Read More
5 Cara Tetap Santun Saat Berbeda Pendapat, Anti Baper!
Komunikasi

5 Cara Tetap Santun Saat Berbeda Pendapat, Anti Baper!

LZ
Lili Zulaika
19 Feb 2026 3 menit
5 Cara Tetap Santun Saat Berbeda Pendapat, Anti Baper!

Isi artikel

Pernahkah Anda merasa dada sesak dan wajah memanas saat lawan bicara Anda melontarkan pendapat yang bertolak belakang dengan keyakinan Anda? Di Indonesia, di mana budaya "sungkan" dan menjaga perasaan orang lain sangat kental, berbeda pendapat seringkali dianggap sebagai ancaman bagi keharmonisan.

Padahal, perbedaan pandangan adalah hal yang lumrah dalam interaksi sosial, baik itu di lingkungan kerja, keluarga, maupun pergaulan sehari-hari. Masalahnya bukan pada perbedaannya, melainkan bagaimana cara kita menyampaikannya. Banyak hubungan retak hanya karena ego yang terlalu tinggi saat beradu argumen.

Lantas, bagaimana caranya agar kita tetap bisa menyampaikan ketidaksetujuan tanpa melukai perasaan orang lain dan tetap terlihat elegan? Berikut adalah 5 cara tetap santun saat berbeda pendapat yang bisa Anda terapkan mulai sekarang.

1. Dengarkan Sampai Tuntas, Jangan Memotong

Kesalahan terbesar yang sering dilakukan saat berdebat adalah sibuk menyusun sanggahan di kepala saat orang lain masih berbicara. Akibatnya, kita tidak benar-benar mendengarkan apa poin mereka. Dalam psikologi komunikasi, ini disebut sebagai mendengarkan untuk merespons, bukan mendengarkan untuk memahami.

"Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut, agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara."

Cobalah untuk menahan diri. Biarkan lawan bicara menyelesaikan seluruh kalimatnya. Menunggu giliran bicara bukan hanya soal sopan santun, tapi juga memberikan Anda waktu untuk mencerna informasi dan memberikan respon yang lebih bijak, bukan reaktif. Hal ini juga menghindari terjadinya komunikasi searah di mana hanya satu pihak yang mendominasi percakapan.

2. Fokus pada Argumen, Bukan Orangnya (Ad Hominem)

Salah satu prinsip dasar dalam debat yang sehat adalah menyerang argumennya, bukan orangnya (Ad Hominem). Saat emosi memuncak, mudah bagi kita untuk terpeleset menyerang karakter lawan bicara.

  • Salah: "Kamu memang nggak ngerti apa-apa soal politik, makanya ngomong gitu!"
  • Benar: "Saya rasa data yang kamu sampaikan kurang tepat jika dilihat dari konteks kebijakan ekonomi saat ini."

Menyerang pribadi hanya akan membuat lawan bicara defensif dan menutup diri. Ingat, tujuan kita adalah mencari kebenaran atau setidaknya bertukar pandangan, bukan untuk memenangkan ego.

3. Gunakan Kata "Saya" (I-Statements)

Teknik ini sangat ampuh untuk mengurangi kesan menuduh. Alih-alih mengatakan "Kamu salah," cobalah ganti dengan "Menurut pandangan saya..." atau "Saya merasa..."

Penggunaan "I-Statements" membuat pendapat Anda terdengar subjektif (milik Anda sendiri) dan tidak menghakimi kebenaran mutlak. Ini memberikan ruang bagi lawan bicara untuk tetap memiliki pendapatnya tanpa merasa disudutkan. Namun, hati-hati juga agar tidak terjebak dalam basa-basi yang berlebihan. Terkadang, formalitas berlebihan justru bisa merusak hubungan dan membuat percakapan terasa kaku.

Ilustrasi mendengarkan dengan seksama saat diskusi

4. Jaga Intonasi dan Bahasa Tubuh

Tahukah Anda bahwa dalam komunikasi, kata-kata hanya menyumbang sekitar 7% dari makna yang ditangkap? Sisanya adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).

Anda bisa saja mengucapkan kalimat yang sangat sopan, tapi jika mata Anda melotot, tangan berkacak pinggang, atau nada suara meninggi, pesan yang sampai adalah permusuhan. Di Indonesia, gestur tubuh sangat diperhatikan. Hindari menunjuk-nunjuk wajah lawan bicara atau menyilangkan tangan di dada yang menandakan ketertutupan.

5. Setuju untuk Tidak Setuju (Agree to Disagree)

Tidak semua perdebatan harus ada pemenangnya. Terkadang, hasil terbaik dari sebuah diskusi adalah kesepakatan bahwa kita memiliki pandangan yang berbeda, dan itu tidak masalah.

Mengakhiri diskusi dengan kalimat seperti, "Saya mengerti poinmu, meskipun saya masih melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Terima kasih sudah berbagi pandangan," adalah cara yang sangat dewasa dan santun. Ini menunjukkan bahwa Anda menghargai hubungan baik di atas ego semata.

Kesimpulan

Menjaga kesantunan saat berbeda pendapat bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan emosional dan intelektual. Dengan menerapkan tips di atas, Anda tidak hanya menyelamatkan hubungan dari konflik yang tidak perlu, tetapi juga membangun reputasi sebagai pribadi yang bijaksana dan enak diajak diskusi.

Ingat, tujuan komunikasi yang sejati adalah untuk terhubung, bukan untuk saling mengalahkan. Mari budayakan dialog yang sehat dan bermartabat, mulai dari diri sendiri.

LZ

Lili Zulaika

kontributor

Profil

Komentar

Nama
Email
Komentar

Komentar sebagai tamu akan ditinjau sebelum dipublikasikan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!