Hubungan Antarkelompok Melalui Kacamata Gerakan Sosial

Frans Eka

Hubungan Antarkelompok Melalui Kacamata Gerakan Sosial

Hubungan antarkelompok secara umum dapat didefinisikan sebagai interaksi yang terjadi antara dua kelompok masyarakat atau lebih yang memiliki ciri-ciri tertentu. Hubungan ini bisa bersifat harmonis dan saling mendukung, namun juga berpotensi konflik dan pertentangan. Salah satu lensa menarik untuk memahami dinamika hubungan antarkelompok adalah melalui kacamata gerakan sosial.

Contoh Kasus: Gerakan Perempuan Melawan KDRT

Sebagai contoh kongkrit, marilah kita tinjau gerakan perempuan di Indonesia dalam upaya memberantas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Gerakan ini melibatkan sekelompok aktivis perempuan dari latar belakang yang beragam, yang bersatu dalam semangat untuk mengentaskan KDRT yang banyak menimpa kaum perempuan. Mereka melakukan berbagai aksi seperti demonstrasi, kampanye publik, dan advokasi kebijakan untuk mendorong perubahan sosial dan hukum yang lebih adil bagi korban KDRT.

Beberapa contoh aksi konkret dari gerakan ini antara lain:

  • Demo menuntut RUU Penghapusan Kekerasan Seksual disahkan
  • Kampanye “Kita Bersuara” untuk meningkatkan kesadaran publik tentang KDRT
  • Pendampingan hukum bagi perempuan korban KDRT

Jadi pada intinya, gerakan ini bertujuan untuk memperjuangkan hak dan perlindungan hukum yang setara bagi perempuan korban KDRT di Indonesia.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Berdasarkan pendapat Sunarto, ada 4 faktor utama yang mempengaruhi pembentukan dan perkembangan hubungan antarkelompok, khususnya yang berbasis gerakan sosial, yaitu:

1. Faktor Rasialisme

Faktor ini terkait dengan perbedaan atau diskriminasi rasial yang mendorong terbentuknya gerakan sosial.

Dalam kasus gerakan perempuan melawan KDRT, faktor rasialisme kurang begitu relevan. Gerakan ini lebih didorong oleh solidaritas sebagai sesama perempuan yang mengalami ketidakadilan gender, bukan berdasarkan ras.

2. Faktor Etnisitas

Faktor etnisitas juga bisa memicu konflik yang mendorong munculnya gerakan sosial. Namun dalam gerakan perempuan melawan KDRT, aktivis berasal dari berbagai suku bangsa yang bersatu karena pengalaman serupa.

Baca Juga!
4 Tahapan Perencanaan yang Perlu Kamu Ketahui

Jadi etnisitas bukan faktor pembeda, melainkan justru menjadi pemersatu dalam gerakan ini. Semangat persatuan tanpa memandang perbedaan latar belakanglah yang menguatkan gerakan.

3. Faktor Seksisme

Faktor ini sangat relevan dalam contoh kasus gerakan perempuan melawan KDRT.

Pada dasarnya gerakan ini lahir sebagai respon atas berbagai diskriminasi dan ketidakadilan gender yang dialami perempuan, khususnya korban KDRT. Praktik seksisme yang melekat dalam masyarakat ikut menciptakan ketimpangan gender yang melahirkan gerakan ini.

Jadi isu seksisme dan feminisme sangat mendefinisikan gerakan ini.

4. Faktor Ageisme

Faktor ageisme atau diskriminasi berdasarkan usia sebenarnya kurang signifikan dalam contoh kasus ini.

Gerakan perempuan melawan KDRT melibatkan aktivis dari berbagai rentang usia, dan tidak terbatas pada kelompok usia tertentu.

Yang menyatukan mereka adalah pengalaman serupa sebagai korban KDRT, bukan faktor usia.

Kesimpulan

Demikian analisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan antarkelompok berdasarkan contoh gerakan perempuan melawan KDRT. Kita bisa melihat bahwa meski definisi hubungan antarkelompok bersifat umum, setiap kasus memiliki dinamika khas yang dipengaruhi beragam faktor sosial. Pemahaman mendalam terhadap akar permasalahan dapat membantu upaya resolusi konflik dan pencapaian keadilan sosial.

Also Read

Bagikan:

Tags

Tinggalkan komentar