Scroll untuk baca artikel
Rupa

Ciri-ciri Perilaku Resiko pada Remaja Usia 13-25 Tahun dan Cara Menghadapinya

Avatar
×

Ciri-ciri Perilaku Resiko pada Remaja Usia 13-25 Tahun dan Cara Menghadapinya

Sebarkan artikel ini
Ciri-ciri Perilaku Resiko pada Remaja Usia 13-25 Tahun dan Cara Menghadapinya

Remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang rentan dengan berbagai tantangan perkembangan. Salah satunya adalah kecenderungan melakukan perilaku risiko yang membahayakan diri sendiri dan lingkungan. Menurut penelitian, sekitar 50% remaja Indonesia pernah melakukan perilaku risiko. Oleh karena itu penting bagi kita sebagai orang tua, guru, dan masyarakat untuk memahami perilaku ini agar bisa mengantisipasi dan mengatasinya secara bijaksana.

Apa Itu Perilaku Risiko Remaja?

Perilaku risiko remaja merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan remaja yang berpotensi membahayakan kesehatan fisik dan mentalnya. Perilaku ini biasanya muncul pada rentang usia 13-25 tahun. Beberapa contoh perilaku risiko remaja antara lain:

  • Merokok dan mengonsumsi alkohol atau narkoba
  • Melakukan hubungan seks bebas
  • Terlibat tawuran dan vandalisme
  • Melakukan self-harm dan bunuh diri
  • Terjerat kriminalitas dan pornografi
  • Kecanduan game dan judi online

Menurut penelitian, perilaku risiko remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pengaruh teman sebaya yang kurang baik, kurangnya kasih sayang orang tua, terpapar konten negatif di media sosial, hingga kondisi ekonomi keluarga. Apabila perilaku ini dibiarkan, akan berdampak buruk bagi perkembangan remaja itu sendiri dan lingkungannya.

Mengapa Remaja Rentan Melakukan Perilaku Risiko?

Ada beberapa alasan mengapa remaja rentan terjerumus dalam perilaku risiko, antara lain:

Baca Juga!  5 Teori Administrasi Menurut Stephen P. Robbins dan Kendala dalam Penjernihan Tipologi

1. Ingin diterima dalam kelompok

Remaja memiliki kebutuhan yang kuat untuk diterima dalam kelompok sebayanya. Agar bisa diterima, terkadang mereka rela melakukan hal-hal negatif seperti merokok, minum alkohol, bahkan mengonsumsi narkoba.

2. Ingin tampil beda dan memberontak

Sebagian remaja melakukan perilaku risiko karena ingin tampil beda dan memberontak terhadap aturan yang membatasi mereka. Misalnya, mereka sengaja bertato, bertindik, atau merusak fasilitas umum untuk mencari perhatian.

3. Mencari sensasi dan tantangan baru

Rasa ingin tahu yang besar membuat remaja tertarik mencoba hal-hal baru yang menantang dan ekstrem meski berisiko, seperti balapan liar atau parkour.

4. Menghadapi tekanan psikologis

Beberapa remaja melakukan perilaku risiko akibat menghadapi tekanan psikologis seperti stress, depresi, kesepian, hingga kekerasan dalam rumah tangga. Mereka melihat perilaku risiko sebagai pelampiasan atau pelarian.

5. Kurangnya pengawasan lingkungan

Longgarnya pengawasan dari orang tua dan lingkungan membuat remaja leluasa untuk mencoba hal-hal negatif tanpa kontrol yang memadai. Misalnya orang tua yang sibuk bekerja sehingga anak kurang mendapat perhatian.

Nah, itu dia beberapa faktor penyebab remaja rentan terhadap perilaku risiko. Selanjutnya akan kita bahas bagaimana mengatasi perilaku risiko ini secara bijaksana.

4 Cara Mengatasi Perilaku Risiko Remaja Secara Positif

Berikut ini adalah 4 cara yang bisa dilakukan secara positif untuk mencegah dan menangani perilaku risiko pada remaja:

1. Ciptakan lingkungan yang mendukung

Hal pertama yang bisa dilakukan adalah menciptakan lingkungan di sekitar remaja yang mendukung tumbuh kembang positif. Misalnya dengan:

  • Membatasi akses konten negatif di internet dan media sosial
  • Mengawasi pergaulan remaja agar terhindar dari pengaruh teman yang kurang baik
  • Menyediakan fasilitas positif seperti pusat rekreasi dan konseling remaja
Baca Juga!  7 Jus Buah Untuk Penderita Asam Lambung

Dengan lingkungan yang kondusif, perilaku risiko remaja bisa dicegah sedini mungkin.

2. Tingkatkan komunikasi dengan remaja

Komunikasi yang intensif dan terbuka dengan remaja sangat penting untuk memahami apa yang mereka rasakan dan alami. Jalin hubungan kepercayaan agar remaja merasa nyaman bercerita tentang masalahnya. Dengan begitu orang tua dan guru bisa memberi dukungan, nasihat, dan solusi yang tepat untuk mencegah perilaku risiko.

3. Beri pendidikan pencegahan sejak dini

Pendidikan pencegahan perilaku risiko perlu diberikan sejak usia dini agar remaja memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan menghadapi tantangan. Misalnya pendidikan agama, bimbingan konseling, pelatihan kepemimpinan, dan sebagainya. Sekolah dan komunitas remaja bisa menyelenggarakan kegiatan ini secara rutin.

4. Libatkan remaja dalam kegiatan positif

Salah satu cara efektif mencegah perilaku risiko adalah dengan melibatkan remaja ke dalam kegiatan positif yang sesuai minat dan bakatnya. Misalnya kegiatan olahraga, seni budaya, aktivisme sosial, hingga kewirausahaan. Dengan kesibukan positif ini, remaja tak punya waktu untuk terlibat hal-hal negatif.

Itu dia 4 cara mengatasi perilaku risiko remaja secara bijaksana. Dukungan penuh dari berbagai pihak diperlukan agar upaya ini bisa berjalan optimal. Semoga informasi ini bisa menginspirasi kita untuk membantu remaja tumbuh dengan sehat dan positif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *