Scroll untuk baca artikel
Komunikasi

Mengapa Teori Agenda Setting Lebih Sering Digunakan oleh Humas?

×

Mengapa Teori Agenda Setting Lebih Sering Digunakan oleh Humas?

Sebarkan artikel ini
Mengapa Teori Agenda Setting Lebih Sering Digunakan oleh Humas?

Dalam dunia hubungan masyarakat (humas), berbagai teori komunikasi digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Beberapa teori yang sering dibahas adalah agenda setting, difusi inovasi, uses and gratification, dan disonansi kognitif. Namun, di antara keempat teori tersebut, teori agenda setting sering kali menjadi pilihan utama bagi praktisi humas. Mengapa demikian? Artikel ini akan membahas alasan di balik dominasi teori agenda setting dalam praktik humas, dengan mengacu pada berbagai sumber terpercaya dan contoh spesifik.

Apa Itu Teori Agenda Setting?

Teori agenda setting pertama kali diperkenalkan oleh Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw pada tahun 1972. Teori ini menyatakan bahwa media memiliki kemampuan untuk menentukan isu mana yang penting bagi publik. Media tidak selalu berhasil memberi tahu kita apa yang harus kita pikirkan, tetapi mereka sangat efektif dalam memberi tahu kita apa yang harus kita pikirkan tentang.

Sejarah dan Perkembangan

Teori ini muncul dari penelitian yang dilakukan selama kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat pada tahun 1968. Penelitian tersebut menemukan korelasi yang tinggi antara isu-isu yang diberi bobot oleh media dan isu-isu yang dianggap penting oleh pemilih. Hasil penelitian ini kemudian menjadi dasar bagi teori agenda setting, yang menekankan bahwa media memiliki kekuatan untuk menarik perhatian dan mempengaruhi publik terhadap suatu isu.

Baca Juga!  Komunikasi Verbal dan Nonverbal: Kunci Interaksi Efektif

Mengapa Teori Agenda Setting Dominan dalam Humas?

Pengaruh Media terhadap Opini Publik

Salah satu alasan utama mengapa teori agenda setting sering digunakan oleh humas adalah karena pengaruh media yang sangat kuat dalam membentuk opini publik. Media massa memiliki kemampuan untuk menentukan isu-isu yang dianggap penting oleh masyarakat, dan humas dapat memanfaatkan ini untuk mengarahkan perhatian publik pada isu-isu yang menguntungkan organisasi mereka.

Pengelolaan Reputasi

Humas sering kali bertanggung jawab untuk mengelola reputasi organisasi. Dengan menggunakan teori agenda setting, humas dapat menyoroti aspek-aspek positif dari organisasi dan mengurangi dampak dari berita negatif. Misalnya, jika ada isu kontroversial yang dapat merusak reputasi organisasi, humas dapat bekerja untuk mengalihkan perhatian media dan publik ke isu-isu lain yang lebih positif.

Strategi Komunikasi Dua Arah

Teori agenda setting juga membantu humas dalam memahami bagaimana komunikasi dua arah antara organisasi dan publik dapat dilakukan secara efektif. Dengan mengetahui isu-isu apa yang sedang menjadi perhatian publik, humas dapat menyesuaikan pesan mereka agar lebih relevan dan menarik bagi audiens mereka.

Contoh Penerapan Teori Agenda Setting dalam Humas

Kasus Prita Mulyasari

Salah satu contoh penerapan teori agenda setting adalah kasus Prita Mulyasari di Indonesia. Media massa memainkan peran penting dalam membentuk opini publik tentang kasus ini. Dengan liputan yang luas dan berulang-ulang, media berhasil menarik perhatian publik dan mempengaruhi persepsi mereka tentang keadilan dalam kasus tersebut.

Humas Pemerintah

Humas pemerintah sering menggunakan teori agenda setting untuk membentuk opini publik tentang kebijakan dan program pemerintah. Misalnya, dalam upaya menyebarluaskan program-program pembangunan nasional, humas pemerintah dapat bekerja sama dengan media untuk memastikan bahwa isu-isu tersebut mendapatkan perhatian yang cukup dari publik.

Baca Juga!  Kaitan Teori Komunikasi dan Komunikasi Pemasaran

Teori Lainnya dalam Humas

Uses and Gratification

Teori uses and gratification fokus pada mengapa dan bagaimana individu memilih media tertentu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dalam humas, teori ini dapat digunakan untuk memahami preferensi media dari audiens target dan menyesuaikan strategi komunikasi agar lebih efektif.

Difusi Inovasi

Teori difusi inovasi menjelaskan bagaimana inovasi atau ide baru menyebar dalam masyarakat. Humas dapat menggunakan teori ini untuk merancang kampanye yang mendorong adopsi inovasi atau perubahan perilaku, terutama dalam konteks peluncuran produk baru atau inisiatif sosial.

Disonansi Kognitif

Teori disonansi kognitif berkaitan dengan bagaimana individu menangani informasi yang bertentangan dengan keyakinan atau nilai mereka. Humas dapat menggunakan teori ini untuk merancang pesan yang mengurangi disonansi dan mendorong perubahan sikap atau perilaku, terutama dalam situasi krisis atau kampanye perubahan perilaku.

Kesimpulan

Meskipun semua teori komunikasi memiliki aplikasi yang berharga dalam humas, teori agenda setting sering kali lebih dominan karena kemampuannya untuk mempengaruhi persepsi publik dan mengelola isu-isu yang menjadi perhatian utama media dan masyarakat. Teori ini memberikan kerangka kerja yang kuat bagi humas untuk mengarahkan perhatian publik dan membentuk opini melalui strategi komunikasi yang terencana dan terfokus.

Dengan memahami dan menerapkan teori agenda setting, humas dapat lebih efektif dalam mencapai tujuan mereka, baik itu dalam mengelola reputasi, mempengaruhi opini publik, atau menyebarluaskan informasi penting. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika teori ini menjadi pilihan utama bagi banyak praktisi humas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *