Pernahkah Anda merasa tidak nyaman saat berbicara dengan seseorang yang sibuk main HP? Atau mungkin, Anda pernah melihat anak sekolah yang lewat begitu saja di depan orang tua tanpa menyapa? Di era modern ini, nilai-nilai kesopanan terkadang mulai luntur. Padahal, penguatan pendidikan karakter adalah fondasi utama dalam membangun masyarakat yang harmonis.
Sopan santun bukan sekadar aturan kaku, melainkan cerminan kualitas diri seseorang. Dilansir dari Jurnal Pendidikan Islam Al-Tarbawi Al-Haditsah, sopan santun adalah aktivitas yang dapat diamati sebagai menghormati orang lain dan lingkungan. Lantas, apa saja contoh nyata perilaku santun dan tidak santun dalam kehidupan sehari-hari?
Apa Itu Perilaku Santun?
Secara sederhana, perilaku santun adalah tindakan budi pekerti halus dan baik yang mencerminkan rasa hormat kepada orang lain. Dalam budaya Indonesia, ini sangat erat kaitannya dengan tata krama dan batas antara sopan santun dan kaku yang perlu dijaga.
Contoh Perilaku Santun (Do's)
Berikut adalah tindakan yang mencerminkan pribadi berkarakter mulia:
- Mengucapkan "3 Kata Ajaib": Selalu biasakan mengucapkan Maaf, Tolong, dan Terima Kasih dalam situasi yang tepat.
- Menghormati Orang yang Lebih Tua: Menggunakan bahasa yang halus (krama inggil dalam budaya Jawa) atau nada yang rendah saat berbicara dengan orang tua atau guru.
- Mencium Tangan (Salim): Tradisi khas Indonesia saat anak berpamitan atau bertemu dengan orang tua dan guru.
- Mendengarkan dengan Seksama: Tidak memotong pembicaraan orang lain dan menatap mata lawan bicara (dengan sopan) saat berdiskusi.
- Meminta Izin: Selalu meminta izin sebelum meminjam barang milik orang lain, sekecil apapun barang tersebut.
Contoh Perilaku Tidak Santun (Don'ts)
Seringkali tanpa sadar kita melakukan hal-hal ini yang ternyata dianggap kurang ajar:
- Menyela Pembicaraan: Memotong kalimat orang lain sebelum mereka selesai berbicara.
- Phubbing (Sibuk Main HP): Mengabaikan lawan bicara di depan mata demi menatap layar smartphone.
- Berkata Kasar atau Bernada Tinggi: Menggunakan kata-kata kotor atau membentak, terutama kepada orang yang lebih tua.
- Membuang Ludah Sembarangan: Meludah di tempat umum yang mengganggu kenyamanan orang lain.
- Duduk dengan Kaki Diangkat: Mengangkat kaki ke atas meja atau kursi saat sedang dalam forum resmi atau bertamu.
Mengapa Sopan Santun Itu Penting?
Menurut penelitian dalam Jurnal Penelitian Multidisiplin Terpadu, karakter sopan santun menjadi standar "baik-buruk" individu di masyarakat. Sekolah bahkan menanamkan ini melalui contoh penguatan pendidikan karakter di SD, SMP, dan SMA.
Orang yang santun akan lebih dihargai, mudah diterima di lingkungan pergaulan, dan memiliki karir yang lebih cemerlang karena kemampuan interpersonalnya yang baik.
Kesimpulan
Menjadi pintar saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan akhlak yang baik. Mulailah dari hal kecil di rumah, seperti menyapa orang tua pagi hari atau mengucapkan terima kasih kepada petugas kebersihan. Ingat, perilaku santun adalah investasi sosial yang tidak ternilai harganya.
Referensi:
- Iwan. (2020). Merawat Sikap Sopan Santun Dalam Lingkungan Pendidikan. Jurnal Pendidikan Islam Al-Tarbawi Al-Haditsah.
- Arman, dkk. (2024). Penguatan Karakter Sopan Santun Melalui Pembiasaan. Jurnal Penelitian Multidisiplin Terpadu.
- Santoso, G., dkk. (2023). Hubungan Lingkungan Sekolah dengan Karakter Sopan Santun Siswa. Jurnal Pendidikan Tambusai.