Scroll untuk baca artikel
Manajemen

Metode Forced Ranking: Definisi, Keuntungan, dan Contohnya

Avatar
×

Metode Forced Ranking: Definisi, Keuntungan, dan Contohnya

Sebarkan artikel ini
Metode Forced Ranking

Pernahkah Anda mendengar tentang metode “forced ranking” dalam manajemen kinerja? Metode ini sering kali menjadi topik perdebatan panas di kalangan profesional HR dan manajer. Forced ranking adalah sistem evaluasi kinerja yang membandingkan karyawan satu sama lain dan mengurutkan mereka dari yang terbaik hingga yang terburuk. Dalam artikel ini, kita akan membahas definisi forced ranking, bagaimana cara kerjanya, keuntungan dan kerugiannya, serta contoh penerapannya di beberapa perusahaan besar.

Apa Itu Forced Ranking?

Definisi Forced Ranking

Forced ranking, juga dikenal sebagai “stack ranking” atau “vitality curve,” adalah metode evaluasi kinerja yang mengurutkan karyawan berdasarkan kinerja mereka relatif terhadap rekan kerja mereka, bukan terhadap standar yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam sistem ini, karyawan dikelompokkan ke dalam beberapa kategori kinerja, seperti “A,” “B,” dan “C”.

Bagaimana Cara Kerjanya?

Proses forced ranking biasanya melibatkan evaluasi tahunan yang ekstensif. Karyawan dievaluasi dan ditempatkan dalam kategori berdasarkan kinerja mereka dibandingkan dengan rekan kerja mereka. Misalnya, dalam model 20-70-10 yang populer, 20% karyawan teratas dianggap sebagai “A” players, 70% sebagai “B” players, dan 10% terbawah sebagai “C” players yang mungkin dipecat atau dimasukkan ke dalam program perbaikan kinerja.

Keuntungan Forced Ranking

Identifikasi Karyawan Terbaik

Salah satu keuntungan utama dari forced ranking adalah kemampuannya untuk mengidentifikasi karyawan dengan kinerja terbaik. Karyawan yang berada di kategori “A” biasanya menerima promosi, bonus, dan peluang pengembangan karier yang lebih baik.

Baca Juga!  7 Ciri-ciri Pasar Persaingan Sempurna: Mekanisme Pasar yang Efisien

Peningkatan Produktivitas

Dengan menciptakan lingkungan yang kompetitif, forced ranking dapat mendorong karyawan untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas. Kompetisi yang sehat dapat meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.

Sistematisasi Proses HR

Forced ranking memberikan sistem yang terstruktur untuk evaluasi karyawan, terutama di perusahaan besar. Ini membantu manajer untuk lebih mudah mengidentifikasi karyawan yang membutuhkan pelatihan atau pengembangan lebih lanjut.

Kerugian Forced Ranking

Penurunan Moral Karyawan

Salah satu kritik utama terhadap forced ranking adalah dampaknya terhadap moral karyawan. Sistem ini dapat menciptakan lingkungan kerja yang terlalu kompetitif dan menurunkan moral karyawan, terutama bagi mereka yang terus-menerus berada di kategori bawah.

Bias dan Favoritisme

Evaluasi yang subjektif dapat menyebabkan bias dan favoritisme. Manajer mungkin cenderung memberikan peringkat yang lebih tinggi kepada karyawan yang mereka sukai, bukan berdasarkan kinerja yang sebenarnya.

Kehilangan Talenta Terbaik

Karyawan terbaik mungkin meninggalkan perusahaan karena takut dinilai secara tidak adil. Ini dapat menyebabkan perusahaan kehilangan talenta yang berharga.

Contoh Penerapan Forced Ranking

General Electric (GE)

Implementasi: GE, di bawah kepemimpinan CEO Jack Welch pada 1980-an, menggunakan sistem yang dikenal sebagai “rank and yank.” Karyawan dikelompokkan ke dalam tiga kategori: 20% teratas (“A” players), 70% menengah (“B” players), dan 10% terbawah (“C” players) yang biasanya dipecat atau dimasukkan ke dalam program perbaikan kinerja.

Hasil: Sistem ini diklaim membantu meningkatkan pendapatan GE secara signifikan, meskipun kemudian ditinggalkan karena dampak negatifnya terhadap moral karyawan dan inovasi.

Microsoft

Implementasi: Microsoft menggunakan sistem forced ranking di mana manajer harus mengurutkan tim mereka dari kinerja terbaik hingga terburuk. Sistem ini menyebabkan penurunan inovasi dan moral karyawan, sehingga akhirnya dihentikan pada tahun 2012.

Baca Juga!  Keterkaitan antara Attainable Set dan Efficient Set dalam Portofolio

Hasil: Penghapusan sistem ini diikuti dengan adopsi pendekatan baru yang lebih fokus pada umpan balik berkelanjutan dan tujuan kinerja.

Amazon

Implementasi: Amazon menggunakan forced ranking untuk memantau kinerja karyawan. Karyawan yang berkinerja rendah tidak langsung dipecat tetapi dimasukkan ke dalam “Performance Improvement Plan” (PIP) selama tiga bulan.

Hasil: Meskipun sistem ini membantu mengidentifikasi karyawan berkinerja rendah, kritik muncul karena menciptakan lingkungan kerja yang sangat kompetitif dan menurunkan moral karyawan.

Kesimpulan

Forced ranking adalah metode yang kontroversial dengan dampak yang signifikan baik positif maupun negatif, tergantung pada bagaimana sistem ini diimplementasikan dan dikelola dalam organisasi. Meskipun dapat membantu mengidentifikasi dan memberi penghargaan kepada karyawan dengan kinerja terbaik, sistem ini juga dapat menurunkan moral karyawan dan menyebabkan bias. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk mempertimbangkan baik keuntungan maupun kerugian sebelum mengadopsi metode ini.

Dengan memahami forced ranking secara mendalam, Anda dapat membuat keputusan yang lebih baik tentang apakah metode ini cocok untuk organisasi Anda. Jangan lupa untuk selalu mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap karyawan dan budaya perusahaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *