, sementara sudut pandang orang pertama yang tidak bisa diandalkan (unreliable narrator) bisa menciptakan nuansa misterius dan penuh keraguan.
Jenis-Jenis Sudut Pandang Pengarang dan Contohnya
Pada praktiknya, sudut pandang pengarang diwujudkan dalam jenis-jenis sudut pandang narasi yang kita kenal:
1. Pengarang sebagai Orang Pertama ("Aku")
Pengarang "masuk" ke dalam cerita dan menjadi salah satu tokohnya. Ini menciptakan narasi yang sangat subjektif.
Contoh:
Aku melihatnya tersenyum dari seberang jalan. Saat itu aku belum tahu bahwa senyum itu akan menjadi awal dari petualangan paling gila dalam hidupku.
Fungsi: Menciptakan keintiman dan membuat pembaca merasakan langsung apa yang dialami tokoh "aku".
2. Pengarang sebagai Orang Ketiga Terbatas ("Dia" - Fokus Tunggal)
Pengarang berada di luar cerita tetapi memilih untuk "menempel" pada satu tokoh saja. Pengarang hanya menceritakan apa yang diketahui, dilihat, dan dirasakan oleh tokoh tersebut.
Contoh:
Bima membuka pintu dengan ragu. Ruangan itu gelap dan sunyi. Ia tidak tahu bahaya apa yang menantinya di dalam, dan rasa takut mulai menjalari punggungnya.
Fungsi: Membangun ketegangan karena pembaca hanya tahu sebanyak yang diketahui tokoh.
3. Pengarang sebagai Orang Ketiga Serba Tahu ("Dia" - Tahu Segalanya)
Pengarang mengambil posisi sebagai narator yang mahatahu. Ia bisa berpindah dari satu pikiran tokoh ke pikiran tokoh lainnya dan mengungkap semua rahasia yang ada.
Contoh:
Sementara Bima merasa takut di depan pintu, di dalam ruangan, seorang penyusup sedang bersembunyi di balik tirai, menyesali keputusannya untuk masuk ke rumah itu.
Fungsi: Memberikan gambaran cerita yang komprehensif dan luas kepada pembaca.
Kesimpulan
Sudut pandang pengarang adalah salah satu alat paling kuat dalam perangkat seorang penulis. Ini adalah keputusan sadar yang membentuk cara pembaca mengalami sebuah cerita. Dengan memilih apakah akan menjadi "aku" yang personal, "dia" yang terbatas, atau "dia" yang serba tahu, pengarang tidak hanya bercerita, tetapi juga secara aktif merancang dan memandu seluruh perjalanan emosional dan intelektual pembacanya.