Mengapa Komunikasi dan Transportasi Sulit Disamaratakan di Indonesia?

Akbar Fauziah

Mengapa Komunikasi dan Transportasi Sulit Disamaratakan di Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan ribuan pulau dan garis pantai sepanjang 99.093 kilometer. Kondisi geografis ini tentunya menimbulkan banyak tantangan tersendiri dalam upaya penyamarataan akses komunikasi dan transportasi antar wilayah.

Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 2021, baru 400 dari 514 kabupaten/kota di Indonesia yang terhubung dengan jaringan broadband (). Artinya masih banyak daerah yang belum memiliki akses internet andal, apalagi di pelosok nusantara.

Demikian pula dengan transportasi, banyak daerah terpencil yang masih belum terhubung dengan jalan darat dan moda transportasi lainnya. Kondisi ini tentu sangat mempengaruhi arus distribusi barang, jasa, dan informasi antar wilayah.

Lantas apa saja sih faktor utama yang menyebabkan komunikasi dan transportasi begitu sulit untuk disamaratakan di Indonesia? Yuk simak penjelasannya berikut ini!

1. Ketiadaan Infrastruktur Memadai

Faktor utama pertama yang menghambat penyamarataan komunikasi dan transportasi di Indonesia adalah ketiadaan infrastruktur yang memadai. Baik itu infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) maupun infrastruktur transportasi seperti jalan, rel kereta api, bandara, dan pelabuhan.

Menurut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, baru 400 yang sudah terhubung dengan jaringan serat optik broadband (). Selebihnya masih mengandalkan sinyal satelit yang bandwith dan keandalannya jauh lebih rendah.

Akibatnya terjadi ketimpangan akses internet antara perkotaan dan pedesaan. Masyarakat di daerah urban bisa menikmati kecepatan internet hingga 1 Gbps, sementara desa-desa di pedalaman Papua masih berjuang dengan sinyal 2G lemot abis.

Baca Juga!
Evaluasi Koleksi Digital: Pendekatan dan Komponen Penting

Begitu pula dengan infrastruktur transportasi seperti jalan dan jembatan. Banyak daerah terpencil yang akses transportasinya sangat terbatas dan bahkan tidak ada sama sekali. Kondisi ini sangat menyulitkan mobilitas barang dan orang antar wilayah.

Karena itu, pemerataan infrastruktur TIK dan transportasi menjadi PR besar pemerintah dalam upaya penyamarataan akses informasi dan distribusi logistik antar daerah di Indonesia. Investasi infrastruktur yang merata ke seluruh pelosok nusantara mutlak diperlukan.

2. Topografi Kepulauan yang Super Rumit

Faktor kedua adalah topografi Indonesia sebagai negara kepulauan yang sangat kompleks dengan ribuan pulau besar dan kecil, dataran tinggi, gunung berapi, hutan lebat, dan sungai-sungai besar. Kondisi geografis seperti ini tentu sangat menyulitkan upaya pembangunan infrastruktur.

Bayangkan saja, untuk menghubungkan pulau Jawa dan Papua diperlukan kabel laut sepanjang 4.350 km melintasi dasar samudera dalam, gunung bawah laut, dan palung yang curam (). Tentu butuh biaya dan teknologi khusus agar kabel tersebut tidak putus atau rusak.

https://tse1.mm.bing.net/th?q=Kabel Laut Pipa Air Minum

Demikian pula dengan pembangunan jalan lintas antar pulau. Dibutuhkan jembatan-jembatan super panjang di atas laut dalam untuk menghubungkannya. Belum lagi rawan longsor, banjir, dan bencana alam lainnya yang bisa memutuskan akses transportasi kapan saja.

Kondisi geografis Indonesia yang ekstrim ini membuat pembangunan infrastruktur menjadi sangat rumit dan mahal. Karena itu, swasta enggan berinvestasi karena kurang menguntungkan secara bisnis. Alhasil, pemerintah harus menggelontorkan anggaran besar-besaran demi pemerataan infrastruktur ke seluruh nusantara.

3. Biaya Logistik yang Sangat Tinggi

Faktor ketiga adalah biaya logistik di Indonesia yang sangat tinggi, bahkan tertinggi se-Asia Tenggara. Menurut survei Bank Dunia, biaya logistik di Indonesia mencapai 27% dari PDB, jauh di atas Thailand (18%), Malaysia (13%), dan Singapura (8%) ().

Baca Juga!
Kesalahan Pengambilan Keputusan dalam Uji Hipotesis dan Cara Mengatasinya

Parahnya, 17% dari total pengeluaran perusahaan di Indonesia diserap oleh biaya logistik akibat lemahnya infrastruktur transportasi antar pulau (). Bayangkan, biaya kirim barang dari Jakarta ke Papua bisa 10-20 kali lipat dibanding ke Jawa atau Bali.

Tingginya biaya logistik ini sangat merugikan daya saing produk Indonesia di pasar global. Harga barang jadi jadi tidak kompetitif gara-gara ongkos angkut yang melambung. Alhasil, banyak produsen enggan ekspor dan lebih memilih pasar domestik saja.

Oleh karena itu, peningkatan konektivitas dan efisiensi transportasi antar pulau mutlak diperlukan. Jika tidak, biaya logistik yang tinggi akan terus menghambat pemerataan distribusi barang serta melemahkan daya saing produk Indonesia.

4. Rendahnya Kualitas Sumber Daya Manusia

Faktor keempat adalah rendahnya kualitas SDM Indonesia, terutama di daerah timur Indonesia seperti NTT, Maluku, dan Papua. Ini sangat berpengaruh terhadap penggunaan teknologi informasi dan transportasi modern.

Menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS), melek internet penduduk di DI Yogyakarta mencapai 72,7%, jauh di atas Papua yang hanya 16,7% (). Rendahnya literasi dan ketrampilan digital masyarakat Papua menjadi penghambat utama penggunaan internet.

Demikian pula dengan pengoperasian alat transportasi modern seperti kapal cepat, kereta api, dan pesawat. Dibutuhkan awak kendaraan yang terampil dan tersertifikasi, yang sangat langka di daerah timur Indonesia.

Akibatnya, banyak infrastruktur transportasi dan TIK di daerah timur yang underutilized atau bahkan terbengkalai karena kurangnya SDM yang mengoperasikannya.

Oleh karena itu, peningkatan kualitas SDM Indonesia melalui pendidikan dan pelatihan menjadi keniscayaan. Jika tidak, pemerataan infrastruktur sehebat apapun juga akan sia-sia belaka.

5. Perbedaan Potensi Ekonomi Antar Daerah

Faktor kelima adalah ketimpangan potensi dan aktivitas ekonomi antar daerah. Daerah-daerah dengan potensi sumber daya alam melimpah seperti Kalimantan, Riau, dan Papua tentu jauh lebih kaya dibanding daerah minus SDA seperti NTB, NTT, atau DI Yogyakarta.

Baca Juga!
4 Peran Generasi Muda dalam Memperkuat Ketahanan Nasional

Kondisi ini berdampak pada prioritas pembangunan infrastruktur daerah. Pemerintah dan swasta cenderung lebih dulu membangun infrastruktur transportasi dan TIK di daerah-daerah yang potensi ekonominya besar.

Sementara itu, daerah miskin dan terpencil yang sebenarnya sangat membutuhkan akses transportasi dan internet justru terabaikan. Karena dinilai kurang menguntungkan secara investasi dan bisnis.

Padahal seharusnya pemerataan akses harus menjadi prioritas, terutama untuk daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Karena hanya dengan akses yang merata, potensi ekonomi daerah tertinggal tersebut bisa berkembang.

Nah itu dia 5 faktor utama yang menyebabkan sulitnya komunikasi dan transportasi untuk disamaratakan di Indonesia. Mulai dari minimnya infrastruktur, topografi kepulauan ekstrim, tingginya biaya logistik, rendahnya SDM, hingga perbedaan potensi ekonomi antar daerah.

Kondisi ini tentu menjadi PR besar pemerintah dan kita semua. Mari bersama wujudkan Indonesia yang lebih merata dan berkeadilan dengan terus berupaya meningkatkan akses transportasi dan internet di seluruh penjuru nusantara!

Also Read

Bagikan:

Akbar Fauziah

Akbar Fauziah adalah seorang penulis lulusan sarjana komunikasi yang suka ngeblog dan menulis novel. Dia dikenal sebagai admin yang baik hati dan penulis kreatif. Akbar mampu menghasilkan tulisan-tulisan menarik dan berkualitas, serta memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan pembaca secara positif. Profilnya sebagai penulis yang berhati baik dan kreatif menjadikannya sosok yang dihormati dalam dunia tulis-menulis.

Tags

Tinggalkan komentar