Dalam diskusi seputar metode pembelajaran modern, Anda mungkin menemukan dua istilah yang terdengar sangat mirip: experience learning dan experiential learning. Kemiripan ini sering kali menimbulkan kebingungan dan membuat keduanya dianggap sama.
Namun, apakah benar keduanya memiliki arti yang sama?
Meskipun sering kali yang dimaksud oleh pengguna istilah "experience learning" adalah konsep pembelajaran berbasis pengalaman, secara teknis ada perbedaan penting antara kedua frasa ini. Memahaminya akan membantu kita berkomunikasi dengan lebih presisi dalam dunia pendidikan.
Experience Learning: Sebuah Istilah Tidak Baku
Secara umum, "experience learning" adalah istilah yang tidak baku atau kurang tepat secara gramatikal dalam konteks teori pendidikan. Istilah yang lebih diterima dan diakui secara akademis adalah "experiential learning".
Sering kali, ketika seseorang menggunakan frasa "experience learning", yang sebenarnya mereka rujuk adalah ide umum tentang "belajar dari pengalaman" atau learning by experience. Ini adalah konsep yang valid, namun penggunaan frasa "experience learning" itu sendiri bisa dianggap sebagai sebuah salah kaprah (miskonsepsi).
- Experience adalah kata benda (artinya: pengalaman).
- Experiential adalah kata sifat (artinya: bersifat pengalaman atau berbasis pengalaman).
Jadi, ketika kita ingin mendeskripsikan sebuah model pembelajaran (kata benda), kita membutuhkan kata sifat "experiential" untuk menjelaskannya, sehingga menjadi "experiential learning".
Perbedaan Konseptual: Aktivitas vs. Proses
Jika kita mencoba memberi makna pada "experience learning", kita bisa melihatnya sebagai sebuah aktivitas yang memberikan pengalaman. Di sisi lain, "experiential learning" adalah sebuah proses yang terstruktur.
Mari kita lihat perbedaannya melalui tabel sederhana:
| Aspek | Experience Learning (jika diartikan sebagai aktivitas) | Experiential Learning (sebagai proses/model) |
|---|---|---|
| Fokus | Pada aktivitas atau pengalamannya itu sendiri. | Pada keseluruhan proses, dari pengalaman hingga refleksi dan aplikasi. |
| Sifat | Bisa jadi hanya satu arah: melakukan sesuatu. | Merupakan sebuah siklus (mengalami → merenung → memahami → mencoba lagi). |
| Peran Refleksi | Tidak wajib. Seseorang bisa saja melakukan sesuatu tanpa merenungkannya. | Wajib. Refleksi adalah jembatan yang mengubah pengalaman menjadi pelajaran. |
| Contoh | Seorang siswa ikut kegiatan outbound dan merasa senang. | Siswa ikut kegiatan outbound, lalu dipandu untuk merefleksikan cara timnya memecahkan masalah, dan menyusun strategi kerja sama tim untuk proyek kelas berikutnya. |
Mana Istilah yang Seharusnya Digunakan?
Untuk kejelasan dan ketepatan akademis, selalu prioritaskan penggunaan istilah "experiential learning" ketika merujuk pada model pembelajaran berbasis pengalaman yang terstruktur.
Jika Anda hanya ingin merujuk pada ide umum bahwa seseorang belajar karena melakukan sesuatu, frasa yang lebih tepat adalah "learning by experience" (belajar dari pengalaman).
Kesimpulan sederhananya:
- Gunakan Experiential Learning untuk merujuk pada model/teori formal (Siklus Kolb).
- Gunakan Learning by Experience untuk merujuk pada ide umum belajar lewat praktik.
- Hindari menggunakan Experience Learning untuk mencegah ambiguitas dan ketidaktepatan istilah.
Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat berkomunikasi dengan lebih jelas dan memastikan bahwa esensi dari pembelajaran berbasis pengalaman—yaitu adanya proses refleksi yang mendalam—tidak hilang dalam percakapan.