Bagi masyarakat pinggiran hutan di Jawa, "Mbah Loreng" bukan sekadar dongeng tidur. Ia adalah sosok nyata, penguasa rimba yang dihormati sekaligus ditakuti. Namun bagi dunia sains, ia hanyalah kenangan; sebuah nama dalam daftar merah IUCN dengan status menyedihkan: Extinct (Punah).
Tapi, bagaimana jika sains ternyata salah?
Pada Maret 2024, sebuah publikasi ilmiah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengguncang dunia konservasi global. Sehelai rambut yang tertinggal di pagar kebun warga Sukabumi bisa menjadi bukti bahwa sang raja hutan Jawa sebenarnya tidak pernah pergi.
Vonis Mati Sang Raja Hutan
Secara resmi, Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dinyatakan punah oleh IUCN pada tahun 2008. Dasar penetapannya kuat: tidak ada satu pun bukti fisik (foto, jejak, kotoran) yang valid sejak penampakan terakhir di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur, tahun 1976.
Selama puluhan tahun, laporan warga yang mengaku melihat "kucing raksasa loreng" dianggap angin lalu atau kekeliruan mata (misidentification) dengan Macan Tutul Jawa.
Hingga akhirnya, Ripi Yanur Fajar menemukan sesuatu di pagarnya.
Misteri Rambut di Pagar Cipeundeuy
Tahun 2019, Ripi, warga Desa Cipeundeuy, Sukabumi Selatan, mengaku berpapasan dengan hewan besar yang melompati pagar kebunnya. Sosok itu bukan macan tutul yang biasa ia lihat. Tubuhnya besar, kekar, dan memiliki loreng khas harimau, bukan totol.
Di pagar bekas lompatan itu, tertinggal sehelai rambut.
Sampel rambut itu kemudian dianalisis oleh tim peneliti BRIN. Hasilnya mencengangkan! DNA mitokondria dari rambut tersebut memiliki kemiripan 98,23% dengan spesimen Harimau Jawa yang diawetkan di Museum Zoologicum Bogoriense sejak 1930.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kemiripannya dengan Harimau Sumatera (97,06%) atau Harimau Benggala. Secara genetis, pemilik rambut itu adalah Harimau Jawa.
Perdebatan Panas: Benarkah Ia Kembali?
Temuan ini memicu "perang dingin" di kalangan ilmuwan.
- Tim BRIN optimis bahwa ini bukti spesies tersebut belum punah sepenuhnya (Lazarus Taxon).
- Peneliti Asing skeptis. Mereka meragukan kualitas sampel rambut yang mungkin sudah terkontaminasi atau rusak, sehingga hasil DNA-nya bisa bias.
Meskipun masih diperdebatkan, temuan ini memberi napas baru bagi upaya pencarian. Kamera jebak (camera trap) kini mulai disebar kembali di titik-titik "panas" seperti hutan Sukabumi dan Gunung Muria.
Jangan Salah Lihat: Harimau vs Macan Tutul
Seringkali, laporan warga mentah karena salah mengenali hewan. Padahal, perbedaannya sangat mencolok:
- Pola Kulit: Harimau punya Garis Loreng (seperti barcode), sedangkan Macan Tutul punya Totol (bintik seperti bunga) atau hitam polos (Macan Kumbang).
- Ukuran: Harimau Jawa jauh lebih besar (bisa >100 kg), sedangkan Macan Tutul lebih ramping (50-70 kg).
- Jejak Kaki: Tapak harimau lebar (>10 cm), sedangkan macan tutul lebih kecil (7-8 cm).
Kesimpulan: Harapan di Antara Rimbun Hutan
Apakah Harimau Jawa masih ada? DNA rambut di Sukabumi memberikan jawaban "Mungkin Ya".
Di tengah hutan-hutan Jawa yang makin tergerus, mungkin saja segelintir individu "Mbah Loreng" bertahan hidup dalam diam, bersembunyi dari manusia yang dulu memburunya hingga titik kepunahan. Selama hutan masih ada, harapan itu akan selalu menyala.