Scroll untuk baca artikel
Rupa

Membedah 5 Macam Ketentuan Umum TRIPs

Avatar
×

Membedah 5 Macam Ketentuan Umum TRIPs

Sebarkan artikel ini
Ketentuan Umum TRIPs

Hei sobat! Hari ini kita akan membahas sesuatu yang mungkin terdengar sedikit membosankan, tapi sebenarnya sangat penting – ketentuan umum dalam persetujuan TRIPs (Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights) terkait hak cipta. Yup, hak cipta itu penting banget lho untuk melindungi karya-karya kreatif kita. Nah, TRIPs ini semacam aturan main internasional yang mengatur soal hak cipta dan kekayaan intelektual lainnya.

Sebelum kita masuk ke inti pembahasan, ada baiknya kita ingat dulu apa itu hak cipta. Hak cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang hak cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya. Ciptaan yang dilindungi hak cipta misalnya karya tulis, lagu, software, film, dan sebagainya. Nah, dengan adanya hak cipta, karya-karya kreatif kita terlindungi dari pembajakan atau penggunaan secara ilegal.

Ketentuan Free to Determine

Oke, kita mulai dari ketentuan pertama dalam TRIPs yaitu Free to Determine. Berdasarkan Pasal 1, negara anggota bebas untuk menentukan metode yang sesuai dalam mengimplementasikan ketentuan-ketentuan TRIPs ke dalam sistem hukum dan praktik nasionalnya masing-masing.

Jadi misalnya, Indonesia bisa mengatur sendiri caranya untuk menerapkan aturan-aturan TRIPs ini ke dalam Undang-Undang Hak Cipta kita. Mau dibikin peraturan pemerintah atau undang-undang baru juga bebas, yang penting substansinya sesuai dengan TRIPs.

Contohnya, di Indonesia kita punya UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta yang mengatur perlindungan hak cipta. Nah, undang-undang ini merupakan salah satu implementasi dari ketentuan-ketentuan TRIPs di Indonesia.

Ketentuan Intellectual Property Convention

Ketentuan kedua adalah Intellectual Property Convention. Pasal 2 TRIPs mewajibkan negara anggota untuk mematuhi ketentuan-ketentuan substantif dari:

Baca Juga!  Perbedaan Perselisihan Hubungan Industrial, Hak, dan Kepentingan: Apa Saja?
  1. Konvensi Paris untuk Perlindungan Kekayaan Industri
  2. Konvensi Berne untuk Perlindungan Karya Sastra dan Seni

Konvensi Paris dan Konvensi Berne ini sudah ada jauh sebelum TRIPs, dan merupakan perjanjian internasional yang mengatur perlindungan kekayaan intelektual seperti paten, merek dagang, dan hak cipta.

Jadi dengan mengikuti ketentuan TRIPs, secara otomatis negara anggota juga harus mematuhi aturan-aturan dalam Konvensi Paris dan Berne tersebut. Ini penting untuk menjaga standar perlindungan kekayaan intelektual yang sama di seluruh dunia.

Ketentuan National Treatment

Ketentuan selanjutnya adalah National Treatment yang diatur dalam Pasal 3 TRIPs. Intinya, negara anggota harus memberikan perlakuan yang sama kepada warga negara asing seperti yang diberikan kepada warga negaranya sendiri dalam hal perlindungan hak kekayaan intelektual.

Misalnya, jika seorang pencipta lagu dari Amerika membuat lagu di Indonesia, maka lagu tersebut harus mendapat perlindungan hak cipta yang sama seperti lagu-lagu ciptaan orang Indonesia. Tidak boleh ada diskriminasi atau perbedaan perlakuan.

Prinsip ini penting untuk menjamin keadilan dan memudahkan pertukaran karya-karya kreatif antar negara. Bayangkan kalau setiap negara punya aturan yang berbeda-beda, bisa repot dan tidak adil bagi para pencipta.

“Perlindungan yang sama dan perlakuan yang adil adalah kunci untuk memajukan kreativitas di seluruh dunia.” – Francis Gurry, Direktur Jenderal WIPO

Ketentuan Most-Favoured-Nation Treatment

Ketentuan keempat adalah Most-Favoured-Nation Treatment yang diatur dalam Pasal 4 TRIPs. Ini artinya, setiap keuntungan, keistimewaan atau perlindungan yang diberikan oleh suatu negara anggota kepada warga negara dari negara anggota lain, harus diberikan secara langsung dan tanpa syarat kepada warga negara dari semua negara anggota lainnya.

Contohnya, jika Indonesia memberikan keistimewaan khusus dalam hal perlindungan hak cipta kepada warga negara Jepang, maka keistimewaan yang sama juga harus diberikan kepada warga negara Amerika, Inggris, dan negara anggota TRIPs lainnya.

Prinsip ini untuk mencegah diskriminasi dan menjamin perlakuan yang adil bagi semua negara anggota. Tidak ada yang diistimewakan atau dikecualikan.

Ketentuan Exhaustion

Terakhir, kita punya ketentuan Exhaustion yang diatur dalam Pasal 6 TRIPs. Exhaustion ini berkaitan dengan penghapusan hak atas kekayaan intelektual, seperti mengizinkan atau melarang impor barang-barang yang telah dijual secara sah di negara lain.

Contohnya, jika sebuah buku dijual secara sah di Amerika, apakah buku tersebut boleh diimpor dan dijual kembali di Indonesia? Atau apakah hak ciptanya sudah habis setelah dijual pertama kali di Amerika?

Nah, TRIPs memberikan kebebasan kepada setiap negara anggota untuk mengatur masalah exhaustion ini sesuai dengan kebijakan nasionalnya masing-masing. Jadi negara bisa memilih untuk menerapkan prinsip exhaustion regional, nasional, atau internasional.

PrinsipKeterangan
Exhaustion RegionalHak kekayaan intelektual hanya habis di wilayah regional tertentu, misalnya Uni Eropa
Exhaustion NasionalHak habis setelah barang dijual di dalam negeri
Exhaustion InternasionalHak habis setelah barang dijual di manapun di dunia

Di Indonesia sendiri, kita menerapkan prinsip exhaustion nasional untuk hak cipta berdasarkan Pasal 26 UU Hak Cipta. Jadi hak cipta atas suatu ciptaan dianggap habis setelah ciptaan tersebut dijual di wilayah Indonesia.

“Exhaustion adalah konsep penting yang memungkinkan distribusi barang secara bebas setelah penjualan pertama, namun juga melindungi kepentingan pemegang hak.” – Laporan Panel WTO DS362

Nah, itu tadi penjelasan singkat tentang kelima ketentuan umum dalam TRIPs terkait hak cipta. Meski terdengar sedikit rumit, sebenarnya ketentuan-ketentuan ini penting untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan hak cipta dengan akses terhadap karya-karya kreatif di seluruh dunia.

Jadi jangan bosan dulu ya sobat! Hak cipta ini menyangkut banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, seperti lagu yang kita dengar, film yang kita tonton, bahkan software komputer dan handphone yang kita gunakan. Dengan memahami aturan-aturan seperti TRIPs, kita bisa lebih menghargai karya-karya kreatif dan mendukung perkembangan industri kreatif di masa depan.

Oke, itu saja dari saya! Semoga pembahasan santai ini bisa membantu kalian memahami sedikit lebih dalam tentang hak cipta dan TRIPs. Jika ada yang masih bingung atau butuh penjelasan lebih lanjut, jangan ragu untuk tanya ya! Sampai jumpa lagi di pembahasan seru lainnya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *