Scroll untuk baca artikel
Akuntansi

Apa Itu Operational Cost?

×

Apa Itu Operational Cost?

Sebarkan artikel ini
Operational Cost

Operational cost atau biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menjalankan kegiatan operasional sehari-hari. Biaya ini mencakup semua pengeluaran yang diperlukan agar perusahaan dapat beroperasi dan menghasilkan barang atau jasa. Dalam artikel ini, kita akan menjelaskan lebih lanjut tentang apa itu operational cost, jenis-jenisnya, dan pentingnya mengelola biaya operasional dengan baik.

Pengertian Biaya Operasional

Biaya operasional atau operating cost adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam rangka menjalankan aktivitas operasionalnya sehari-hari. Biaya ini mencakup seluruh pengeluaran yang diperlukan agar perusahaan dapat memproduksi barang dan jasa serta menghasilkan pendapatan.

Biaya Operasional

Biaya operasional merupakan komponen biaya yang sangat penting bagi kelangsungan operasi perusahaan. Tanpa adanya biaya operasional, sebuah perusahaan tidak akan mampu beroperasi dan menghasilkan laba. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengelola biaya operasional dengan cermat agar tidak membebani keuangan perusahaan.

Contoh biaya operasional antara lain:

  • Biaya bahan baku
  • Biaya tenaga kerja langsung
  • Biaya overhead pabrik (sewa, listrik, air, perawatan mesin)
  • Biaya pemasaran (iklan, promosi, komisi penjualan)
  • Biaya administrasi dan umum (gaji karyawan kantor, perlengkapan kantor, dll)

Kategori Biaya Operasional

Secara umum, Operational Cost dapat dikategorikan menjadi 2 jenis, yaitu:

1. Biaya Tetap (Fixed Cost)

Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya relatif konstan dan tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan atau produksi dalam rentang waktu tertentu. Contoh biaya tetap:

  • Sewa gedung/kantor
  • Gaji karyawan tetap
  • Penyusutan aset tetap
  • Asuransi aset tetap
  • Internet & telepon
Baca Juga!  Anggaran dan Penganggaran: Perbedaan, Langkah, dan Contohnya

Ciri-ciri biaya tetap:

  • Jumlahnya konstan dalam kurun waktu tertentu
  • Harus dibayarkan meskipun produksi berhenti
  • Per unitnya akan menurun jika produksi meningkat

2. Biaya Variabel (Variable Cost)

Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya berubah sebanding dengan perubahan volume produksi atau kegiatan. Contoh biaya variabel:

  • Bahan baku
  • Biaya tenaga kerja langsung
  • Biaya bahan penolong
  • Biaya perawatan mesin
  • Biaya transportasi

Ciri-ciri biaya variabel:

  • Jumlahnya berubah sesuai volume produksi
  • Tidak ada jika produksi berhenti
  • Per unitnya tetap meskipun produksi meningkat

Perhitungan Operational Cost

Untuk menghitung total Operational Cost, perusahaan perlu menjumlahkan seluruh komponen biaya tetap dan biaya variabel.

Total Biaya Operasional = Biaya Tetap + Biaya Variabel

Komponen biaya tetap seperti sewa dan gaji relatif konstan setiap bulannya. Sedangkan biaya variabel seperti bahan baku dan tenaga kerja langsung berubah-ubah sesuai produksi.

Perusahaan juga perlu memperhatikan biaya operasional per unit produk dengan membagi total biaya operasional dengan jumlah unit yang diproduksi.

Biaya Operasional per Unit = Total Biaya Operasional / Jumlah Unit Diproduksi

Informasi biaya operasional per unit penting untuk menentukan harga jual produk agar perusahaan tetap mendapatkan laba.

Tujuan Mengelola Biaya Operasional

Mengelola biaya operasional secara efektif sangat penting bagi keberlangsungan operasi dan profitabilitas perusahaan. Beberapa tujuan manajemen Operational Cost adalah:

  • Menekan biaya produksi serendah mungkin tanpa mengurangi kualitas
  • Meningkatkan efisiensi proses produksi dan operasional
  • Menghilangkan pemborosan dan kegiatan yang tidak menambah nilai
  • Menentukan harga jual produk yang kompetitif dan menghasilkan laba
  • Memaksimalkan laba dengan menekan Operational Cost

Strategi Mengelola Biaya Operasional

Strategi Mengelola Biaya Operasional

Beberapa strategi yang dapat dilakukan perusahaan untuk mengelola biaya operasional secara efektif adalah:

  1. Analisis Biaya-Volume-Laba: Melakukan analisis titik impas (break even point) untuk mengetahui tingkat penjualan minimal agar perusahaan tidak rugi. Perusahaan juga dapat memproyeksikan laba pada berbagai tingkat volume penjualan.
  2. Anggaran Biaya Operasional: Membuat anggaran biaya operasional terperinci setiap periode untuk merencanakan dan mengendalikan biaya. Anggaran dapat dibandingkan dengan realisasi biaya untuk evaluasi.
  3. Pemilihan Pemasok Strategis: Memilih pemasok bahan baku yang harga dan kualitasnya terbaik agar mendapatkan bahan baku dengan biaya serendah mungkin.
  4. Pemeliharaan Mesin yang Rutin: Melakukan perawatan rutin dan berkala pada mesin produksi agar tetap beroperasi optimal dan efisien.
  5. Mengurangi Persediaan: Mengurangi persediaan bahan baku dan barang jadi yang berlebihan untuk menghemat biaya penyimpanan. Persediaan dijaga pada jumlah yang optimal.
  6. Automatisasi Proses: Mengotomatisasi proses produksi dan operasional yang memungkinkan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
  7. Melatih dan Mengembangkan Karyawan: Melatih karyawan untuk bekerja lebih efisien serta memberikan insentif untuk meningkatkan produktivitas.
Baca Juga!  Perbedaan Metode Langsung, Sekuensial, dan Simultan

Dengan menerapkan strategi di atas, perusahaan dapat mengelola biaya operasionalnya secara lebih efektif dan efisien untuk memaksimalkan keuntungan.

Kesimpulan

Biaya operasional merupakan komponen biaya terbesar yang harus dikeluarkan perusahaan agar dapat beroperasi secara berkelanjutan. Biaya operasional terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.

Perusahaan perlu melakukan perencanaan, pengendalian, dan pengelolaan biaya operasional yang baik agar tidak membebani keuangan perusahaan. Dengan menekan biaya operasional melalui berbagai strategi, perusahaan dapat meningkatkan margin laba dan profitabilitasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *