Read More
Mengapa Indonesia Disebut Negara Maritim? 7 Alasan Utama
IPS

Mengapa Indonesia Disebut Negara Maritim? 7 Alasan Utama

Mengapa Indonesia disebut negara maritim? Temukan 7 alasan utamanya, mulai dari luas laut, sejarah, pengakuan hukum, hingga potensi ekonomi birunya.

FE
Frans Eka
2 Okt 2025 Diperbarui 16 Des 2025 3 menit
Jadikan readmore.id sebagai preferensi terpercayamu di Google
Mengapa Indonesia Disebut Negara Maritim? 7 Alasan Utama

Isi artikel

Iklan

Pertanyaan mengapa Indonesia disebut negara maritim sering kali dijawab sederhana: karena memiliki laut yang luas. Meskipun benar, jawaban tersebut belum sepenuhnya menangkap kompleksitas di balik status Indonesia sebagai negara maritim dan agraris. Julukan ini lahir dari kombinasi faktor geografis, historis, hukum, ekonomi, dan sosial-budaya yang saling terkait.

Status sebagai negara maritim menegaskan bahwa laut bukan sekadar latar belakang geografis, melainkan panggung utama bagi kehidupan bangsa Indonesia. Dari jalur rempah di masa lalu hingga poros maritim dunia di era modern, laut selalu menjadi elemen sentral dalam perjalanan sejarah dan pembangunan Indonesia.

Untuk memahaminya secara utuh, berikut adalah 7 alasan utama yang menjelaskan mengapa Indonesia layak disebut sebagai negara maritim terbesar di dunia.

1. Wilayah Laut Jauh Lebih Luas dari Daratan

Alasan paling fundamental adalah komposisi wilayah Indonesia. Dari total luas wilayah yang mencapai 8,3 juta km², sekitar 6,4 juta km² atau 77% merupakan perairan. Dominasi laut yang begitu besar ini secara otomatis menjadikan Indonesia sebagai negara yang berorientasi pada kelautan. Lautan ini bukan hanya pemisah, melainkan jembatan penghubung bagi lebih dari 17.000 pulau.

2. Negara Kepulauan Terbesar yang Diakui Hukum Internasional

Status maritim Indonesia tidak hanya bersifat geografis tetapi juga yuridis. Alasan mengapa Indonesia disebut negara kepulauan juga berakar pada pengakuan hukum ini. Melalui Deklarasi Djuanda (1957), Indonesia secara berani mengklaim laut di antara pulau-pulaunya sebagai bagian dari kedaulatan NKRI. Konsep "Wawasan Nusantara" ini kemudian diperjuangkan selama 25 tahun hingga akhirnya diakui secara resmi dalam Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS 1982). Pengakuan ini memberikan Indonesia kedaulatan penuh atas perairan kepulauan dan hak berdaulat untuk mengelola Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) seluas 3 juta km².

3. Garis Pantai Salah Satu yang Terpanjang di Dunia

Dengan gugusan pulau yang begitu banyak, Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 108.000 km. Data ini menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia setelah Kanada. Garis pantai yang sangat panjang ini menciptakan potensi ekonomi yang luar biasa, mulai dari ribuan pelabuhan perikanan, destinasi pariwisata bahari, hingga kawasan konservasi mangrove dan terumbu karang.

Sejarah Maritim Indonesia

4. Letak Geostrategis di Jalur Perdagangan Dunia

Indonesia berada di posisi silang yang sangat strategis, yaitu di antara dua samudra (Hindia dan Pasifik) dan dua benua (Asia dan Australia). Sekitar 40% dari total perdagangan dunia melalui laut melewati perairan Indonesia, terutama melalui Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok. Posisi ini menjadikan Indonesia sebagai jalur kunci dalam rantai pasok global dan lalu lintas maritim internasional.

5. Potensi Ekonomi Biru (Blue Economy) yang Sangat Besar

Berbagai potensi kemaritiman Indonesia memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Bank Dunia memperkirakan nilai ekonomi biru Indonesia mencapai US$256 miliar per tahun. Sektor-sektor utamanya meliputi:

  • Perikanan: Menyumbang sekitar US$27 miliar dan menyediakan 7 juta lapangan pekerjaan.
  • Pariwisata Bahari: Dengan keindahan bawah laut di kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), potensi wisata selam, snorkeling, dan pesisir sangat besar.
  • Transportasi Laut: Sebagai tulang punggung konektivitas antar pulau.

6. Sejarah dan Budaya Bahari yang Mengakar Kuat

Jauh sebelum kemerdekaan, kerajaan-kerajaan di Nusantara seperti Sriwijaya dan Majapahit telah dikenal sebagai kekuatan maritim yang menguasai perdagangan laut di Asia Tenggara. Warisan ini terus hidup dalam budaya masyarakat pesisir. Salah satu bukti paling nyata adalah seni pembuatan kapal Pinisi oleh suku Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan, yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada tahun 2017. Ini menunjukkan kepiawaian nenek moyang bangsa Indonesia dalam teknologi perkapalan dan navigasi.

7. Mayoritas Penduduk Tinggal di Wilayah Pesisir

Komunitas Pesisir Indonesia

Sekitar 60% dari total penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir. Ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya laut, baik sebagai nelayan, petani garam, pelaku usaha pariwisata, maupun pekerja di sektor pelabuhan, sangatlah tinggi. Pola pemukiman ini menegaskan bahwa laut adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial dan ekonomi sebagian besar rakyat Indonesia.

Iklan
FE

Frans Eka

admin

Profil

Komentar

Nama
Email
Komentar

Komentar sebagai tamu akan ditinjau sebelum dipublikasikan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!