Read More
5 Contoh Soal Pendekatan Ordinal dan Kardinal Beserta Jawabannya
Ekonomi

5 Contoh Soal Pendekatan Ordinal dan Kardinal Beserta Jawabannya

Memahami teori perilaku konsumen adalah satu hal, tetapi menerapkannya dalam soal latihan adalah cara terbaik untuk menguji dan memperkuat pemahaman Anda. Konsep seperti utilitas, kurva indiferen, da...

SN
Silvi Nandia
16 Agu 2025 Diperbarui 16 Des 2025 5 menit
Jadikan readmore.id sebagai preferensi terpercayamu di Google
5 Contoh Soal Pendekatan Ordinal dan Kardinal Beserta Jawabannya

Isi artikel

Iklan

Memahami teori perilaku konsumen adalah satu hal, tetapi menerapkannya dalam soal latihan adalah cara terbaik untuk menguji dan memperkuat pemahaman Anda. Konsep seperti utilitas, kurva indiferen, dan garis anggaran akan menjadi lebih jelas saat dihadapkan pada studi kasus praktis.

Artikel ini menyajikan 5 contoh soal mendasar mengenai pendekatan kardinal dan ordinal, lengkap dengan jawaban dan pembahasan langkah demi langkah. Soal-soal ini dirancang untuk membantu mahasiswa ekonomi dan siapa pun yang tertarik pada subjek ini.

Untuk pemahaman konsep yang lebih mendalam, pastikan Anda telah membaca artikel utama kami: Membedah Pendekatan Kardinal dan Ordinal: Contoh, Kurva & Perbedaannya.


Soal 1: Pendekatan Kardinal (Tabel Utilitas)

Soal:

Seorang konsumen bernama Andi gemar memakan martabak. Tabel di bawah ini menunjukkan Total Utility (TU) dan Marginal Utility (MU) yang ia peroleh dari setiap porsi martabak yang ia konsumsi.

Jumlah PorsiTotal Utility (TU)Marginal Utility (MU)
13030
25525
37520
48510
5905
6900
785-5

Pertanyaan: Kapan Andi mencapai kepuasan maksimum (titik jenuh)? Jelaskan jawaban Anda menggunakan konsep Hukum Gossen I.

Jawaban dan Pembahasan:

Menurut Hukum Gossen I (Law of Diminishing Marginal Utility), tambahan kepuasan (MU) yang diperoleh dari mengonsumsi setiap unit barang tambahan akan cenderung menurun.

Kepuasan maksimum tercapai ketika tambahan kepuasan (MU) bernilai nol. Berdasarkan tabel:

  • Pada porsi ke-6, Marginal Utility (MU) adalah 0.
  • Pada titik ini, Total Utility (TU) mencapai nilai puncaknya, yaitu 90.
  • Jika Andi melanjutkan ke porsi ke-7, MU menjadi negatif (-5), yang berarti tambahan porsi itu justru mengurangi total kepuasan.

Jadi, Andi mencapai kepuasan maksimum pada saat mengonsumsi porsi martabak ke-6.


Soal 2: Pendekatan Kardinal (Keseimbangan 2 Barang)

Soal:

Rina memiliki anggaran Rp 52.000 untuk membeli Sate (harga Rp 8.000/porsi) dan Jus (harga Rp 4.000/gelas). Berikut adalah tabel Marginal Utility (MU) untuk kedua barang tersebut:

PorsiMU SateMU Jus
14028
23224
32420
41616
5812

Pertanyaan: Berapa kombinasi Sate dan Jus yang harus dibeli Rina agar kepuasannya maksimal? Tunjukkan perhitungan Anda.

Jawaban dan Pembahasan:

Syarat keseimbangan konsumen dalam pendekatan kardinal adalah:

MU Sate / Harga Sate = MU Jus / Harga Jus

Mari kita hitung rasio MU per harga (MU/P) untuk setiap barang:

PorsiMU Sate / P SateMU Jus / P Jus
140 / 8000 = 528 / 4000 = 7
232 / 8000 = 424 / 4000 = 6
324 / 8000 = 320 / 4000 = 5
416 / 8000 = 216 / 4000 = 4
58 / 8000 = 112 / 4000 = 3

Kita mencari kombinasi di mana rasio MU/P sama untuk kedua produk, sambil memenuhi batasan anggaran.

  • Kombinasi yang memenuhi syarat MUx/Px = MUy/Py adalah 3 porsi Sate (MU/P = 3) dan 5 gelas Jus (MU/P = 3).

Sekarang, kita cek anggarannya:

(3 x Rp 8.000) + (5 x Rp 4.000) = Rp 24.000 + Rp 20.000 = Rp 44.000

Anggaran ini (Rp 44.000) masih di bawah batas maksimal Rina (Rp 52.000) dan memberikan kepuasan tertinggi sesuai prinsip ekuilibrium. Kombinasi lain dengan rasio yang sama akan melebihi anggaran.


Soal 3: Pendekatan Ordinal (Ciri Kurva Indiferen)

Soal:

Jelaskan tiga ciri utama dari kurva indiferen dan apa makna ekonomis di balik setiap ciri tersebut.

Jawaban dan Pembahasan:

  1. Berlereng Negatif (Menurun dari Kiri Atas ke Kanan Bawah):
  • Makna: Untuk mempertahankan tingkat kepuasan yang sama, penambahan konsumsi satu barang harus dikompensasi dengan pengurangan konsumsi barang lainnya. Ini menunjukkan adanya trade-off.
  1. Cembung ke Arah Titik Origin (0,0):
  • Makna: Ini mencerminkan prinsip Diminishing Marginal Rate of Substitution (MRS). Artinya, konsumen bersedia mengorbankan lebih sedikit barang Y untuk mendapatkan satu barang X tambahan ketika ia sudah memiliki banyak barang X.
  1. Tidak Saling Berpotongan:
  • Makna: Setiap kurva indiferen mewakili satu tingkat kepuasan yang unik. Jika dua kurva berpotongan, itu akan melanggar asumsi konsistensi (transitivitas), di mana satu kombinasi barang seolah-olah memberikan dua tingkat kepuasan yang berbeda.

Soal 4: Pendekatan Ordinal (Garis Anggaran)

Soal:

Seorang mahasiswa memiliki anggaran Rp 300.000 untuk membeli Buku (harga Rp 50.000/buah) dan Kopi (harga Rp 25.000/gelas).

a) Buatlah persamaan garis anggarannya.

b) Apa yang terjadi pada garis anggaran jika harga Buku naik menjadi Rp 60.000?

Jawaban dan Pembahasan:

a) Persamaan Garis Anggaran:

Misal, X adalah jumlah Buku dan Y adalah jumlah Kopi.

Persamaan: (Harga Buku x Jumlah Buku) + (Harga Kopi x Jumlah Kopi) = Pendapatan

50.000X + 25.000Y = 300.000

Jika disederhanakan (dibagi 25.000), menjadi: 2X + Y = 12

b) Perubahan Garis Anggaran:

Jika harga Buku naik menjadi Rp 60.000, persamaan barunya adalah:

60.000X + 25.000Y = 300.000

Perubahan ini menyebabkan garis anggaran berotasi ke dalam (pivot pada sumbu Y). Titik potong pada sumbu Y (jika hanya membeli Kopi) tetap sama, yaitu 12 gelas. Namun, titik potong pada sumbu X (jika hanya membeli Buku) bergeser dari 6 buku (300.000/50.000) menjadi 5 buku (300.000/60.000). Area yang dapat dijangkau konsumen menjadi lebih kecil.


Soal 5: Pendekatan Ordinal (Keseimbangan Konsumen)

Soal:

Menggunakan data dari Soal 4 (anggaran Rp 300.000, harga Buku Rp 50.000, harga Kopi Rp 25.000), tentukan kombinasi mana yang merupakan titik keseimbangan konsumen (kepuasan optimal) dari pilihan di bawah ini.

  • Kombinasi A: 2 Buku, 8 Gelas Kopi
  • Kombinasi B: 4 Buku, 4 Gelas Kopi
  • Kombinasi C: 5 Buku, 2 Gelas Kopi

Jawaban dan Pembahasan:

Keseimbangan konsumen tercapai ketika ia membelanjakan seluruh anggarannya pada kombinasi barang yang terletak pada garis anggaran. Kita perlu mengecek kombinasi mana yang total biayanya sama dengan Rp 300.000.

  • Cek Kombinasi A: (2 x 50.000) + (8 x 25.000) = 100.000 + 200.000 = Rp 300.000
  • Cek Kombinasi B: (4 x 50.000) + (4 x 25.000) = 200.000 + 100.000 = Rp 300.000
  • Cek Kombinasi C: (5 x 50.000) + (2 x 25.000) = 250.000 + 50.000 = Rp 300.000

Semua kombinasi berada pada garis anggaran. Dalam soal riil, kita memerlukan peta kurva indiferen untuk mengetahui kombinasi mana yang terletak pada kurva indiferen tertinggi. Namun, tanpa data kurva indiferen, kita asumsikan salah satu dari titik ini adalah titik singgung. Dalam konteks soal pilihan ganda, biasanya hanya ada satu jawaban yang tepat berada di garis anggaran. Di sini, ketiga titik tersebut memungkinkan sebagai titik keseimbangan, dan pilihan optimal akan bergantung pada preferensi unik konsumen yang digambarkan oleh kurva indiferennya.


Semoga contoh-contoh soal ini membantu Anda dalam memahami penerapan praktis dari teori perilaku konsumen.

Iklan
SN

Silvi Nandia

kontributor

Profil

Komentar

Nama
Email
Komentar

Komentar sebagai tamu akan ditinjau sebelum dipublikasikan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!